Hari Terakhir Sebelum Libur Panjang, Begini Prediksi Arah IHSG

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Hari ini, Selasa (17/3/2026) akan menjadi hari terakhir pasar keuangan RI buka sebelum libur panjang Nyepi dan Lebaran Idul Fitri 2026.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tampaknya masih akan bergerak terbatas karena transaksi semakin sepi dan masih banyak sentimen negatif.

Pada perdagangan kemarin Senin (16/3/2026), IHSG mencatat koreksi 1,61% ke level 7.022,28. Jika dihitung sejak awal tahun, indeks pasar saham Indonesia tersebut telah mengalami koreksi sekitar 18,79%, mencatat yang paling buruk se-Asia.

Dari sisi eksternal, sentimen yang memengaruhi pergerakan pasar saham Indonesia sebenarnya tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di berbagai bursa regional.

Salah satu faktor utamanya adalah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Pelemahan IHSG pun dinilai tidak berasal dari satu faktor tunggal, melainkan merupakan akumulasi dari sejumlah sentimen negatif yang muncul hampir bersamaan.

Konflik di Timur Tengah, misalnya, tidak hanya memicu lonjakan harga energi, tetapi juga meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan global.

Di sisi lain, pasar domestik juga dibayangi oleh isu terkait MSCI mengenai struktur pasar Indonesia, serta penurunan outlook dari sejumlah lembaga pemeringkat global.

Dalam kondisi tersebut, pasar dinilai belum memiliki katalis yang cukup kuat untuk menahan tekanan seperti yang pernah terjadi pada periode sebelumnya.

Pergerakan saham-saham konglomerasi pun menjadi relatif terbatas seiring meningkatnya perhatian regulator terhadap dinamika pasar yang berkaitan dengan isu MSCI.

Selain itu, tekanan juga datang dari saham berkapitalisasi besar, terutama sektor perbankan, setelah outlook beberapa bank mengalami penurunan akibat meningkatnya persepsi risiko, baik dari sisi politik maupun kondisi makroekonomi.

Dengan berbagai sentimen tersebut, pasar dinilai masih kekurangan katalis yang cukup kuat untuk mendorong IHSG berbalik arah dalam waktu dekat.

Ke depan, jika harga energi tetap tinggi dan pemerintah perlu melakukan penyesuaian kebijakan terkait BBM atau defisit fiskal, tekanan terhadap rupiah, pasar obligasi, serta IHSG berpotensi berlanjut.

Namun, apabila ketegangan geopolitik mereda dan harga minyak kembali stabil di bawah US$100 per barel, sebagian tekanan terhadap pasar keuangan domestik berpotensi mereda dan membuka peluang pemulihan IHSG dari area 7.000.

Dari sisi teknikal, level 7.000 dipandang sebagai area support penting bagi IHSG.

Jika level tersebut ditembus, indeks berpotensi melanjutkan koreksi menuju 6.890,

Dalam jangka pendek, IHSG diperkirakan bergerak dalam rentang 6.900 hingga 7.150 pada perdagangan berikutnya.

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(mae/mae)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research