dwi febri yanto
Nasihat | 2026-07-21 10:30:02
https://www.cumicumi.com/articles/viral/6a58b508c5a2da98910785c8/kisah-inspirarif-tukang-becak-yang-bisa-jadi-pengusaha-di-swiss-berkat-kejujurannya#google_vignette
Namanya Pujopeno, tapi orang-orang mengenalnya sebagai Pono Geneng. Usianya sekarang sekitar 58 tahun. Tahun 1992, Ia adalah seorang tukang becak di Yogyakarta yang sering membawa muatan sayuran dari dari daerah Geneng sehingga "diparaf" Pono Geneng.
Suatu hari di tahun 1992 ia menemukan sebuah tas di pinggiran jalan di daerah Prawirotaman. Alangkah terkejutnya Pono Geneng ketika membuka tas itu, ternyata isinya uang dollar. Tanpa tahu harus berbuat apa, Pono kemudian pulang ke rumah dan menceritakan kepada ibunya. Oleh ibunya tas itu disuruh dikembalikan kepada pemiliknya.
Pono sempat membantah ibunya dengan mengatakan uang temuannya banyak sekali dan bisa mengubah hidup keluarga mereka, termasuk beli rumah dan lain-lain. "Harga mobil carry ketika itu cuma Rp 14 juta," kata Pono setelah tahu uang di tas itu sebanyak Rp 42 M!Tapi ibunya tetap menyuruhnya mengembalikan tas itu karena bukan miliknya. "Nek mbok tukoke mobil malah bablas, piye malah medeni," ujar Bu Giyem ibunya seperti ditirukan Pono. "Kalau dibelikan mobil malah kecelakaan, apa tidak mengerikan," kurang lebih seperti itu yang dikatakan ibunya.
Pono Geneng akhirnya menuruti pesan ibunya dan mencari pemilik tas itu. Setelah bertanya sana sini akhirnya ia menemukan pemilik tas tersebut yang menginap di Hotel Garuda jalan Malioboro. Pemilik tas bernama Charli Morandi seorang Warganegara Swiss yang datang ke Yogya bersama isterinya. Uang di dalam tas itu rencananya untuk membeli emas dan perak.
Setelah bertemu dengan Charli, Pono segera menyerahkan tas itu dengan mantap. Charli memfoto KTP Pono dan serah terima tas itu berlangsung begitu saja tanpa ada pemberian apapun dari Charli kepada Pono! Sialnya becak Pono yang di tinggalkannya di luar hotel hilang ketika ia hendak pulang. "Ya sudah mau apalagi? Pulang jalan kaki. Semuanya saya ceritakan kepada orangtua saya," kata Pono Geneng.
Tiga hari kemudian ternyata Charli Morandi dan isterinya mencari Pono. Mereka merasa tidak tenang di Bali dan segera balik ke Yogya untuk bertemu dengan Pono. Di Bali keduanya sempat berdebat. Charli mengatakan Pono bodoh karena mengembalikan uang sebanyak itu, tetapi isterinya justeru memuji dan mengatakan orang seperti Pono langka. Mereka mengatakan selama di Bali dilanda keresahan sampai tidak bisa tidur. Karena itulah mereka segera ke Yogya menemui Pono. Di Yogya keduanya menginap di rumah Pono yang sederhana.
Sebagai ucapan terima kasih, keduanya kemudian mengajak Pono ke Swiss untuk menetap di sana. Segala akomodasi ke negara produsen jam itu ditanggung oleh Charli. Maka berangkatlah Pono ke Swiss di tahun 1992.
Warga Swiss itu ternyata petani. Pono kemudian diajar bertani. Setelah 3 tahun bertani Charli mengatakan kepada Pono bahwa semua harta benda pasangan itu akan diwariskan kepada Pono. "Asal jangan kamu jual kepada siapapun," ujar Charli. Pria 67 tahun itu yakin Pono akan amanah karena selain rendah hati dia juga adalah orang yang jujur. Karena itu Charli dan isterinya berketetapan menganggap Pono sebagai anak.
Tak lama kemudian Charli Morandi dan isterinya yang penderita diabetes itu meninggal dunia sehingga semua asetnya diwariskan kepada Pono. Pemuda Yogya itu kemudian melanjutkan usaha orangtua angkatnya dan menjadi petani dan pengusaha di Fribourg, Swiss. Namun Pono yang menguasai 5 bahasa itu (Perancis, Italia, Jerman, Inggris British dan Inggris Amerika) tidak melupakan Yogya dan teman²nya sesama tukang becak. Pono masih sering ke Yogya bahkan menginisiasi Perkumpulan Pengemudi Becak Prawirotaman (P2BP). Tahun2019 Pono mendirikan 20 stan makan gratis untuk pengemudi becak.
Pono mengakui dirinya masih kangen Yogya dan Indonesia. Karena itu dia tetap memegang paspor Indonesia. Tahun 2012 Pono, walaupun muslim, pernah berbicara dihadapan Paus Benedictus XVI di event internasional di Vatikan. Pono menjelaskan tentang kerukunan beragama di Indonesia!
Wah mantap tenan mas Pono Geneng ????
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

7 hours ago
3












































