REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Survei dari Career Co-Piloting milik Zety, platform layanan pembuatan CV, menemukan bahwa 15 persen generasi Z di Amerika Serikat ditemani oleh orang tua saat wawancara kerja tatap muka. Meski belum ada data serupa di Indonesia, fenomena ini ternyata banyak terjadi di Tanah Air.
Hal itu disampaikan profesional dan pendiri Headhunter Indonesia, Haryo Utomo Suryosumarto. la mengaku cukup sering melihat orang tua yang mengantar dan bahkan menemani anak hingga masuk ke kantor atau area wawancara kerja.
Haryo mengatakan keterlibatan orang tua tersebut dapat merugikan anak atau kandidat kerja. Pasalnya, perekrut akan melihat kandidat tersebut sebagai "bendera merah" karena dianggap masih bergantung pada orang tua.
“Menurut saya ya, ini dampaknya terhadap penilaian si kandidat itu sendiri. Tidak bisa dikesampingkan bahwa dari prospek rekruter, ini merupakan red flag,” kata Haryo saat dihubungi Republika, Rabu (1/7/2026).
la mengungkapkan tiga aspek utama yang membuat keterlibatan orang tua saat proses wawancara dinilai negatif oleh perusahaan. Pertama, hal itu menunjukkan bahwa kandidat kerja belum siap memasuki dunia profesional secara mandiri.
“Karena kalau misalnya wawancara kerja aja masih didampingi orang tua, rekruter akan menilai bahwa orang ini belum siap menghadapi dunia profesional secara mandiri,” kata Haryo.
Kedua, kandidat yang masih didampingi orang tua berpotensi tidak memiliki inisiatif. Menurut Haryo, rekruter akan menilainya sebagai kandidat yang rentan karena ia berpotensi bergantung pada orang tua dalam mengambil langkah atau keputusan penting saat bekerja.
Ketiga, kandidat yang didampingi orang tua dinilai belum memiliki proses berpikir yang matang dalam menyelesaikan masalah secara mandiri. "Nah ini kan jadi red flag banget. Jadi singkatnya, rekruter akan menganggap kandidat masih bergantung pada orang tua, belum matang, belum bisa masuk ke dunia kerja," kata Haryo.
Haryo menyatakan keterlibatan orang tua dalam karier anak tidak selalu negatif. Batasan yang dianggap wajar dalam dunia profesional yaitu orang mendukung buah hati di balik layar, bukan terlibat langsung dalam proses rekrutmen. Bentuk dukungan tersebut misalnya dengan memberikan semangat, membantu mengelola kecemasan, dan menjadi pendamping mental bagi anak.
Bentuk dukungan lain yang masih wajar adalah membantu menyusun atau menyiapkan CV. Menurut Haryo, orang tua dapat berperan sebagai editor untuk memastikan struktur, tata bahasa, dan format CV sesuai standar profesional.
"Kadang-kadang Gen Z itu tata bahasa mungkin masih berantakan, nah kalau orang tua yang memang punya pengalaman, punya wawasan, silakan ikut berperanlah menjadi editor CV bagi anaknya. Tentunya tanpa mengubah esensi, terus pengalaman dan juga pencapaian si anak ini sendiri," kata dia.
Adapun keterlibatan orang tua yang kelewat batas yaitu ketika mereka sampai menemani dan mengantar anak saat wawancara kerja. Menurutnya, bahkan pernah ada orang tua yang sampai ikut menjawab dan menyanggah rekruter saat wawancara.

2 hours ago
1














































