IHSG Menggila, Rupiah Kapan Menyala?

1 day ago 4
  • Pasar keuangan Indonesia lagi-lagi ditutup beragam pada perdagangan kemarin, IHSG bersinar sementara rupiah melemah
  • Wall Street kompak menguat ditopang saham energi dan AI
  • Data ekonomi dalam negeri dan persoalan Venezuela diperkirakan masih menjadi penggerak utama pasar keuangan hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar keuangan Indonesia ditutup beragam pada perdagangan Selasa (06/01/2025). Bursa saham Indonesia menguat sementara rupiah melemah.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih bergerak volatile pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menguat pada perdagangan Selasa (6/1/2026) dan melanjutkan reli perdagangan pekan ini. Indeks menguat74,42 poin atau lompat 0,84% ke level8.933,61 pada akhir perdagangan sesi kedua.

Ini merupakan rekor harga penutupan perdagangan tertinggi sepanjang masa (all time high) baru yang dicatatkan IHSG.

Sebanyak 428 saham naik, 256 turun, dan 127 tidak bergerak. Nilai transaksi hari ini tergolong ramai atau mencapai Rp 34,14 triliun melibatkan 67,91 miliar saham dalam 4,37 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar mencapai Rp 16.337 triliun atau nyaris mencapai US$ 1 miliar. 

Investor asing mencatat net buy sebesar Rp 590,94 miliar.

Mayoritas sektor perdagangan berada di zona hijau dengan penguatan terbesar dicatatkan oleh sektor barang baku. Sedangkan koreksi paling dalam  dicatatkan oleh sektor energi.

Saham-saham yang menjadi penggerak utama IHSG termasuk AMMN (PT Amman Mineral Internasional Tbk), BBCA (PT Bank Central Asia Tbk), BBRI (PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk), MMDKA (PT Merdeka Copper Gold Tbk), dan PTRO (PT Petrosea Tbk) sedangkan pemberat utama kinerja indeks  termasuk BMRI (PT Bank Mandiri (Persero) Tbk), TLKM (PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk), DSSA (PT Dian Swastatika Sentosa Tbk), BREN (PT Barito Renewables Energy Tbk), dan BPRT (PT Barito Pacific Tbk).

Beralih ke pasar Valas, pergerakan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali ditutup melemah pada perdagangan  Selasa (6/1/2026).

Mengacu pada data Refinitiv, mata uang Garuda ditutup di level Rp16.745/US$ atau melemah 0,06%. Dengan demikian, rupiah telah mencatatkan pelemahan selama tiga hari perdagangan berturut-turut sejak awal 2026.

Tekanan terhadap rupiah berlangsung di tengah pergerakan dolar AS yang cukup volatile.

Dolar sempat tertekan setelah rilis data indeks manufaktur ISM Desember kembali menunjukkan kontraksi lebih dalam, turun ke level 47,9 dan menjadi laju pelemahan aktivitas manufaktur terdalam dalam 14 bulan terakhir.

Data tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap ketahanan sektor industri AS dan sempat menekan permintaan terhadap dolar.

Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun bergerak melandai ke 6,09% pada perdagangan kemarin, dari 6,12% pada hari sebelumnya. Imbal hasil yang melandai menandai harga SBN tengah naik karena diburu investor.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research