REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Industri baja menghadapi tuntutan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan sekaligus menekan penggunaan energi dan dampak lingkungan dari proses produksi. Salah satu teknologi yang digunakan untuk mendukung produksi baja dengan pemanfaatan material daur ulang adalah Electric Arc Furnace (EAF).
Teknologi EAF menggunakan energi listrik untuk melebur material baja daur ulang atau scrap yang telah melalui proses seleksi. Material tersebut kemudian menjalani proses pemurnian sebelum dibentuk menjadi produk baja sesuai spesifikasi dan standar yang ditetapkan.
Pemanfaatan scrap memungkinkan baja yang telah mencapai akhir masa penggunaan kembali masuk ke proses produksi. Siklus tersebut merupakan salah satu penerapan ekonomi sirkular karena material dapat digunakan, dikumpulkan, didaur ulang, dan diolah kembali menjadi produk baru.
Penggunaan scrap juga dapat mengurangi kebutuhan terhadap bahan baku primer dan jumlah material yang berakhir sebagai limbah. Namun, tingkat emisi produksi baja tidak hanya ditentukan oleh teknologi tungku, melainkan juga sumber energi listrik, efisiensi proses, pengelolaan bahan baku dan limbah, hingga transportasi.
Dalam proses EAF, scrap dilebur menggunakan energi listrik melalui elektroda pada temperatur yang dapat mencapai sekitar 1.600 derajat Celsius. Karena material dapat mengandung berbagai unsur dan impurity, komposisi kimia baja dikontrol melalui proses refining sebelum disesuaikan dengan spesifikasi produk.
Salah satu produsen baja yang menggunakan teknologi EAF adalah PT Garuda Yamato Steel (GYS), yang memiliki fasilitas produksi di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Perusahaan tersebut memproduksi baja profil hot rolled untuk kebutuhan konstruksi dan infrastruktur.
Produk yang dihasilkan antara lain H Beam, IWF atau WF, Channel atau UNP, dan Equal Angle atau siku. Baja profil tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan struktur, termasuk gedung, gudang, jembatan, fasilitas industri, dan infrastruktur.
Setiap jenis profil memiliki fungsi berbeda dalam konstruksi. H Beam dan IWF dapat digunakan sebagai balok maupun kolom berdasarkan perhitungan struktur, sedangkan Channel dan Equal Angle dapat digunakan untuk rangka sekunder, pengaku, dudukan, atau bagian sambungan.
Karena itu, pemilihan baja perlu mempertimbangkan dimensi, berat per meter, ketebalan, grade, karakteristik mekanis, serta standar produk. Informasi tersebut menjadi dasar untuk memastikan material sesuai dengan kebutuhan dan spesifikasi teknis proyek.
Menurut materi perusahaan, sejumlah produk baja canai panas GYS memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) lebih dari 90 persen, antara lain WF-Beam, H-Beam, Kanal U, dan Siku.
Presiden Direktur PT Garuda Yamato Steel Tony Taniwan mengatakan, inovasi dan keberlanjutan menjadi salah satu aspek yang diperhatikan perusahaan dalam kegiatan produksi.
“Fokus perusahaan pada inovasi dan keberlanjutan memastikan bahwa produk-produk yang dimiliki GYS memenuhi standar yang berlaku sekaligus berkontribusi terhadap proyek infrastruktur nasional,” ujar Tony.
Penggunaan baja dengan kandungan daur ulang juga dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam proyek yang menerapkan kriteria bangunan hijau, terutama terkait penggunaan material dan jejak karbon. Namun, penilaian terhadap aspek keberlanjutan perlu melihat keseluruhan siklus material, termasuk sumber energi, proses produksi, pengelolaan limbah, transportasi, masa penggunaan, dan kemampuan baja untuk didaur ulang kembali.
Bagi proyek yang membutuhkan material dalam jumlah besar, kapasitas produksi, konsistensi mutu, sertifikasi, standar produk, serta dokumen teknis menjadi sejumlah faktor yang perlu diperiksa sebelum pengadaan. Dengan demikian, pemilihan produsen tidak cukup didasarkan pada klaim mengenai skala atau keunggulan perusahaan, tetapi perlu disesuaikan dengan spesifikasi dan kebutuhan struktur proyek.

1 week ago
28
















































