REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG - Peringatan Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni menjadi momentum untuk meneguhkan kembali peran generasi muda dalam menjaga arah perjalanan bangsa. Anggota DPRD Kota Bandung dari Fraksi PKS, Susanto Triyogo Adiputro menilai Pancasila harus terus dihidupkan sebagai kompas moral yang membimbing Indonesia menghadapi berbagai tantangan zaman.
Menurut Susanto, di tengah derasnya arus globalisasi, revolusi teknologi, dan perubahan sosial yang berlangsung cepat, nilai-nilai Pancasila tetap relevan sebagai fondasi dalam membangun bangsa yang maju sekaligus berkeadaban.
“Pancasila bukan sekadar warisan sejarah yang disimpan dalam buku pelajaran. Pancasila adalah kompas moral yang menjaga arah perjalanan bangsa agar kemajuan tidak kehilangan nilai kemanusiaan, persatuan, dan keadilan sosial,” ujar Susanto dalam refleksinya memperingati Hari Lahir Pancasila, Senin (1/6/2026).
Ia mengingatkan Indonesia saat ini sedang menikmati bonus demografi, di mana mayoritas penduduk berada pada usia produktif. Kondisi tersebut, kata dia, merupakan peluang besar yang harus dimanfaatkan untuk mempercepat pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045.
Namun demikian, bonus demografi tidak otomatis menjadi jaminan kemajuan apabila tidak dibarengi dengan kualitas sumber daya manusia yang unggul dan karakter kebangsaan yang kuat.
“Sejarah menunjukkan banyak negara gagal memanfaatkan bonus demografi karena kehilangan arah pembangunan dan mengalami krisis kepemimpinan. Karena itu, generasi muda harus memiliki pijakan nilai yang kokoh,” katanya.
Susanto menilai tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini jauh berbeda dibanding masa perjuangan para pendiri bangsa. Jika dahulu ancaman hadir dalam bentuk penjajahan fisik, kini tantangan muncul melalui krisis identitas, polarisasi sosial, penyebaran disinformasi, budaya instan, hingga melemahnya semangat gotong royong.
Menurut dia, ruang digital yang seharusnya menjadi sarana memperkuat persatuan justru kerap menjadi arena pertentangan yang menguras energi kebangsaan. Karena itu, generasi muda perlu kembali membaca dan memahami Pancasila sebagai panduan peradaban.
Ia menjelaskan, setiap sila dalam Pancasila mengandung nilai yang relevan dengan kebutuhan bangsa saat ini. Mulai dari pentingnya moralitas dalam kehidupan publik, penghormatan terhadap martabat manusia, penguatan persatuan dalam keberagaman, demokrasi yang berkeadaban, hingga terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Susanto juga menyoroti pentingnya momentum menuju 100 tahun Sumpah Pemuda pada 2028 dan Indonesia Emas 2045. Menurutnya, semangat persatuan yang diwariskan para pemuda pada 1928 harus terus dihadirkan dalam konteks kekinian, termasuk di ruang digital.
“Media sosial bukan hanya ruang ekspresi, tetapi juga ruang kebangsaan. Apa yang kita unggah, komentari, dan sebarkan turut menentukan kualitas persatuan bangsa,” ujarnya.
Untuk menyongsong Indonesia Emas 2045, Susanto menekankan pentingnya generasi muda membangun empat modal utama, yakni intelektualitas, integritas, kapasitas sosial, dan kepemimpinan. Dengan modal tersebut, kaum muda diharapkan mampu mengambil peran aktif dalam menghadapi berbagai persoalan bangsa, mulai dari korupsi, kesenjangan ekonomi, polarisasi politik, disinformasi digital, hingga krisis iklim.
“Pancasila telah memberikan arah, dan Sumpah Pemuda telah memberikan teladan. Kini saatnya generasi muda mengambil peran sejarahnya untuk memastikan Indonesia menjadi bangsa yang maju, bermartabat, dan berkeadilan,” kata Susanto.
Ia berharap peringatan Hari Lahir Pancasila tidak berhenti pada seremoni tahunan semata, melainkan menjadi momentum memperkuat kesadaran kolektif bahwa masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh kualitas generasi yang mengisinya.

8 hours ago
3












































