Korban Kekerasan Seksual di Ponpes Pati Bisa Alami Trauma Relasi Hingga Depresi

2 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Psikolog ana dan keluarga, Astrid Wen, mengungkapkan santriwati korban kekerasan seksual di salah satu Pondok Pesantren Kabupaten Pati, Jawa Tengah, berisiko mengalami dampak psikologis serius. Kasus seperti ini dinilai sangat berat, terutama karena terjadi berulang, dalam relasi kuasa yang timpang, serta dalam sebuah sistem yang membungkam korban.

"Dampak psikologis yang mungkin muncul pada anak antara lain trauma relasi, kecemasan berat, depresi, perasaan tidak berdaya, kebingungan identitas, hingga kerentanan menjadi korban kembali di masa depan," kata Astrid saat dihubungi Republika, Selasa (5/5/2026).

Menurut Astrid, sebagian penyintas bahkan dapat mengalami distorsi pemahaman tentang apa yang dianggap normal. Ketika kekerasan terjadi terus-menerus tanpa adanya perlindungan, anak bisa mengalami kebingungan mendalam terkait batasan, kebenaran, serta nilai diri mereka.

Karenanya, penanganan trauma pada korban tidak bisa dilakukan secara sederhana atau instan. Menurut dia, dibutuhkan pendekatan yang komprehensif, salah satunya dengan memastikan proses hukum yang tegas terhadap pelaku.

"Penting agar pelaku mendapatkan konsekuensi hukum. Ini memberi pesan kuat bahwa sistem yang lebih besar melindungi korban. Jika tidak, penyintas bisa merasa bahwa mencari pertolongan itu sia-sia, dan ini memperparah luka psikologis," ujar Astrid.

Selain itu, setiap korban perlu menjalani asesmen menyeluruh, mencakup kondisi psikologis, fisik, serta dukungan dari keluarga. Pendampingan psikologis jangka panjang juga menjadi kunci, mengingat proses pemulihan trauma bisa berlangsung bertahun-tahun dan memerlukan pemantauan berkala.

"Peran keluarga dan lingkungan terdekat juga sangat penting. Mereka perlu mendapatkan edukasi agar mampu mendampingi korban tanpa menyalahkan, sekaligus menjadi sumber rasa aman bagi anak," kata Astrid.

Dia menekankan akar persoalan dalam kasus ini bukan terletak pada ajaran agama, melainkan penyalahgunaan relasi kuasa oleh individu. Tokoh agama yang memiliki posisi sosial tinggi kerap dipandang sebagai figur yang tidak dapat dipertanyakan, sehingga membuat anak lebih rentan untuk tunduk.

Dalam beberapa kasus, pelaku juga dapat menyalahgunakan bahasa atau doktrin agama untuk membenarkan tindakan, membingungkan korban, bahkan membuat korban merasa bahwa apa yang terjadi adalah kehendak Tuhan. "Anak-anak dan remaja, yang masih dalam tahap perkembangan, belum memiliki kapasitas penuh untuk mengkritisi hal tersebut. Akibatnya mereka mudah terjebak dalam manipulasi dan merasa takut atau malu untuk berbicara," kata Astrid.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research