Pemilik Emas Tegang Menunggu "Sabda" Amerika, Harga Bisa Berbalik Arah

4 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas masih melandai di tengah perang Iran vs versus Israel- Amerika Serikat (AS).

Merujuk Refinitiv, harga emas ditutup di posisi US$ 5005,25 pada perdagangan Senin (16/3/2026) atau turun 0,27%.

Pelemahan ini memperpanjang derita emas yang sudah ambruk 3,6% dalam empat hari beruntun.

Pada hari ini, Selasa (17/3/2026) pukul 06.51 WIB, harga emas diperdagangkan di US$ 5013,2 per troy ons atau menguat 0,16%.

Harga emas turun setelah para pelaku pasar mulai mengurangi ekspektasi bahwa bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) akan segera memangkas suku bunga. Perubahan ekspektasi ini mengguncang sentimen bullish terhadap emas.

Penurunan ini mencerminkan perubahan yang lebih luas di pasar global, di mana kekhawatiran inflasi dan ekspektasi suku bunga menjadi faktor utama yang memengaruhi pasar.

The Fed akan mengelar rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada Selasa dan Rabu pekan ini (16-17/3/2026) waktu AS dan akan mengumumkan kebijakan suku bunga pada Rabu atau Kamis dini hari waktu Indonesia.

Sebelumnya pasar memperkirakan The Fed akan menurunkan suku bunga. Namun, ekonomi AS yang kuat dan inflasi yang masih tinggi membuat peluang pemangkasan suku bunga menjadi lebih kecil. Suku bunga yang tinggi membuat emas menjadi kurang menarik bagi investor.

Harga minyak saat ini berada di atas US$100 per barel akibat ketegangan di Timur Tengah. Biaya energi yang tinggi membuat inflasi tetap tinggi dan mengurangi kemungkinan The Fed menurunkan suku bunga.

Penguatan dolar AS membuat emas menjadi lebih mahal di pasar internasional. Sementara itu, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS juga meningkat, sehingga mengurangi permintaan emas dalam jangka pendek.


Risiko geopolitik dan pembelian emas oleh bank sentral masih menjadi faktor pendukung harga emas. Namun pergerakan jangka pendek akan sangat dipengaruhi oleh sinyal suku bunga dan inflasi.

Peran emas sebagai safe haven tetap kuat, meskipun faktor jangka pendek dipengaruhi oleh kebijakan moneter dan kekuatan mata uang.

Meski harga sedang turun, situasinya tidak sederhana. Perubahan prospek suku bunga, tekanan inflasi, serta risiko makroekonomi global semuanya menarik pasar ke arah yang berbeda. Untuk saat ini, perjalanan harga emas masih sangat bergantung pada keputusan bank sentral dan sinyal ekonomi global.

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research