Kecanduan gadget (ilustrasi).
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kecanduan ponsel pintar tidak lagi sekadar isu perilaku, tetapi mulai terbukti berdampak pada struktur dan fungsi otak. Temuan ilmiah terbaru ini mendorong pemerintah daerah, sekolah, hingga orang tua untuk mengambil langkah lebih tegas, namun tetap terukur, dalam mengendalikan penggunaan gawai di kalangan remaja.
Penelitian ilmuwan China menunjukkan bahwa kecanduan smartphone berkaitan dengan perubahan konektivitas otak, khususnya pada amigdala yang berperan dalam pengolahan emosi. Pada individu yang kecanduan, pusat emosi menjadi lebih aktif, sementara kemampuan kontrol kognitif justru melemah.
Temuan ini memperkuat kekhawatiran bahwa penggunaan gawai berlebihan tidak hanya memicu gangguan psikologis seperti kecemasan dan depresi, tetapi juga berpotensi mengganggu kemampuan seseorang dalam memahami emosi dan mengendalikan impuls, sebagaimana diberitakan RT.
Dengan kata lain, kecanduan digital bukan lagi soal kebiasaan, melainkan indikasi gangguan pada sistem saraf yang mulai terukur secara ilmiah.
Sekolah Ambil Langkah, Tapi Tidak Melarang Total
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Selatan mengambil kebijakan membatasi penggunaan ponsel di lingkungan sekolah.
Kebijakan ini tidak bersifat pelarangan total, tetapi lebih menekankan pada pengendalian penggunaan agar tidak mengganggu proses belajar. Siswa dilarang menggunakan ponsel selama di sekolah, kecuali untuk kebutuhan pembelajaran atau kondisi darurat.
Sekolah juga diminta menyediakan sistem penyimpanan terpusat serta menerapkan sanksi proporsional bagi pelanggaran. Selain itu, larangan juga diperluas pada pembuatan konten yang tidak relevan dengan kegiatan belajar.
Langkah ini mencerminkan satu hal penting: sekolah mulai menyadari bahwa distraksi digital bukan lagi gangguan kecil, tetapi ancaman serius terhadap kualitas pembelajaran.
Namun, pembatasan di sekolah tidak serta-merta menjadi solusi tunggal. Psikolog klinis Kasandra Putranto mengingatkan bahwa pendekatan yang terlalu keras justru berpotensi tidak efektif.
sumber : Antara

5 hours ago
5









































