
Oleh: Mia Yolanda Siregar Guru SMPN 1 Tebing Tinggi
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Deru kendaraan di jalanan Kota Tebing Tinggi kerap berpadu dengan suara ketukan meja dan bisikan rasa ingin tahu di ruang-ruang kelas kami. Setiap kali saya melangkah masuk, pemandangan yang menyambut selalu sama: anak-anak didik saya, generasi yang lahir di tengah kepungan gawai, begitu lihai mempermainkan layar sentuh untuk mencari hiburan instan. Di satu sisi, kecakapan digital mereka sungguh mengagumkan. Namun, di sisi lain, saya menyadari adanya sekat tak kasat mata yang perlahan menjauhkan sebagian dari mereka dari realitas kehidupan di sekelilingnya.
Sebagai guru Informatika, kegelisahan itu kerap menjelma menjadi sebuah pertanyaan: untuk apa anak-anak begitu fasih mengenal teknologi jika jemari yang sama belum terlatih menggunakan teknologi sebagai sarana belajar, berkolaborasi, dan memecahkan persoalan nyata? Bagi saya, pembelajaran informatika tidak hanya tentang menguasai perangkat digital, tetapi juga tentang menumbuhkan karakter, empati, dan kecintaan terhadap lingkungan tempat mereka tumbuh. Sebab, tanpa pondasi itu, kemajuan teknologi justru dapat membuat generasi muda kehilangan arah dan identitasnya.
Ketika Layar Itu Menyala
Suatu pagi, sebelum pembelajaran dimulai, saya mengajukan sebuah pertanyaan sederhana kepada murid kelas VII.
“Anak-anak, siapa di antara kalian yang di rumahnya tidak memiliki laptop atau komputer?”
Suasana kelas mendadak hening. Beberapa siswa saling berpandangan. Hingga akhirnya, sebuah tangan terangkat perlahan. Di hadapan saya duduk seorang murid pendiam—sebut saja ia si Ramah. Keterbatasan ekonomi keluarganya membuat ia hampir tidak pernah menyentuh komputer. Mengoperasikan tetikus maupun mengetik menggunakan keyboard masih menjadi hal yang asing baginya. Di tengah teman-temannya yang mulai akrab dengan dunia digital, ia sering merasa tertinggal dan kurang percaya diri.
Tak lama kemudian, sekolah kami menerima bantuan Interactive Flat Panel (IFP) dari Bapak Presiden RI sebagai bagian dari upaya pemerintah mendukung transformasi pembelajaran berbasis teknologi. Kehadiran perangkat ini membawa semangat baru ke ruang kelas. Bagi sebagian murid, terutama mereka yang belum memiliki akses terhadap komputer di rumah, layar interaktif itu menjadi kesempatan pertama untuk belajar menggunakan teknologi secara langsung.
Hari itu, saya mengajak murid mengenal dasar-dasar komputer melalui tampilan visual yang interaktif. Mereka bergantian menyentuh layar, mencoba mengenali fungsi perangkat komputer, menyusun langkah-langkah algoritma sederhana, hingga menyelesaikan tantangan berpikir komputasional secara berkelompok. Tidak ada lagi murid yang hanya menjadi penonton. Semua memperoleh kesempatan untuk mencoba, berdiskusi, dan belajar bersama.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

7 hours ago
3















































