Menpora Erick ke Markas PBB, Bahas Lapangan Kerja dan Kesehatan Mental Bagi Generasi Muda

3 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI Erick Thohir menegaskan lapangan kerja dan kesehatan mental merupakan dua tantangan terbesar yang kini dihadapi generasi muda di berbagai belahan dunia. Hal itu disampaikannya usai melakukan kunjungan ke Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat, Kamis (23/7/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Erick didampingi Duta Besar/Wakil Tetap Republik Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa Umar Hadi. Menpora bertemu dengan Assistant Secretary-General for Youth Affairs United Nations, Felipe Paullier, untuk membahas berbagai isu kepemudaan serta bertukar pandangan mengenai program-program yang relevan dengan kebutuhan generasi muda.

“Kami berdiskusi terkait berbagai isu kepemudaan di seluruh dunia. Ini menjadi masukan penting bagi kami untuk memastikan program-program kepemudaan yang dijalankan benar-benar sesuai dengan kebutuhan para pemuda dan pemudi,” ujar Menpora Erick.

Dalam pertemuan itu, Erick menjelaskan berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda di banyak negara memiliki kesamaan. Menurut dia, persoalan ketersediaan lapangan pekerjaan dan kesehatan mental menjadi dua isu yang paling banyak dirasakan oleh anak muda di tengah perubahan dunia yang berlangsung sangat cepat.

Perubahan tersebut, kata dia, memengaruhi masa depan pekerjaan, kehidupan sosial, hingga meningkatnya tekanan yang dihadapi generasi muda. Karena itu, penyusunan program kepemudaan harus mampu menjawab persoalan nyata yang mereka alami.

“Lapangan pekerjaan dan kesehatan mental menjadi dua isu besar yang paling dirasakan pemuda dan pemudi di dunia saat ini. Karena itu, program kepemudaan yang kita jalankan harus tepat sasaran, relevan dengan tantangan yang mereka hadapi, dan benar-benar memberikan dampak,” kata Menpora.

Erick menegaskan Kementerian Pemuda dan Olahraga terus mendorong agar kebijakan di bidang kepemudaan tidak hanya berorientasi pada penyelenggaraan kegiatan semata. Program yang dijalankan, menurut dia, harus mampu membentuk karakter sekaligus meningkatkan kapasitas generasi muda Indonesia agar siap menghadapi tantangan masa depan.

Ia mengatakan, langkah tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menginginkan pembangunan kepemudaan mampu melahirkan generasi Indonesia yang memiliki karakter kuat, daya juang tinggi, kepedulian terhadap sesama, serta kecintaan kepada bangsa dan negara.

Semangat tersebut juga dinilai sejalan dengan teladan para tokoh pemuda terdahulu yang mampu bersatu memperjuangkan kemerdekaan Indonesia di tengah keberagaman suku dan agama.

“Sejak pertama kali memberikan amanah kepada saya, Presiden Prabowo Subianto telah memberikan arahan yang jelas bahwa kita harus membangun generasi muda Indonesia yang patriotik, gigih dan berempati. Karena itu, setiap program harus memiliki tujuan dan dampak yang jelas bagi masa depan mereka,” ujar Menpora Erick.

Menurut Erick, pertemuan dengan Felipe Paullier juga menjadi bagian dari upaya Kemenpora memperluas perspektif serta memperkuat jejaring internasional dalam pembangunan kepemudaan. Indonesia, kata dia, perlu terus bertukar pengalaman dan praktik terbaik dengan berbagai negara maupun lembaga internasional agar mampu menjawab tantangan generasi muda yang semakin kompleks.

Ia menambahkan, generasi muda merupakan kekuatan utama yang akan menentukan masa depan Indonesia. Karena itu, negara harus memastikan mereka memperoleh kesempatan untuk tumbuh, berkembang, serta memiliki karakter yang tangguh agar mampu bersaing di tingkat global.

“Pemuda adalah kekuatan masa depan Indonesia. Tugas kita memastikan mereka mendapatkan kesempatan untuk tumbuh dan berkembang, sekaligus memiliki karakter yang kuat untuk membawa Indonesia semakin maju dan mampu bersaing di tingkat dunia,” kata Menpora Erick. 

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research