Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
16 March 2026 13:50
Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan di kawasan Teluk semakin memanas seiring perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran yang terus berlanjut.
Konflik ini tak lagi hanya berdampak pada target-target militer, tetapi juga mulai mengganggu jalur pelayaran sipil di sekitar Selat Hormuz, salah satu titik paling penting bagi perdagangan energi dunia.
Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai jalur vital bagi perdagangan energi dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global dan sebagian besar pengiriman LNG dari kawasan Teluk melintas melalui jalur ini.
Situasi jadi makin berbahaya setelah Garda Revolusi Iran (IRGC) memperingatkan bahwa kapal yang melintasi selat sempit tersebut dapat menjadi target serangan mereka.
Ancaman itu kini bukan lagi sekadar pernyataan. Sejak serangan militer AS-Israel ke Iran dimulai, sedikitnya 22 kapal sipil dilaporkan telah diserang, mulai dari kapal tanker, kapal kontainer, hingga bulk carrier yang dilakukan oleh Iran.
Foto: Reuters
Institute for the Study of War & AEI Critical Threats Project and MarineTraffic
Data yang kumpulkan oleh Institute for the Study of War dan AEI Critical Threats Project menunjukkan serangan terhadap kapal sipil terjadi berulang kali dalam beberapa hari terakhir. Ini menandakan risiko keamanan di jalur pelayaran Teluk terus meningkat. Kondisi itu terjadi bahkan setelah Presiden AS Donald Trump mengklaim perang yang dimulai dua pekan lalu telah dimenangkan.
Serangan terbaru bahkan menunjukkan eskalasi yang lebih serius. Pada Kamis (12/3/2026), dua kapal tanker dilaporkan terbakar di pelabuhan Irak. Insiden ini menjadi salah satu sinyal bahwa ancaman terhadap aktivitas pelayaran komersial kini semakin nyata dan sulit diabaikan.
Bukan Hanya Rudal, Iran Punya Banyak Cara Menyerang
Ancaman terhadap kapal sipil di kawasan Teluk tidak hanya datang dari satu jenis senjata. Iran dinilai memiliki berbagai alat yang dapat digunakan untuk mengganggu pelayaran di sekitar Selat Hormuz.
Salah satunya adalah drone atau unmanned aerial vehicles (UAV). Dalam setidaknya dua serangan terhadap kapal tanker sejak perang meletus, otoritas maritim dan para analis menyebut drone laut maupun udara mulai digunakan.
Jenis senjata ini dinilai berbahaya karena relatif murah, bisa diluncurkan dalam jumlah banyak, dan sulit dihadapi kapal sipil yang tidak memiliki perlindungan militer.
Foto: Kapal kargo berbendera Thailand, Mayuree Naree, diselimuti asap hitam di Selat Hormuz, 11 Maret 2026. (via REUTERS/ROYAL THAI NAVY)
Kapal kargo berbendera Thailand, Mayuree Naree, diselimuti asap hitam di Selat Hormuz, 11 Maret 2026. (ROYAL THAI NAVY/Handout via REUTERS)
Selain itu, Iran juga dinilai berpotensi menebar ranjau laut di kawasan selat. Intelijen AS memperkirakan Teheran memiliki persediaan hingga 6.000 ranjau, mulai dari ranjau hanyut, limpet mine, bottom mine, hingga moored mine. Jika benar digunakan, ranjau-ranjau ini bisa menjadi ancaman besar bagi kapal dagang maupun tanker yang melintas.
Cara lain yang juga menjadi perhatian adalah penggunaan kapal tanpa awak bermuatan peledak. Kapal kecil semacam ini dirancang untuk mendekati sasaran di air, lalu meledak. Serangan seperti ini dinilai sulit dideteksi lebih awal dan sangat berbahaya bagi kapal sipil.
Di luar itu, Iran juga memiliki rudal anti-kapal yang ditempatkan di sepanjang garis pantainya maupun di pulau-pulau yang menghadap ke jalur pelayaran. Posisi ini membuat kapal-kapal yang melintasi kawasan tersebut berada dalam jangkauan serangan dari daratan.
Jalur Energi Dunia Kian Rentan
Meningkatnya serangan terhadap kapal sipil membuat ancaman terhadap Selat Hormuz tak lagi bersifat teoritis. Jika gangguan terus berlanjut, dampaknya bisa meluas ke berbagai sektor, mulai dari distribusi minyak mentah, LNG, biaya asuransi kapal, ongkos logistik, hingga harga energi global.
Dengan kata lain, konflik ini tidak hanya menjadi persoalan keamanan regional, tetapi juga berpotensi mengguncang stabilitas perdagangan dunia. Ketika kapal sipil mulai menjadi sasaran, risiko yang muncul bukan lagi terbatas pada perang antarnegara, melainkan juga pada terganggunya denyut utama pasokan energi global.
Berikut kapal-kapal sipil yang dilaporkan diserang sejak konflik meletus.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google














































