Microlearning Jadi Kunci Pengembangan Future Skills Digital

16 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Perkembangan teknologi digital mendorong perubahan besar dalam cara masyarakat belajar dan mengembangkan keterampilan. Di tengah kebutuhan industri yang terus berkembang, metode microlearning dinilai menjadi salah satu pendekatan yang efektif untuk mendukung penguasaan future skills atau keterampilan masa depan.

Microlearning merupakan metode pembelajaran yang menyajikan materi dalam bentuk singkat dan terfokus. Materi dapat berupa video pendek, infografis, kuis interaktif, maupun artikel ringkas yang dapat diakses kapan saja dan di mana saja.

Pendekatan ini dinilai relevan bagi pelajar maupun profesional yang membutuhkan proses belajar fleksibel tanpa mengganggu aktivitas utama. Dengan durasi belajar yang lebih singkat, pengguna dapat mempelajari keterampilan baru secara bertahap dan berkelanjutan.

Seiring perkembangan industri digital, kebutuhan terhadap future skills juga semakin meningkat. Keterampilan tersebut tidak hanya mencakup kemampuan teknis seperti coding, data analytics, dan artificial intelligence (AI), tetapi juga kemampuan non-teknis seperti berpikir kritis, pemecahan masalah, komunikasi, dan adaptabilitas.

Ketua Program Studi (Prodi) Teknologi Informasi Cyber University, Dicky Haryanto mengatakan penguasaan keterampilan masa depan menjadi kebutuhan penting bagi generasi muda yang akan memasuki dunia kerja digital.

“Perubahan teknologi terjadi sangat cepat. Karena itu, mahasiswa perlu memiliki kebiasaan belajar yang berkelanjutan agar mampu mengikuti perkembangan industri. Microlearning menjadi salah satu metode yang efektif karena memungkinkan proses belajar yang lebih fleksibel, fokus, dan sesuai kebutuhan,” kata Dicky, Ahad (19/7/2026).

Menurutnya, pembelajaran berbasis modul singkat juga membantu mahasiswa menguasai kompetensi baru dalam waktu yang lebih efisien. Dengan begitu, proses peningkatan keterampilan dapat dilakukan secara konsisten tanpa harus menunggu program pelatihan jangka panjang.

Future skills tidak hanya berbicara tentang kemampuan teknis seperti AI atau analisis data, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, komunikasi, dan adaptasi. Kombinasi keduanya menjadi bekal utama untuk menghadapi tantangan dunia kerja masa depan,” ujarnya.

Meski demikian, implementasi microlearning masih menghadapi sejumlah tantangan. Mulai dari menjaga kualitas konten, memastikan konsistensi belajar, hingga mengukur efektivitas pembelajaran yang dilakukan secara mandiri.

Oleh karena itu, Dicky menilai materi microlearning perlu dirancang secara tepat agar tetap relevan, menarik, dan mampu memberikan dampak nyata terhadap pengembangan kompetensi pengguna.

Sejalan dengan perkembangan pembelajaran digital dan kebutuhan industri, Cyber University sebagai Shaping Digital Future Leader terus mengembangkan kompetensi mahasiswa melalui Program Studi Teknologi Informasi. Program ini berfokus pada penguasaan bidang sistem informasi, data analytics, artificial intelligence, dan manajemen teknologi digital.

Melalui kurikulum berbasis proyek serta pendekatan praktis yang terintegrasi dengan kebutuhan industri, mahasiswa didorong untuk memiliki pengalaman belajar yang lebih aplikatif dan relevan dengan dunia kerja. Cyber University juga, tuturnya, punya Company Learning Program (CLP) 3+1. Mahasiswa kuliah hanya 3 tahun dan 1 tahunnya magang di industri.

“Tujuan kami adalah mencetak talenta digital yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga mampu berinovasi dan beradaptasi dengan perubahan global. Penguasaan future skills harus menjadi bagian dari proses belajar yang berkelanjutan,” kata Dicky.

Ke depan, microlearning diperkirakan akan semakin banyak diterapkan dalam pendidikan dan pelatihan digital. Dukungan teknologi seperti kecerdasan buatan dan analitik data juga membuka peluang terciptanya proses pembelajaran yang lebih personal, adaptif, dan efektif dalam menyiapkan sumber daya manusia yang siap menghadapi era transformasi digital.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research