Ini Detail Rangkaian Ibadah Puncak Haji dan Makna di Baliknya

8 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Puncak ibadah haji akan berlangsung pada tanggal 8 hingga 13 Dzulhijjah. Ketika itu, jutaan orang tamu Allah dari seluruh penjuru dunia mulai bergerak ke Padang Arafah, Muzdalifah, hingga Mina (Armuzna). Selanjutnya, jamaah haji menuju Makkah al-Mukarramah, Arab Saudi.

Dalam rangkaian inilah, terdapat simbol-simbol penting dari ibadah haji. Mulai dari wukuf di Padang Arafah hingga melontar jumrah, semua itu menggambarkan perjuangan hamba Allah dalam melawan hawa nafsu dan godaan setan.

Pada tahun ini, Pemerintah Arab Saudi telah menetapkan bahwa awal bulan Dzulhijjah 1447 H bertepatan dengan hari Senin tanggal 18 Mei 2026 M. Adapun jamaah haji mulai melaksanakan wukuf di Arafah pada 9 Dzulhijjah, yakni Selasa (26/5/2026). Hari berikutnya ialah Idul Adha, 10 Dzulhijjah 1447 H.

Menurut jadwal, jamaah haji RI mulai diberangkatkan ke Padang Arafah pada 8 Dzulhijjah 1447 H. Itulah awal dari rangkaian puncak ibadah haji.

Inti haji

Begitu pentingnya pelaksanaan wukuf di Padang Arafah. Sebab, inilah rukun haji yang paling utama.

Sebelum berwukuf, jamaah juga akan mendengarkan khutbah sebagai pengantar. Mereka diharap dapat berfokus, merenungi diri, banyak-banyak berzikir dan berdoa kepada Allah SWT.

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Al-hajju Arafah” (haji adalah Arafah). Hadis ini menegaskan krusialnya berada di padang tersebut bagi jamaah haji.

Wukuf dilakukan sejak tergelincir matahari hingga maghrib. Selama waktu itu, jamaah hendaknya memperbanyak doa, membaca Alquran, serta memohon ampunan kepada Allah SWT.

Secara spiritual, Arafah menggambarkan Padang Mahsyar, yakni tempat yang di dalamnya kelak seluruh manusia berkumpul di hadapan Allah. Mereka menanti pengadilan-Nya yang hasilnya akan mengantarkan mereka, apakah ke surga atau neraka.

Karena itu, suasana wukuf di Padang Mahsyar biasanya dipenuhi suara tangisan, gumam penyesalan, dan doa harapan akan ampunan Allah.

Mabit, kuatkan kesabaran

Usai matahari terbenam di Arafah, jamaah bergerak menuju Muzdalifah untuk mabit pada malam 10 Dzulhijjah.

Di tempat ini, jamaah beristirahat di ruang terbuka sambil mengumpulkan batu kerikil yang akan digunakan untuk melontar jumrah.

Momen di Muzdalifah mengajarkan kesederhanaan dan kesabaran. Sebab, jutaan orang bermalam dalam kondisi yang amat sederhana.

Bermalam (mabit) di Muzdalifah juga menjadi momentum kontemplasi usai menjalani wukuf di Arafah. Makna ini tetap sama bagi sebagian jamaah haji, semisal mereka yang lanjut usia (lansia) dan disabilitas, yang "hanya" melintas di Muzdalifah alias mengikuti skema murur.

Jumrah Aqabah, simbol lawan godaan

Pada 10 Dzulhijjah atau Hari Raya Idul Adha, jamaah menuju Mina untuk melontar jumrah aqabah dengan menggunakan tujuh batu kerikil. Prosesi ini meneladan kisah Nabi Ibrahim AS yang mengusir godaan setan.

Kala itu, Nabi Ibrahim sedang menjalankan perintah Allah SWT untuk menyembelih Ismail AS, putra sang khalilullah. Dalam perjalanannya, suami Sayyidah Sarah dan Hajar itu dibujuk setan agar ia merasa "kasihan" sehingga tidak mengorbankan sang putra.

Tak surut sedikit pun. Nabi Ibrahim lantas mengambil batu dan melemparkannya ke arah setan. Inilah bukti keteguhan hati dalam menaati perintah Allah.

Melontar jumrah bukan sekadar melempar batu, melainkan simbol perlawanan manusia terhadap hawa nafsu, kesombongan, dan bisikan keburukan dalam kehidupan. Mengikuti jejak sang leluhur Rasulullah SAW tersebut.

Tahallul, tanda keluar dari ihram

Setelah melontar jumrah, jamaah melakukan tahallul. Mereka mencukur atau memotong sebagian rambut atau seluruhnya.

Tahallul menjadi tanda berakhirnya sebagian larangan ihram. Secara makna, mencukur rambut melambangkan penyucian diri dan awal kehidupan yang baru, setelah menjalani perjalanan spiritual haji.

Dalam haji, terdapat tahallul awal dan tahallul akhir. Setelah tahallul awal, sebagian larangan ihram telah diperbolehkan. Adapun setelah tahallul akhir, seluruh larangan ihram berakhir.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research