REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Kementerian Pariwisata menjadikan pengembangan pariwisata ramah muslim sebagai salah satu strategi untuk memperkuat daya saing sektor pariwisata nasional. Langkah tersebut dilakukan guna menangkap potensi pasar wisatawan muslim global yang diproyeksikan mencapai 262 juta perjalanan pada 2030.
Staf Ahli Bidang Transformasi Digital dan Inovasi Pariwisata Kementerian Pariwisata Masruroh mengatakan, pengembangan pariwisata ramah Muslim telah menjadi salah satu fokus dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) melalui diversifikasi produk wisata.
“Salah satu fokus diversifikasi untuk meningkatkan penguatan daya saing pariwisata dan pengembangan ekonomi nasional adalah pariwisata ramah Muslim,” kata Masruroh dalam Indonesia Sharia Forum (ISF) 2026 yang diselenggarakan Republika di Jakarta, Rabu (2/7/2026).
Mengacu pada laporan Global Muslim Travel Index (GMTI), jumlah perjalanan wisatawan muslim global diperkirakan mencapai 262 juta pada 2030. Menurut Masruroh, tren tersebut menjadi peluang besar yang perlu dimanfaatkan Indonesia.
Ia menegaskan, konsep pariwisata ramah muslim bukan mengubah destinasi wisata menjadi destinasi religi ataupun “menghalalkan” destinasi. Konsep tersebut berfokus pada penyediaan layanan yang memudahkan wisatawan muslim menjalankan ibadah selama berwisata.
“Pariwisata ramah muslim itu bukan menghalalkan destinasi, tetapi menyediakan extended services terkait amenitas, atraksi, dan aksesibilitas untuk memenuhi kebutuhan wisatawan Muslim,” ujar Masruroh.
Layanan tersebut meliputi kemudahan menemukan tempat salat, fasilitas wudhu, hingga ketersediaan makanan halal. Menurut Masruroh, wisatawan muslim ingin menikmati perjalanan seperti wisatawan lainnya tanpa meninggalkan kewajiban agamanya.
Ia menambahkan, konsumsi halal global pada 2024 mencapai sekitar 2,6 triliun dolar AS. Dari jumlah tersebut, sektor pariwisata ramah muslim menyumbang sekitar 11,2 persen, menunjukkan gaya hidup halal telah berkembang menjadi bagian dari ekonomi global.
Masruroh mengatakan, populasi muslim dunia diperkirakan mencapai 2,2 miliar jiwa pada 2026 atau lebih dari 26 persen populasi global dan meningkat menjadi 2,5 miliar jiwa pada 2036. Sekitar 71 persen populasi muslim global berusia di bawah 40 tahun sehingga menjadi pasar potensial bagi industri pariwisata.
Menurut Masruroh, Asia juga menjadi kawasan strategis bagi pasar wisata muslim. Kawasan tersebut menerima sekitar 128 juta kedatangan wisatawan muslim dari total 616 juta wisatawan global, lebih tinggi dibandingkan Eropa yang menerima sekitar 45 juta wisatawan muslim.
Indonesia, lanjut Masruroh, memiliki modal kuat untuk menjadi pemain utama pariwisata ramah muslim karena memiliki sekitar 11,3 persen populasi muslim dunia, 17 persen populasi muslim Asia, dan 86 persen populasi muslim ASEAN. Selain itu, terdapat 19 provinsi dengan populasi muslim di atas 90 persen yang dinilai mendukung pengembangan destinasi wisata ramah muslim.
“Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar wisatawan muslim global, tetapi harus menjadi ekosistem alami bagi pengembangan pariwisata ramah muslim yang mampu memberikan nilai tambah bagi ekonomi nasional dan masyarakat lokal,” kata Masruroh.

1 hour ago
1














































