Petani Andalkan Pompa Air hingga Tangki Air Hadapi Ancaman Kekeringan

9 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Mohammad Yadi Sofyan Noor mengatakan petani mengandalkan pompa air hingga mobil tangki untuk menghadapi ancaman kekeringan yang mulai melanda sejumlah daerah. Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk adaptasi agar aktivitas budidaya tetap berjalan di tengah musim kemarau.

Menurutnya, petani telah terbiasa menghadapi kondisi kekeringan dengan memanfaatkan berbagai sumber air yang masih tersedia. "Untuk menghadapi dampak kekeringan, KTNA sudah terbiasa beradaptasi. Kalau masih ada sumber air, maka kita gunakan mesin pompa air yang sudah tersedia," kata Sofyan kepada Republika, Senin (20/7/2026).

Ia menerangkan, apabila ketersediaan air mulai terbatas, petani memanfaatkan sumur-sumur dalam sebagai sumber air alternatif. Namun, jika sumber air benar-benar mengering, kebutuhan air dipenuhi menggunakan mobil tangki sesuai kebutuhan.

Sofyan menyebut sejumlah daerah mulai merasakan dampak kekeringan. Di Jawa Barat, kondisi tersebut mulai terjadi di Kabupaten Indramayu dan Subang. Adapun di Jawa Tengah, Kabupaten Purworejo masih relatif aman karena didukung sistem irigasi teknis dan sumber air yang masih tersedia.

Di Kalimantan Selatan, lanjut dia, wilayah yang mulai terdampak meliputi Kabupaten Banjar, Tanah Laut, dan Tanah Bumbu. Menurut Yadi, kondisi di setiap daerah berbeda sehingga langkah penanganan disesuaikan dengan ketersediaan sumber air di lapangan.

Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan berbagai langkah mitigasi untuk menghadapi potensi kekeringan akibat musim kemarau dan ancaman El Nino. Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mengatakan strategi tersebut dilakukan agar produksi pangan nasional tetap terjaga.

Menurut dia, mitigasi dilakukan melalui sistem informasi peringatan dini (Si-PERDITAN), penguatan infrastruktur air, pompanisasi, rehabilitasi jaringan irigasi, penyediaan benih tahan kekeringan, hingga koordinasi intensif dengan kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah.

"Data menunjukkan upaya mitigasi yang kita lakukan berjalan efektif. Luas puso akibat El Nino hingga Juli 2026 sekitar 12 ribu hektare, jauh lebih rendah dibandingkan tahun 2015 yang mencapai sekitar 217 ribu hektare. Artinya, kesiapsiagaan pemerintah semakin kuat dan produksi pangan nasional tetap dapat kita jaga," ujar Sudaryono dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI di Jakarta, beberapa hari lalu.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research