Rilis Data Ekonomi Pekan Depan Diprediksi Tekan Rupiah hingga Rp 18.250

11 hours ago 7

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejumlah data ekonomi akan dirilis pada pekan depan, baik oleh Badan Pusat Statistik (BPS) maupun Bank Indonesia (BI). Data-data tersebut diperkirakan menunjukkan pelemahan sehingga berpotensi menekan nilai tukar rupiah hingga mendekati level Rp 18.250 per dolar AS.

“Pada minggu depan, pasar akan melihat banyaknya data yang akan dirilis, terutama neraca perdagangan, yang kemungkinan pada Juni akan mengalami defisit. Ini akan memengaruhi rupiah ke depan,” ujar Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya kepada wartawan, Ahad (2/8/2026).

Selain itu, Ibrahim memprediksi inflasi Juli 2026 akan melandai karena harga kebutuhan pokok relatif turun di tengah intervensi pasar. Ia memperkirakan inflasi Juli 2026 berada di bawah 3,34 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Data ekonomi lain yang menjadi perhatian adalah posisi cadangan devisa Indonesia. Ibrahim memprediksi cadangan devisa pada Juli 2026 akan turun dari posisi Juni 2026 sebesar 145,6 miliar dolar AS. Cadangan devisa tersebut diperkirakan hanya cukup untuk membiayai kebutuhan impor selama 4,9 bulan.

“Artinya itu tidak sesuai dengan standar internasional bahwa negara yang mempunyai peringkat utang BBB harus memiliki cadangan devisa untuk lima bulan,” kata dia.

BPS dijadwalkan merilis data neraca perdagangan Indonesia dan Indeks Harga Konsumen (IHK) atau inflasi pada Senin (3/8/2026) pukul 11.00 WIB. Sementara itu, data cadangan devisa biasanya dirilis BI setiap tanggal 7 atau 8 setiap bulan.

Di samping itu, rilis data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) juga diperkirakan memengaruhi pergerakan rupiah. Ibrahim memprediksi IKK Juli 2026 kembali menurun. Berdasarkan catatannya, IKK turun dari 129 pada Januari 2026 menjadi 117,8 pada Juni 2026.

“Ada kemungkinan besar pada Juli 2026 turun menjadi 116,6,” prediksinya.

Sementara itu, data Prompt Manufacturing Index (PMI) Manufaktur Indonesia juga diperkirakan masih berada pada zona kontraksi, yakni di bawah level 50, meski tetap di atas angka 46,9. Menurut Ibrahim, kondisi tersebut mengindikasikan penurunan aktivitas sektor manufaktur yang berdampak pada penyerapan tenaga kerja.

“Ini mengindikasikan bahwa data yang akan dirilis oleh BPS maupun BI pada minggu depan akan berpengaruh terhadap pergerakan mata uang rupiah. Rupiah kemungkinan besar akan melemah, bisa saja mendekati level Rp 18.250 sampai Rp 18.300-an,” ungkapnya.

Data IKK biasanya dirilis BI sekitar tanggal 8 hingga 10 setiap bulan atau pada pekan kedua. Sementara itu, data PMI-BI diterbitkan setiap triwulan. Untuk triwulan II 2026, data tersebut diperkirakan telah dirilis sekitar 17 Juli 2026.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research