Mahasiswa Cyber University Rancang Sistem Bursa Berjangka

13 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mahasiswa Program Studi (Prodi) Sistem dan Teknologi Informasi (STI) Cyber University, Ignatius Lucky, mendapat kesempatan terlibat dalam proyek strategis di Jakarta Futures Exchange (JFX) melalui program magang Company Learning Program (CLP) 3+1.

Mahasiswa angkatan 2023 itu dipercaya merancang arsitektur full-stack untuk sistem Traders Quote MT4 dan MT5 di salah satu bursa perdagangan berjangka di Indonesia.

Dalam program magang ini, Ignatius tidak hanya berperan sebagai peserta pembelajaran tetapi juga terlibat langsung dalam pengembangan infrastruktur teknologi yang mendukung operasional perusahaan.

Tugas yang diembannya mencakup perancangan struktur database, API Gateway, Dashboard Admin, hingga Market Data Hub. Proyek ini menuntut pemahaman mendalam mengenai pengelolaan data, integrasi sistem, serta keamanan teknologi informasi.

Lingkup pekerjaan yang dikerjakan juga terkait sistem perdagangan yang membutuhkan kecepatan dan akurasi tinggi dalam pengolahan data finansial.

"Magang di Jakarta Futures Exchange adalah kesempatan luar biasa bagi saya untuk keluar dari zona nyaman. Merancang arsitektur full-stack untuk collect data dari sistem trading seperti MT4 dan MT5 menuntut tingkat ketelitian dan logika arsitektur yang sangat kuat," ujar Ignatius dalam keterangannya, Rabu (3/6/2026).

Selama menjalankan proyek tersebut, ia memanfaatkan framework NestJS yang terintegrasi dengan SQL Server untuk membangun sistem yang dirancang. Pengalaman ini memberinya kesempatan memahami langsung bagaimana konsep rekayasa perangkat lunak diterapkan dalam lingkungan industri yang sesungguhnya.

"Saya bersyukur karena fondasi keilmuan dari kampus sangat membantu saya beradaptasi cepat dalam menguasai teknologi seperti NestJS dan merancang database berskala enterprise secara nyata," katanya.

Ketua Prodi Sistem dan Teknologi Informasi Cyber University, Neneng Rachmalia Feta, menilai keterlibatan mahasiswa dalam proyek industri berskala besar menjadi bukti pentingnya pembelajaran berbasis praktik.

Menurutnya, pengalaman tersebut memberi ruang bagi mahasiswa mengembangkan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri digital saat ini.

"Ignatius menunjukkan, mahasiswa STI Cyber University mampu beradaptasi dan berkontribusi dalam proyek teknologi yang kompleks. Pengalaman ini membuktikan pembelajaran yang terintegrasi dengan dunia industri dapat menghasilkan talenta yang siap menghadapi tantangan profesional," ujar Feta.

Menurut dia, proyek yang dikerjakan Ignatius tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis, tetapi juga kemampuan analisis, pemecahan masalah, dan pemahaman terhadap kebutuhan bisnis. Karena itu, keterlibatan mahasiswa dalam proyek nyata menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran.

"Melalui program CLP 3+1, mahasiswa tidak hanya belajar teori di ruang kelas, juga memperoleh pengalaman langsung dalam menyelesaikan persoalan industri. Ini menjadi bekal penting agar lulusan memiliki daya saing tinggi ketika memasuki dunia kerja," kata Feta.

Program CLP 3+1 yang diterapkan Cyber University mengusung konsep tiga tahun kuliah dan satu tahun magang. Program tersebut dirancang untuk menjembatani kebutuhan antara dunia pendidikan dan dunia industri melalui pengalaman kerja yang relevan dengan bidang studi mahasiswa.

Keberhasilan Ignatius mengerjakan proyek di Jakarta Futures Exchange (JFX) menjadi gambaran kolaborasi kampus dan industri dapat membuka peluang pengembangan kompetensi mahasiswa.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research