Seorang pejalan kaki berjalan melewati pompa bensin di Tokyo, Jepang, 16 Maret 2026. Jepang berencana untuk melepaskan cadangan minyak tambahan senilai 20 hari paling cepat pada awal Mei.
REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO – Jepang berencana untuk melepaskan cadangan minyak tambahan senilai 20 hari paling cepat pada awal Mei, kata Perdana Menteri Sanae Takaichi, Jumat (10/4/2026). Keputusan ini dilakukan di tengah ketidakpastian mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz meskipun ada kesepakatan gencatan senjata AS-Iran.
Rencana tersebut diungkapkan dalam pertemuan menteri untuk membahas situasi Timur Tengah dan akan mengikuti pelepasan cadangan minyak senilai sekitar 50 hari ke pasar yang sedang berlangsung, yang dimulai pada pertengahan Maret, dari cadangan yang dimiliki oleh negara, sektor swasta, dan negara-negara penghasil minyak di Teluk.
Saat Jepang bersiap menghadapi potensi gangguan pasokan minyak mentah yang berkepanjangan, Takaichi menyatakan dalam pertemuan yang sebagian terbuka untuk media, "Kami akan mengambil setiap langkah yang mungkin untuk memastikan pasokan minyak mentah yang stabil."
Jepang bergantung pada Timur Tengah untuk lebih dari 90 persen impor minyak mentahnya, yang sebagian besar melewati Selat Hormuz, jalur utama pengiriman energi global yang secara efektif diblokir Iran setelah peluncuran serangan AS-Israel terhadap Iran pada akhir Februari.
Washington dan Teheran menyepakati gencatan senjata bersyarat selama dua minggu pada Selasa, tepat sebelum batas waktu yang ditetapkan secara sepihak oleh Presiden AS Donald Trump berakhir bagi Teheran untuk membuka kembali selat tersebut atau menghadapi kehancuran infrastruktur pentingnya.
Namun, masih belum jelas apakah blokade Iran terhadap Selat Hormuz akan dicabut, karena Israel dilaporkan terus menyerang kelompok Hizbullah yang berafiliasi dengan Iran di Lebanon bahkan setelah kesepakatan gencatan senjata dibuat.
sumber : ANTARA

6 hours ago
2








































