Jaga Ketahanan Energi, PHE Siap Pacu Produksi Migas

10 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, BATU — PT Pertamina Hulu Energi (PHE) menggenjot produksi migas untuk menjaga ketahanan energi nasional di tengah tekanan geopolitik global. Upaya ini dilakukan saat sektor hulu menghadapi tantangan penurunan alami dari lapangan tua.

Direktur Perencanaan Strategis, Portofolio, dan Komersial PHE Edi Karyanto mengatakan, kontribusi PHE terhadap produksi nasional tetap dominan meski hanya mengelola sebagian wilayah kerja. “PHE mengelola sekitar 27 persen wilayah kerja migas, namun kita bisa memberikan kontribusi cukup signifikan dengan 65 persen produksi minyak dan 35 persen lifting gas nasional,” kata Edi di Golden Tulip Holland Resort Batu, Kota Batu, Jawa Timur, Kamis (9/4/2026).

Sepanjang 2025, produksi migas PHE mencapai sekitar satu juta barrel oil equivalent per day (BOEPD). Dari angka tersebut, produksi minyak tercatat sebesar 557 ribu BOEPD, dengan sekitar 400 ribu BOEPD berasal dari dalam negeri dan sisanya dari aset luar negeri.

Edi menjelaskan, kontribusi produksi luar negeri mencapai sekitar 157 ribu BOEPD yang berasal dari sejumlah wilayah operasi seperti Malaysia, Irak, dan Aljazair. “Jadi 557 ribu BOEPD ini tentu kalau kita bayangkan, kalau di APBN target produksi minyak dari negara sekitar 605 ribu BOEPD tahun lalu, sekarang (2026) 610 BOEPD, itu 157 ribu BOEPD dari luar negeri yang kita punya, ada dari Malaysia, Irak, Aljazair,” kata Edi.

Pada 2026, PHE menargetkan peningkatan produksi minyak dari 557 ribu menjadi 595 ribu barel per hari. Produksi domestik juga ditargetkan naik signifikan dari sekitar 300 ribu BOEPD menjadi 404 ribu BOEPD.

Untuk mencapai target tersebut, PHE menjaga aktivitas hulu tetap tinggi, mulai dari pengeboran, workover, hingga well intervention. “Beberapa aktivitas kita juga kita jaga, seismik, 2D, 3D, eksplorasi, eksploitasi kita tetap jaga di kisaran 800 sumur,” kata Edi.

Namun demikian, tantangan utama berasal dari tingginya decline rate pada lapangan tua yang menyebabkan produksi menurun lebih cepat. Kondisi ini juga diikuti peningkatan kadar air yang mempengaruhi efisiensi produksi. “Kita sadari decline rate dari existing produksi cukup curam karena lapangan kita adalah lapangan tua,” kata Edi.

Di tengah kondisi tersebut, PHE tetap berupaya menjaga pasokan energi domestik, terutama saat ketidakpastian global meningkat akibat dinamika di Timur Tengah. Edi mengatakan peningkatan produksi menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung arahan pemerintah untuk mengurangi ketergantungan energi dari luar negeri. “Tantangan saat ini memang gejolak di Timur Tengah untuk domestik itu lebih bisa memberikan ketersediaan energi, minyak dan gas bumi, tanpa kita ketergantungan dengan pihak-pihak lain yang mana tantangan di luar ini sangat agile dan di luar kemampuan kita semua,” kata Edi.

Selain meningkatkan produksi migas konvensional, PHE juga menjalankan strategi dual growth dengan mengembangkan bisnis rendah karbon. Fokus ini mencakup teknologi carbon capture and storage (CCS) serta carbon capture, utilization, and storage (CCUS). “Tentu ini kita akan ada beberapa upaya untuk meningkatkan produksi kita sembari kita juga menjalankan dual growth bisnis kita,” kata Edi.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research