Peringkat SGIE Turun, Industri Halal RI Perlu Perkuat Sisi Produksi

9 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penurunan posisi Indonesia dalam State of the Global Islamic Economy (SGIE) Report 2025/2026 dinilai menjadi pengingat pentingnya memperkuat kapasitas produksi industri halal nasional. Di tengah besarnya pasar muslim domestik, Indonesia dinilai perlu lebih fokus memperkuat sisi pasokan agar memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar.

Guru Besar Ekonomi Syariah IPB Irfan Syauqi Beik mengatakan, peringkat Indonesia yang turun dari posisi ketiga menjadi keempat dunia dalam Global Islamic Economy Indicator (GIEI) tidak perlu disikapi secara berlebihan. Menurut dia, yang lebih penting adalah membangun daya saing industri halal nasional.

“Kalau soal peringkat, menurut saya kita tidak usah terlalu pusing. Yang paling penting adalah sisi produksi. Kita selama ini bicara market size, tetapi yang menikmati keuntungan terbesar justru pihak produsen,” kata Irfan kepada Republika, Rabu (3/6/2026).

Indonesia saat ini berada di bawah Malaysia, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi dalam SGIE 2025/2026. Meski demikian, Indonesia masih menjadi peringkat pertama dunia untuk sektor modest fashion, peringkat ketiga halal food dan media-recreation, serta peringkat keempat untuk farmasi dan kosmetik halal.

Menurut Irfan, jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia menjadikan Indonesia pasar yang sangat potensial. Namun, peluang ekonomi dari industri halal global masih banyak dinikmati negara lain yang memiliki kapasitas produksi lebih kuat.

Ia mencontohkan sebagian besar produksi makanan halal dunia berasal dari negara-negara dengan penduduk Muslim minoritas. Pasokan daging halal global juga didominasi Brasil, Australia, dan Selandia Baru.

“Kalau kita besar, iya, tetapi besarnya konsumsi. Sementara yang menikmati cuan paling besar adalah yang berada di sisi supply atau produksi,” ujarnya.

Karena itu, Irfan menilai pengembangan industri halal perlu diarahkan untuk memperkuat produksi, ekspor, dan rantai nilai halal nasional. Langkah tersebut juga dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru di tengah perlambatan ekonomi global.

Ia menambahkan, penguatan kelembagaan dan implementasi kebijakan menjadi faktor penting untuk mempercepat pengembangan ekonomi syariah nasional.

“Sekarang yang diperlukan adalah dorongan kebijakan yang lebih kuat. Apalagi Indonesia perlu mencari sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru, dan salah satunya ada di industri halal,” katanya.

Sebelumnya, Direktur Infrastruktur Ekosistem Syariah KNEKS Sutan Emir Hidayat menjelaskan penurunan peringkat Indonesia dipengaruhi melemahnya posisi sejumlah sektor, termasuk Muslim Friendly Travel yang keluar dari lima besar dunia serta farmasi halal yang turun dari posisi kedua menjadi keempat.

Guru Besar Akuntansi Syariah Universitas Tazkia Murniati Mukhlisin menilai hasil SGIE menunjukkan Indonesia masih memiliki fondasi yang kuat dalam ekonomi halal. Namun, penguatan rantai pasok, logistik, dan pembiayaan masih diperlukan agar Indonesia mampu meningkatkan daya saing di pasar halal global.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research