REPUBLIKA.CO.ID, TUBAN – Tasmuri, seorang petani jagung di Tuban, Jawa Timur, girang tahun ini. Ketua Kelompok Tani (Poktan) Ngudi Makmur itu merasakan banyak perbedaan tahun ini. Lahan seluas 631,7 hektare dengan sekitar 750 petani penggarap yang dinaungi kelompok tani itu sukses menjalankan panen akbar pada Mei lalu.
Presiden Prabowo Subianto hadir dalam kegiatan panen raya jagung serentak kuartal I tersebut. Ia disambut antusias oleh para petani dan kelompok tani setempat.
“Kalau Pak Presiden Prabowo ke sini, saya melihatnya sangat-sangat senang. Karena tidak pernah dikunjungi Pak Presiden di wilayah kami, baru ini, saya sangat semangat dan senang,” ujar Tasmuri di sela acara yang berlangsung pada 16 Mei tersebut
Tasmuri menilai kebijakan pemerintah saat ini mulai dirasakan petani, terutama terkait kemudahan memperoleh pupuk dengan harga yang lebih terjangkau. “Kalau sekarang banyak perubahan. Kalau dulu, masalah pupuk, tetap pupuk yang diandalkan petani. Yang dulu sangat sulit, ngantri-ngantri. Ada perubahan, (oleh) Pak Prabowo harganya diturunkan. Yang dulu lebih mahal, sekarang turun dan pelayanannya sangat sederhana, ya, mudah dicari,” tuturnya.
Poktan Ngudi Makmur sendiri mengelola lahan seluas 631,7 hektare dengan sekitar 750 petani penggarap. Meski kondisi pupuk dinilai makin membaik, Tasmuri berharap pemerintah dapat membantu kebutuhan pengeboran air untuk irigasi karena wilayah pertanian mereka masih sangat bergantung pada hujan.
“Karena di sini, wilayah saya ini kan kalau kadang tidak ada hujan, sudah gagal yang panen kedua. Itu petani rugi sangat besar, karena jagungnya tidak bisa jadi,” ungkapnya.
Selain persoalan irigasi, Tasmuri juga mengapresiasi membaiknya harga jual jagung yang kini mencapai lebih dari Rp6.000 per kilogram dan dinilai mampu membantu petani menutup biaya produksi.
“Kalau jual hasil tani, alhamdulillah sudah baik. Dulu harga jagung hanya Rp3.800-Rp4.000. Tapi sekarang sampai 6 (ribu) lebih. Sekarang sampai 6 (ribu) lebih, Rp6.200 per kilo. Berarti petani sangat gembira, karena biayanya banyak,” katanya.
Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Wono Lestari, Sudarlim, berharap kehadiran Presiden dapat membawa perhatian lebih bagi petani hutan. “Kami petani hutan itu 90 persen di Tuban itu menanam jagung, harapannya ke depannya bisa mendapat perhatian yang lebih atau paling tidak sama dengan petani yang ada di luar kawasan hutan,” ujar Sudarlim.
Ia berharap pemerintah memberikan dukungan fasilitas pascapanen seperti alat pengering agar petani dapat memenuhi standar Bulog dan memperoleh harga jual maksimal. “Yang kita harapkan ada fasilitas untuk proses pengolahannya pascapanen, sehingga kita bisa mengakses Bulog dan mendapatkan harga maksimal,” tuturnya.
Sudarlim juga optimistis program swasembada pangan yang dicanangkan Presiden Prabowo dapat berjalan sukses dan memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan petani.
“Dengan kehadiran Pak Presiden, saya optimis kesejahteraan petani, bukan hanya petani hutan, tapi program swasembada pangan yang dicanangkan beliau akan sukses,” tuturnya.
Selain fasilitas pascapanen, Sudarlim berharap pemerintah dapat membantu pembangunan irigasi atau sumur dalam agar petani dapat meningkatkan frekuensi tanam dan mengurangi risiko gagal panen.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan Indonesia telah mencapai swasembada pada delapan komoditas pangan strategis. Jagung adalah salah satunya. Selain jagung dan beras, komoditas lain yang juga tercapai swasembadanya adalah cabai besar, cabai rawit, gula konsumsi, daging ayam, telur ayam, dan bawang merah.
Menurutnya, capaian ini membuat Indonesia tidak lagi bergantung pada impor untuk komoditas-komoditas tersebut, dan sebagian di antaranya bahkan telah memasuki pasar ekspor.
Amran menegaskan bahwa stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) saat ini telah melampaui 5 juta ton. Angka tersebut diklaim sebagai yang tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.
Selain swasembada, Mentan juga menyoroti indikator kinerja lainnya. Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat mencapai 127,73 pada Mei 2026, sementara Produk Domestik Bruto (PDB) sektor pertanian mengalami pertumbuhan sebesar 5,74 persen.
Capaian tersebut dinilai tidak terlepas dari dukungan kebijakan pemerintah. Beberapa di antaranya adalah kenaikan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah, perbaikan tata kelola distribusi pupuk, serta penurunan harga pupuk subsidi. Amran menegaskan pemerintah akan terus berupaya meningkatkan produksi pangan, menjaga stabilitas harga, dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa sektor pertanian menjadi fondasi utama pembangunan nasional. Dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (20/7), Presiden menyatakan bahwa di tengah gejolak global, Indonesia berhasil mencatat berbagai capaian strategis.
"Setiap negara, setiap perekonomian itu pasti diukur. Kita bertanya, apakah bangsa itu bisa memberi pangan, memberi makan untuk rakyatnya. Itu yang paling mendasar. Untuk apa kita merdeka kalau kita tidak bisa memberi yang paling dasar dari sebuah peradaban, yaitu pangan," ujar Presiden.
Presiden menekankan bahwa tidak ada peradaban yang mampu bertahan tanpa ketahanan pangan. Oleh karena itu, pemerintah menempatkan pembangunan pertanian sebagai prioritas utama melalui penyediaan lahan produktif, pengelolaan air, kebijakan yang berpihak kepada petani, serta ketersediaan pupuk yang terjangkau.
Presiden juga menyampaikan bahwa berbagai kebijakan yang dijalankan Kabinet Merah Putih telah membuahkan hasil nyata. "Kita sudah swasembada delapan komoditas pangan. Cadangan beras kita tertinggi selama sejarah NKRI. Nilai Tukar Petani kita tertinggi selama sejarah NKRI," tegasnya. Capaian ini menjadi bukti kemampuan Indonesia memperkuat ketahanan pangan di tengah ancaman krisis pangan global akibat konflik dan perubahan iklim.

2 hours ago
4

















































