Di Balik Manisnya Kota Pelajar: Merawat Harmoni di Tengah Perbedaan

3 hours ago 3

Image Kira

Lainnnya | 2026-06-30 22:54:15

Kota Yogyakarta selalu menjadi daya tarik bagi ribuan pemuda dari seluruh penjuru Nusantara. Dengan citranya yang ramah, kota ini menjanjikan rumah kedua yang nyaman bagi mahasiswa baru. Namun di balik manisnya perjumpaan berbagai budaya tersebut, ada masalah nyata yang jarang dibahas secara bijak. Masalah itu adalah gegar budaya. Ini bukan sekadar rasa rindu pada rumah dan masakan ibu, melainkan ujian nyata dalam menjaga kerukunan di tengah masyarakat yang beragam.

Banyak orang sering menganggap kesulitan adaptasi sebagai tanda kelemahan mental mahasiswa pendatang. Mereka sering dicap kaku atau terlalu sensitif. Padahal jika dipikirkan secara logis, gegar budaya adalah reaksi yang sangat wajar. Saat dua kebiasaan yang berbeda bertemu, tentu akan muncul rasa bingung. Benturan yang paling menguras pikiran biasanya bukan pada perbedaan bahasa, melainkan pada cara berkomunikasi yang tidak diucapkan secara langsung.

Sebagai contoh nyata dalam kehidupan kampus, perbedaan gaya bicara sering memicu salah paham. Ada mahasiswa perantau yang terbiasa berbicara keras dan langsung pada intinya. Di sisi lain, masyarakat lokal atau teman kuliah dari daerah lain mungkin lebih mengutamakan kelembutan agar tidak menyinggung perasaan. Akibatnya, mahasiswa perantau harus berpikir keras setiap hari hanya untuk menebak maksud dari lawan bicaranya. Mereka juga harus berhati-hati mengatur jarak fisik saat berbicara. Rasa lelah karena harus terus menebak dan menahan diri inilah yang membuat banyak perantau merasa tertekan.

Rasa tertekan ini sering bertambah parah karena kita salah menempatkan pepatah "Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung." Pepatah ini sebenarnya adalah pesan indah tentang pentingnya rasa hormat. Namun dalam kenyataannya, petuah ini sering dipakai untuk memaksa pendatang agar mengubah total kepribadian mereka. Tuan rumah atau kelompok mayoritas kadang merasa bahwa cara merekalah yang paling benar. Jika tuntutan untuk berubah hanya dibebankan pada mahasiswa perantau, kedamaian sosial yang tulus tidak akan pernah terwujud.

Ketika pendatang merasa tidak bisa tampil apa adanya, wajar jika mereka mencari tempat yang aman. Mereka akhirnya membentuk kelompok pergaulan dengan teman satu daerah. Bahkan saat ada kegiatan lapangan atau tugas kelompok kampus, mereka terkadang lebih nyaman bersama teman yang gaya bicaranya seirama. Banyak orang menuduh sikap ini sebagai bentuk kesombongan atau penolakan untuk berbaur. Padahal secara rasional, berkumpul dengan teman sedaerah adalah cara kreatif mereka untuk menjaga kesehatan pikiran. Kelompok tersebut menjadi tempat istirahat yang aman. Di sana mereka bisa berbicara lepas tanpa takut dihakimi atau salah paham.

Untuk menyelesaikan persoalan ini di tengah masyarakat, kita butuh upaya yang lebih cerdas daripada sekadar menuntut pendatang untuk cepat beradaptasi. Merawat keharmonisan membutuhkan kesadaran bahwa adaptasi adalah jalan dua arah. Sumbangan pemikiran yang bisa kita terapkan adalah menumbuhkan rasa toleransi dan ruang aman dari kedua belah pihak.

Mahasiswa perantau harus mau belajar mengamati dan menghargai tata krama lokal. Di saat yang sama, masyarakat asli dan lingkungan kampus juga harus berlatih untuk tidak cepat tersinggung. Saat melihat gaya komunikasi yang terkesan kasar, kita bisa memilih untuk bertanya dan memahami latar belakang budaya mereka. Kita tidak boleh langsung memberikan penilaian buruk yang hanya didasari oleh kebiasaan kelompok kita sendiri.

Pada akhirnya, keharmonisan tidak akan lahir dari keseragaman. Kota pelajar yang sesungguhnya harus mampu membuktikan bahwa kecerdasan warganya tidak hanya diukur dari nilai kuliah di dalam kelas, tetapi dari kemampuan untuk hidup berdampingan dengan damai dan saling menghargai di kehidupan nyata.

Artikel opini ini disusun untuk memenuhi tugas Ujian Akhir Semester (UAS) mata kuliah Komunikasi Antar Budaya, Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research