
Oleh: Rasyid Mohamad, Mahasiswa Universitas Diponegoro Program Studi Manajemen
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ada kebiasaan-kebiasaan kecil yang dampaknya baru terasa jauh setelah seseorang beranjak dewasa. Menabung adalah salah satunya. Ia tampak sederhana: menyisihkan sebagian uang saku, menahan keinginan membeli sesuatu, lalu memasukkannya ke dalam celengan. Namun, di balik tindakan kecil itu sesungguhnya tersimpan pelajaran besar tentang disiplin, kesabaran, prioritas, dan kemampuan mengendalikan diri.
Kesadaran inilah yang coba ditanamkan mahasiswa KKN Tim II Universitas Diponegoro melalui program CERDAS atau Ceria Menabung Sejak Dini Desa Juragan di SDN Juragan, Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang. Program tersebut tidak sekadar mengajak anak-anak memasukkan uang ke celengan, tetapi mengenalkan cara berpikir yang lebih mendasar: membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
Dalam kehidupan modern, kemampuan tersebut semakin penting. Anak-anak tumbuh di tengah lingkungan yang penuh tawaran konsumsi. Iklan hadir melalui televisi, telepon genggam, media sosial, permainan digital, hingga lingkungan pergaulan. Keinginan untuk membeli sesuatu dapat muncul bahkan sebelum seorang anak memahami nilai uang yang dikeluarkannya.
Karena itu, literasi keuangan seharusnya tidak menunggu seseorang memasuki usia produktif. Pendidikan mengenai uang justru perlu dikenalkan sejak anak mulai memahami bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi.
Menabung dalam konteks ini bukan semata-mata aktivitas ekonomi. Ia adalah latihan karakter. Ketika seorang anak memilih menyimpan sebagian uang sakunya daripada langsung membelanjakannya, ia sedang belajar menunda kesenangan. Ketika ia mulai memahami bahwa membeli buku pelajaran berbeda dengan membeli mainan yang sebenarnya tidak dibutuhkan, ia sedang belajar menentukan prioritas. Ketika ia konsisten menyisihkan uang dari hari ke hari, ia sedang berlatih membangun disiplin.
Pelajaran-pelajaran seperti ini mungkin tidak selalu ditemukan secara utuh dalam buku teks. Karena itulah pendekatan yang dilakukan mahasiswa KKN Undip di Desa Juragan menarik untuk diperhatikan. Materi literasi keuangan tidak disampaikan melalui ceramah yang berat, tetapi melalui bahasa sederhana, permainan edukatif, serta kegiatan menghias celengan.
Anak-anak diajak mengidentifikasi mana yang termasuk kebutuhan dan mana yang sekadar keinginan. Konsep yang bagi orang dewasa mungkin terdengar sederhana itu sesungguhnya merupakan fondasi penting dalam pengelolaan keuangan.
Banyak persoalan finansial pada masa dewasa berawal bukan semata-mata dari rendahnya pendapatan, tetapi juga dari ketidakmampuan mengatur prioritas. Seseorang dapat memperoleh penghasilan yang cukup, tetapi tetap menghadapi persoalan keuangan ketika seluruh keinginan diperlakukan seolah-olah merupakan kebutuhan. Karena itu, membiasakan anak mengenali perbedaan keduanya sejak dini merupakan investasi pendidikan jangka panjang.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

4 hours ago
4










































