Amalia Zahira, CNBC Indonesia
23 January 2026 13:55
Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia tercatat masih sangat bergantung pada impor ampas dan sisa industri makanan atau kelompok HS 23 sepanjang Januari-November 2025. Nilai impornya mencapai sekitar US$ 3,16 miliar, atau setara sekitar Rp 53,2 triliun dengan asumsi kurs Rp 16.827/US$1.
Angka tersebut menjadikan HS 23 masuk dalam 20 besar komoditas nonmigas dengan posisi peringkat ke-14 secara nasional, sebagaimana tercantum dalam publikasi Perkembangan Perdagangan Luar Negeri Indonesia yang dirilis melalui portal Satu Data Kementerian Perdagangan.
Lonjakan kebutuhan bahan baku pakan ternak menjadi salah satu pendorong utama tingginya impor kelompok ini, khususnya bungkil kedelai, yang selama ini menjadi tulang punggung industri pakan unggas dan peternakan di dalam negeri.
Brasil Dominan, Kuasai Lebih dari 45% Nilai Impor HS 23
Dari total impor HS 23 tersebut, Brasil masih menjadi pemasok terbesar bagi Indonesia. Sepanjang Januari-November 2025, nilai impor ampas dan sisa industri makanan dari Brasil mencapai sekitar US$ 1,44 miliar, atau setara 45,4% dari total nilai impor nasional untuk kelompok tersebut.
Data Kementerian Perdagangan dan Badan Pusat Statistik (BPS) ini menegaskan posisi Brasil sebagai mitra utama Indonesia dalam pasokan ampas industri makanan pada 2025.
Hampir seluruh impor ampas dan sisa industri makanan dari Brasil didominasi oleh bungkil kedelai (HS 23040090), dengan kontribusi lebih dari 95% terhadap total nilai impor ampas dan sisa industri makanan asal negara tersebut.
Volume Bungkil Kedelai Brasil Turun, Harga Masih Tinggi
Secara volume, impor bungkil kedelai Brasil justru mengalami penurunan. Pada 2024, volume impor tercatat sebesar 3,95 miliar kilogram, sementara pada 2025 turun menjadi 3,66 miliar kilogram. Artinya, terjadi penurunan sekitar 7,3% secara tahunan (year-on-year).
Meski volume menurun, harga bungkil kedelai Brasil masih berada di level relatif tinggi, yakni sekitar US$ 392 per ton atau US$ 0,39 per kilogram. Dengan asumsi kurs Rp16.827/US$1, harga ini setara sekitar Rp 6.600 per kilogram.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan biaya impor pakan ternak masih cukup signifikan, meskipun dari sisi volume mulai terjadi penyesuaian.
Indonesia Impor Bungkil Kedelai, Tapi Ekspor Bungkil Sawit
Menariknya, di tengah ketergantungan Indonesia sebagai importir utama bungkil kedelai untuk pakan unggas, Indonesia justru aktif mengekspor bungkil sawit sebagai bahan pakan ternak ke pasar global. Dalam struktur ekspor tersebut, Selandia Baru dan Belanda tercatat sebagai dua negara tujuan utama.
Cermin Struktur Industri Pakan Indonesia
Kondisi ini mencerminkan struktur industri pakan Indonesia yang unik. Di satu sisi, Indonesia memiliki keunggulan komparatif sebagai produsen bungkil sawit murah dan melimpah untuk pasar ekspor. Namun di sisi lain, Indonesia masih sangat tergantung pada bungkil kedelai impor, khususnya dari Brasil, untuk memenuhi kebutuhan pakan domestik.
Bungkil kedelai impor berada di kisaran Rp 6.600 per kg, sementara bungkil sawit ekspor hanya sekitar Rp 2.000 hingga Rp 2.200 per kg. Dengan perbandingan tersebut, harga bungkil kedelai berada di kisaran tiga kali lipat harga bungkil sawit.
Ke depan, dinamika harga global, kebijakan perdagangan, serta inovasi substitusi bahan baku pakan akan menjadi faktor kunci dalam menentukan arah perdagangan ampas dan sisa industri makanan Indonesia.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(mae/mae)














































