Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
17 March 2026 11:25
Jakarta, CNBC Indonesia - Eskalasi ketegangan militer yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran di Timur Tengah pada 28 Februari 2026 telah memicu pergeseran struktural dalam aliran modal global di mana beberapa hari sebelum perang, market sudah sedikit kehabisan bensin untuk memompa kenaikan harga.
Berdasarkan data pergerakan pasar terhitung sejak 27 Februari hingga 17 Maret 2026, terjadi perubahan kinerja yang signifikan pada empat instrumen utama yang dipantau secara ketat oleh pelaku pasar yaitu Bitcoin, nilai tukar US Dolar, emas, dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga pukul 10.00 WIB.
Pergerakan sejak perang menunjukkan anomali bila dikomparasikan dengan pola historis saat terjadi krisis geopolitik di masa lalu.
Lonjakan Permintaan pada Aset Kripto
Di luar ekspektasi pasar tradisional, Bitcoin (BTC) justru mencatatkan performa paling solid selama periode krisis ini. Berdasarkan data perdagangan, harga Bitcoin bergerak naik secara bertahap dari posisi US$ 65.540,81 pada 27 Februari 2026 menjadi US$ 75.269,96 pada 17 Maret 2026.
Apresiasi yang mencapai lebih dari 14,8% ini mengindikasikan adanya pergeseran perspektif dari sebagian manajer investasi dan institusi keuangan.
Dalam situasi di mana sistem keuangan tradisional dinilai rentan terhadap gangguan geopolitik dan kebijakan pembatasan modal, Bitcoin mulai diposisikan sebagai alternatif store of value. Sifatnya yang terdesentralisasi memberikan ruang likuiditas yang tidak terikat pada satu otoritas moneter negara tertentu.
Penguatan Dolar AS sebagai Aset Pelindung
Pada pasar valuta asing, mata uang Dolar AS tetap secara konsisten mempertahankan fungsinya sebagai aset safe-haven paling likuid. Hal ini secara langsung tecermin pada pergerakan nilai tukar Rupiah (USD/IDR).
Rupiah mengalami depresiasi terukur dari level Rp 16.760 per dolar AS menjadi Rp 16.975 per dolar AS, yang menandakan penguatan indeks Dolar sebesar 1,28%.
Dalam kondisi ketidakpastian rantai pasokan logistik dunia, arus modal institusional secara rasional berpindah menuju instrumen uang tunai berdenominasi Dolar AS untuk menjaga stabilitas neraca mereka karena pada saat ini kita tidak boleh lupa bahwa terdapat perjanjian Petro-Dolar, sehingga penguatan harga minyak akan berimbas pada naiknya DXY.
Tekanan Mekanis pada Instrumen Emas
Pelemahan nilai justru dialami oleh instrumen logam mulia. Emas (XAU), yang secara historis memiliki korelasi positif ketika terjadi konflik bersenjata, kali ini tercatat turun 4,83% dari level US$ 5.277,29 menjadi US$ 5.022,17 per troy ounce.
Koreksi pada harga komoditas ini didorong oleh dua mekanisme pasar. Pertama, emas pada 2 Maret 2026 mengalami kenaikan hingga ke level US$ 5.400 sampai akhirnya harus mengalami penurunan hingga saat ini.
Kedua, kenaikan ini bisa dikategorikan sebagai sell on news mengingat pergerakan harga XAU/USD saat ini sudah sangat tinggi sejak tahun 2022 silam, walaupun mengalami penurunan perlu diingat bahwa bank sentral dunia masih mengakumulasi cadangan emas fisik mereka dan juga emas yang beredar sudah semakin menipis di market.
Arus Keluar Modal Asing Menekan IHSG
Di antara keempat aset tersebut, pasar ekuitas domestik menanggung beban koreksi yang terdalam. IHSG terkoreksi tajam dari level 8.235,48 pada akhir Februari menjadi 7.079,48 pada pertengahan Maret 2026.
Penurunan indeks sebesar 14,03% ini merupakan cerminan nyata dari tingginya arus keluar modal asing atau foreign outflow dari aset berisiko tinggi di emerging markets.
Ketegangan militer di kawasan Timur Tengah memunculkan kekhawatiran atas potensi gangguan di Selat Hormuz yang merupakan jalur distribusi minyak esensial dunia sekitar lebih dari 20% supply minyak dunia.
Bagi struktur ekonomi makro Indonesia, lonjakan harga energi global berisiko memperlebar defisit transaksi berjalan akibat membengkaknya biaya impor minyak dan gas. Risiko inflasi domestik yang mengikutinya menyebabkan instrumen ekuitas dalam negeri dihindari investor untuk sementara waktu.
Bahkan dikabarkan potensi APBN mengalami defisit lebih dari 3% terhadap PDB telah menjadi opsi apabila perang di Selat Hormuz berkepanjangan karena kenaikan $1 pada harga minyak sama dengan defisit tambahan sekitar US$ 6-8 miliar terhadap APBN.
Rekalibrasi Alokasi Portofolio Global
Dinamika yang terjadi pada awal 2026 ini memperlihatkan berjalannya proses rekalibrasi alokasi portofolio investasi berskala global. Pasar berupaya melakukan penyeimbangan kembali profil risikonya dengan mendistribusikan likuiditas ke aset alternatif seperti kripto serta instrumen tunai tradisional Dolar AS.
Walaupun saat ini kripto sedang berada di tengah bear market akibat siklus 4 year cycle, namun pergerakan harga kali ini dikarenakan oleh inflow IBIT tengah mengalami kenaikan beberapa hari ini sejak dimulainya perang terjadi di Timur Tengah.
Sebaliknya, aset berbasis ekuitas di Indonesia harus menyerap tekanan ganda dari sentimen penghindaran risiko makro, ancaman inflasi energi, serta belum selesainya sentimen buruk akibat MSCI pada Januari lalu.
Sementara fungsi lindung nilai dari emas sementara masih menunggu pergerakan harga untuk menuju ke price discovery selanjutnya.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)
Addsource on Google














































