amalia Zahira, CNBC Indonesia
16 March 2026 11:25
Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu eksportir energi terbesar di dunia. Pada 2025, hampir 4 miliar barel minyak AS dikirim ke berbagai negara. Hal ini menggambarkan betapa pentingnya peran AS dalam perdagangan energi global.
Namun menariknya, pembeli terbesar minyak AS bukanlah negara ekonomi raksasa seperti China atau Jepang, melainkan sebuah negara di Eropa.
Berdasarkan data U.S. Energy Information Administration (EIA) yang dihimpun oleh Visual Capitalist, Belanda menjadi importir terbesar minyak AS pada 2025.
Belanda Jadi Pembeli Terbesar
Belanda menempati posisi teratas dengan impor sekitar 419 juta barel minyak AS pada 2025. Peningkatan ini didorong oleh melonjaknya permintaan energi Eropa setelah berkurangnya pasokan dari Rusia sejak invasi ke Ukraina pada 2022.
Sebagian besar minyak tersebut masuk melalui Pelabuhan Rotterdam, salah satu pusat energi terbesar di dunia. Pelabuhan ini menjadi tempat pengolahan minyak sekaligus titik distribusi ke berbagai negara Eropa.
Amerika Latin Dominan di Posisi Atas
Di bawah Belanda, beberapa negara Amerika Latin juga menjadi pembeli utama minyak AS, termasuk Meksiko, Brazil, Republik Chili, dan Ekuador. Meksiko berada di posisi kedua sebagai salah satu konsumen terbesar minyak AS.
Kanada, yang secara geografis berada di Amerika Utara turut menempati posisi atas dengan impor sekitar 324 juta barel pada 2025, angka ini meningkat tipis dari tahun sebelumnya.
Menariknya, meskipun Kanada memiliki cadangan minyak besar, negara tersebut tetap mengimpor minyak dari AS. Hal ini terjadi karena keterbatasan kapasitas kilang dan infrastruktur pipa yang belum optimal, terutama untuk mengalirkan minyak dari wilayah barat ke timur.
Asia Tetap Penting, Tapi Ada Perubahan
Negara-negara Asia juga termasuk pembeli penting minyak AS, seperti Korea Selatan, India, dan China. Namun pada 2025 terjadi perubahan besar pada pola perdagangan energi di kawasan ini.
Impor minyak AS oleh China tercatat turun sekitar 81 juta barel, membuat negara tersebut turun peringkat menjadi posisi keenam pada daftar negara-negara pembeli terbesar dari posisi ketiga pada tahun sebelumnya.
Penurunan ini dipengaruhi oleh meningkatnya pembelian minyak diskon dari negara yang terkena sanksi seperti Iran, Venezuela, dan Rusia.
Sementara itu, Indonesia berada pada peringkat 18 dengan total impor hingga 57 juta barel atau mengambil sekitar 1.5% dari seluruh ekspor minyak AS pada 2025.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(mae/mae)
Addsource on Google















































