Investor Diminta Waspadai Sentimen Global, Ini Rekomendasi Saham Pekan Ini

1 day ago 7

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Investor disarankan tetap mewaspadai berbagai sentimen global yang berpotensi memengaruhi pergerakan pasar saham sepanjang pekan ini. Di tengah kondisi tersebut, investor juga diminta lebih selektif dalam memilih saham yang memiliki prospek penguatan.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan mengatakan perhatian pasar masih tertuju pada perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah serta rilis data inflasi Amerika Serikat. Menurut dia, kedua faktor tersebut berpotensi memengaruhi arah pergerakan pasar saham dalam beberapa hari ke depan.

“Konflik geopolitik dan data inflasi Amerika Serikat akan menjadi perhatian pasar pekan ini. Investor sebaiknya tetap tenang, mencermati perkembangan yang ada, dan disiplin menerapkan manajemen risiko sebelum mengambil keputusan investasi,” ujar David dalam keterangan yang dikutip, Selasa (14/7/2026).

Di dalam negeri, David menilai kondisi fiskal masih relatif terjaga. Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga semester I 2026 tercatat sebesar Rp 196,5 triliun atau 0,76 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka tersebut masih berada di bawah batas maksimal defisit APBN sebesar 3 persen terhadap PDB.

Meski demikian, menurut David, perkembangan ekonomi global tetap perlu dicermati karena dapat memengaruhi arus modal dan pergerakan pasar keuangan, termasuk di Indonesia. Karena itu, investor disarankan tidak hanya mengikuti sentimen jangka pendek, tetapi juga memperhatikan fundamental perusahaan sebelum membeli saham.

Untuk perdagangan 13-17 Juli 2026, IPOT merekomendasikan tiga saham yang layak dicermati, yakni PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), dan PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA). Ketiga saham tersebut dinilai memiliki peluang menguat berdasarkan analisis teknikal dan pergerakan dana investor besar (smart money).

Selain saham, IPOT juga merekomendasikan obligasi syariah PBS038 sebagai alternatif investasi di tengah ketidakpastian pasar. Surat berharga negara tersebut dinilai masih menarik karena menawarkan kupon tetap sebesar 6,87 persen per tahun dengan potensi imbal hasil (yield) sekitar 7,2 persen.

David menilai peluang investasi tetap terbuka di tengah dinamika pasar. Namun, ia mengingatkan investor agar tetap disiplin mengelola risiko dan tidak terburu-buru mengambil keputusan hanya karena mengikuti pergerakan pasar sesaat.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research