Etalase Digital: Fenomena Konsep Diri yang Dipajang di Media Sosial

4 hours ago 4

Image rita

Pendidikan | 2026-08-14 10:53:59

Oleh Rita – Mahasiswa Universitas Siberia Asia

Fenomena membangun citra diri yang tampil sempurna di media sosial kembali menjadi sorotan seiring meningkatnya keluhan generasi muda terkait kecemasan sosial dan perbandingan diri di ruang digital. Perilaku menyeleksi foto, mengatur pencahayaan, hingga menghapus unggahan yang dianggap kurang menarik sebelum akhirnya dipublikasikan, kini menjadi kebiasaan yang lazim ditemui di kalangan pengguna media sosial, khususnya pelajar dan pekerja muda. Fenomena ini oleh sejumlah pakar psikologi dan komunikasi dikaitkan dengan persoalan konsep diri atau self concept, salah satu kajian utama dalam Estetika Humanisme.

Konsep Diri: Dari Toko Fisik Hingga Etalase Digital

Berdasarkan Modul Pembelajaran Estetika Humanisme pertemuan ke-3 Universitas Siber Asia, konsep diri pada dasarnya menggambarkan bagaimana seseorang memandang dan menilai dirinya sendiri, sebuah proses yang berjalan terus-menerus dan ikut menentukan cara individu tersebut menjalin hubungan dengan orang-orang di sekitarnya. Modul tersebut juga mengangkat pemikiran William James, yang memisahkan dua sisi dalam diri manusia: satu sisi berperan sebagai pelaku yang sadar dan aktif menjalani kehidupan, sementara sisi lain berperan sebagai pengamat yang memikirkan dan menilai perilaku dirinya sendiri (James, dalam Rakhmat, 2009).

Pexels.com" /> Sumber: Pexels.com

Fenomena ini banyak ditemui pula di lingkungan kerja ritel, di mana penataan etalase toko menjadi analogi yang relevan untuk menggambarkan terbentuknya konsep diri di ruang digital. Sejumlah pekerja toko pakaian kerap menyeleksi barang terbaik untuk dipajang di bagian depan, sementara stok yang kurang menarik disimpan di area belakang yang tidak terlihat pembeli. Pola serupa yang terjadi pada pengelolaan citra diri di media sosial, di sisi kehidupan yang dianggap kurang ideal cenderung diutarakan dari tampilan publik.

Pakar: Kesenjangan antara Diri Ideal dan Diri Sejati Picu Kecemasan

Dalam Kuliah Umum Estetika Humanisme yang menjadi salah satu referensi resmi mata kuliah ini, Prof. Bagus Takwin, Guru Besar Psikologi Sosial Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa persoalan konsep diri di era digital erat hubungannya dengan teori yang berpusat pada orang yang dikembangkan Carl Rogers. Ia menekankan pentingnya membedakan antara ideal self, yaitu citra diri ideal yang sering kali dibentuk oleh ekspektasi orang lain, dengan real self, yaitu diri yang otentik dan sesungguhnya.

Pexels.com" /> Sumber: Pexels.com

Menurut pemaparan Prof. Dr. Bagus Takwin dalam sesi tersebut, kesehatan psikologis seseorang pada dasarnya tidak ditentukan oleh keberhasilannya membangun citra yang sempurna di hadapan orang lain, melainkan oleh keberaniannya untuk hidup selaras dengan jati dirinya yang sesungguhnya. Ia juga menyampaikan bahwa semakin lebar kesenjangan antara diri ideal yang dipertontonkan dengan diri sebenarnya yang sebenarnya dirasakan, semakin besar pula potensi kecemasan tersembunyi yang dialami penggunanya.

Paradoks Pilihan Perburuk Kecemasan Sosial

Prof Bagus Takwin dalam paparannya turut merujuk pemikiran Barry Schwartz dalam The Paradox Of Choice untuk menjelaskan bagaimana diceritakan pilihan gaya hidup dan standar kesuksesan di era digital justru membuat individu semakin sulit mengambil keputusan dan rentan mengalami overthinking. Ia juga menyampaikan pemikiran filsuf Alain Badiou terkait godaan atau ilusi manusia modern, yang menurutnya dapat diatasi jika seseorang memiliki nilai-nilai yang teguh sehingga tidak mudah diwujudkan oleh standar kesempurnaan yang ditawarkan lingkungan sekitar maupun ruang digital.

Komunikasi Hati Ditawarkan Sebagai Solusi

Pada kesempatan yang sama, Prof. Puji Lestari, S.IP., M.Si., Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta, memaparkan konsep Komunikasi Hati yang ia kembangkan berdasarkan pengalaman empirisnya sebagai praktisi komunikasi risiko dan bencana. Konsep ini menekankan pentingnya keselarasan antara olah pikir dan olah rasa untuk menjaga kesehatan mental di tengah tekanan sosial, termasuk tekanan akibat perundungan siber maupun framing negatif di ruang digital.

Dalam pemaparannya pada sesi Kuliah Umum Estetika Humanisme tersebut, Prof. Puji Lestari menekankan pentingnya setiap individu menjaga integritas dirinya masing-masing, agar tidak terjebak menjadi sosok yang selalu berusaha menyenangkan dan menyesuaikan diri dengan ekspektasi orang lain, atau yang lazim disebut sebagai People Pleaser.

Konsep Diri Yang Sehat Dinilai Bukan Soal Tampilan

Modul Estetika Humanisme UNSIA menegaskan bahwa perilaku nyata seseorang akan selalu konsisten dengan konsep diri yang ia yakini, sehingga perbaikan pada berbagai aspek kehidupan perlu dimulai dari perbaikan konsep diri, bukan sekadar perbaikan tampilan atau citra di ruang publik maupun digital. Sejumlah kalangan menilai, pemahaman terhadap konsep diri yang autentik menjadi semakin relevan di tengah tingginya intensitas interaksi generasi muda dengan media sosial saat ini.

Hingga kini, diskusi mengenai konsep diri di ruang digital terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap dampak kesehatan mental dari pengguna media sosial jangka panjang, khususnya di kalangan pelajar dan pekerja muda yang menjalani aktivitas ganda antara dunia nyata dan dunia digital.

Daftar Referensi

Rakhmat, J. (2009). Psikologi Komunikasi (Edisi Revisi). Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Schwartz, B. (2004). The Paradox of Choice: Why More Is Less, sebagaimana dipaparkan oleh Prof. Dr. Bagus Takwin dalam Video Rujukan Pakar UAS Estetika Humanisme.

Badiou, A. Pemikiran mengenai godaan dan ilusi manusia modern, sebagaimana dipaparkan oleh Prof. Dr. Bagus Takwin dalam Video Rujukan Pakar UAS Estetika Humanisme.

Universitas Siberia Asia. (2026). Modul Pembelajaran Mata Kuliah Umum: Estetika Humanisme, Konsep Diri (Konsep Diri), Pertemuan Ke-3.

Video Rujukan Pakar UAS Estetika Humanisme (Kuliah Umum Estetika Humanisme), menghadirkan Prof. Dr. Bagus Takwin (Guru Besar Psikologi Sosial, Universitas Indonesia) Dan Prof. Dr. Puji Lestari, S.IP., M.Si. (Guru Besar Ilmu Komunikasi, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta). Diakses dari https://www.youtube.com/watch?v=qWBE08TXkKs

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research