Ketika tidak Ada yang Mengawasi

4 hours ago 4

Oleh: Prof Ema Utami (Direktur Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Amikom Yogyakarta)

REPUBLIKA.CO.ID, Dua hari ini, Senin–Selasa, 20–21 Juli 2026, saya menjalankan tugas sebagai asesor LAM Infokom dalam kegiatan asesmen lapangan akreditasi Program Studi Magister Teknologi Informasi di salah satu perguruan tinggi negeri di Tangerang. Asesmen lapangan merupakan tahap penting dalam proses akreditasi, yaitu verifikasi langsung atas dokumen evaluasi diri yang telah dinilai pada tahap sebelumnya.

Tim asesor hadir untuk memastikan apakah apa yang tertulis dalam dokumen benar-benar terwujud dalam praktik, yakni apakah kurikulum berjalan sebagaimana dirancang, apakah fasilitas tersedia sebagaimana dideskripsikan, dan apakah proses pembelajaran berlangsung sebagaimana dilaporkan. Tujuan akhirnya satu, menjaga kualitas pendidikan tinggi agar dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.

Saya mengingat kalimat yang disampaikan oleh asesor senior dalam melakukan pengamatan yang sederhana namun sangat tajam. Beliau berkata, "Kalau ingin melihat budaya mutu sebuah kampus, lihatlah toiletnya.” Kalimat itu terdengar ringan, tetapi semakin dipikirkan semakin dalam maknanya.

Toilet adalah ruang yang jarang masuk dalam daftar persiapan ketika kampus menyambut asesor. Ia mencerminkan kondisi sehari-hari, bukan kondisi yang dipoles untuk penilaian. Institusi yang benar-benar memiliki budaya mutu akan menjaga standar di semua titik, termasuk yang tidak terlihat oleh tamu.

Ucapan itu membuat saya teringat pada pengalaman di Belanda beberapa pekan sebelumnya. Ada ironi yang menarik untuk direnungkan. Proses akreditasi, dengan segala tahapannya yang ketat, sesungguhnya berdiri di atas satu asumsi dasar: bahwa klaim perlu diverifikasi.

Dokumen diperiksa, data ditelusuri, narasumber dikonfirmasi, dan praktik diamati secara langsung. Seluruh arsitektur akreditasi dibangun untuk memastikan bahwa apa yang diklaim memang benar-benar terjadi.

Dengan kata lain, akreditasi adalah sistem yang berangkat dari kebutuhan verifikasi, bukan karena semua orang dianggap tidak jujur, melainkan karena kualitas pendidikan adalah amanat yang terlalu penting untuk diserahkan hanya pada klaim.

Kontras yang sangat berbeda justru kami temukan dalam keseharian di Belanda. Di supermarket Jumbo dan Albert Heijn, sebagian besar kasir adalah mesin self-service. Pelanggan memindai sendiri setiap barang belanjaannya, memasukkannya ke tas, lalu membayar tanpa ada petugas yang mengawasi setiap gerakan tangan mereka. Tidak ada kasir yang berdiri dengan tatapan curiga, tidak ada pemeriksaan terhadap setiap item yang dipindai. Sistem itu memilih untuk mempercayai.

Hal yang serupa kami temukan di trem Belgia. Di Ghent maupun Brussels, penumpang naik trem lalu melakukan tap kartu atau pembayaran contactless secara mandiri tanpa ada palang atau gate yang menghalangi. Tidak ada petugas yang berdiri di pintu untuk memeriksa tiket setiap penumpang yang masuk. Inspektur memang ada, tetapi pemeriksaannya dilakukan secara acak, bukan kepada semua orang. Sistem transportasi itu juga memilih untuk mempercayai. Sistem berasumsi bahwa sebagian besar penumpang akan membayar karena memang itulah yang benar dan bukan semata-mata karena takut akan tertangkap.

Dua sistem yang berbeda tersebut mencerminkan dua cara pandang tentang bagaimana kepatuhan dibangun. Yang pertama menekankan verifikasi: klaim harus dibuktikan dan praktik harus diperiksa.

Yang kedua menekankan kepercayaan awal: orang diberi ruang untuk melakukan yang benar tanpa diawasi terus-menerus. Perbedaan ini tidak muncul begitu saja namun lahir dari sejarah panjang tentang bagaimana masyarakat membangun hubungan antara warga, aturan, dan institusi. Para peneliti budaya menyampaikan bahwa kepercayaan seperti itu tidak dapat muncul secara instan namun perlu dibangun melalui konsistensi dalam jangka panjang.

Refleksi ini terasa sangat relevan di dunia akademik, khususnya dalam hubungan antara mahasiswa dengan pembimbing dan promotor. Idealnya, pertemuan bimbingan dilandasi oleh kepercayaan: bahwa mahasiswa telah sungguh-sungguh menjalankan proses penelitian, membaca literatur yang dikutip, mengolah data dengan benar, dan merefleksikan temuan secara jujur.

Promotor yang baik tidak seharusnya menjadi inspektur yang memeriksa setiap kalimat dengan kecurigaan, melainkan mitra diskusi yang mempercayai bahwa mahasiswanya telah bekerja keras sebelum hadir dalam pertemuan. Kepercayaan itu, tentu saja, harus dibangun dan dijaga oleh mahasiswa sendiri melalui konsistensi, kejujuran, dan integritas dalam setiap langkah penelitian.

Di era kecerdasan buatan saat ini, dimensi kepercayaan itu menjadi semakin penting sekaligus semakin kompleks. Ketika mahasiswa menggunakan AI sebagai alat bantu dalam penelitian, penulisan, atau analisis data, sebuah pertanyaan dasar kemudian muncul: apakah mahasiswa memahami apa yang dihasilkan AI, mampu mengkritisi dan memverifikasinya, serta dapat mempertanggungjawabkannya sebagai bagian dari pikirannya sendiri.

Seperti pelanggan supermarket yang memindai sendiri barang belanjaannya, sistem mempercayai bahwa ia memindai dengan jujur. Seperti penumpang trem yang membayar tanpa diawasi, sistem mempercayai bahwa ia membayar dengan benar. Ketika kampus mempercayai mahasiswa menggunakan AI secara bertanggung jawab, kepercayaan itu harus menjadi cermin integritas intelektual.

Asesmen lapangan hari ini berakhir dengan baik dan proses verifikasi yang kami lakukan akan menjadi kesempatan bagi mereka untuk merefleksikan perjalanan institusinya sendiri. Pada akhirnya, akreditasi yang baik bukanlah yang paling ketat pengawasannya, melainkan yang paling berhasil membangun budaya mutu dari dalam. Pengawasan dapat memaksa kepatuhan, tetapi hanya kepercayaan yang dapat melahirkan integritas.

Allah SWT berfirman: “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berbicara kepada Kami dan kaki mereka akan menjadi saksi atas apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Yasin: 65).

Amanat itu berlaku bagi asesor yang menilai dengan adil, bagi institusi yang melaporkan dengan jujur, bagi mahasiswa yang meneliti dengan benar, dan bagi siapa pun yang diberi kepercayaan untuk melakukan sesuatu ketika tidak ada yang mengawasi. Sebab kepercayaan adalah amanat yang paling berat, justru karena ia tidak selalu bisa diverifikasi. Wallāhu a’lam.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research