Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
28 February 2026 07:22
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia di pasar spot ditutup melonjak tajam pada perdagangan terakhir pekan ini.
Melansir data Refinitiv, harga emas global ditutup di level US$5.277,29 atau menguat 1,74% pada perdagangan Jumat (27/2/2026). Level tersebut sekaligus menjadi yang tertinggi dalam sebulan terakhir atau sejak 30 Januari 2026. Secara mingguan, harga emas global bahkan menguat 3,41%.
Kenaikan ini terjadi setelah data inflasi produsen Amerika Serikat dirilis lebih tinggi dari perkiraan pasar. Kondisi itu membuat pelaku pasar dihadapkan pada dua sentimen besar, yakni kekhawatiran suku bunga akan bertahan tinggi lebih lama dan dorongan membeli emas sebagai aset lindung nilai.
Data inflasi produsen Amerika Serikat atau Producer Price Index (PPI) yang menjadi salah satu acuan penting bagi pasar untuk membaca arah inflasi dan memperkirakan langkah bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed), ke depan.
Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan PPI final demand pada Januari naik 0,5% secara bulanan. Angka ini lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebesar 0,3% dan juga melampaui kenaikan Desember yang telah direvisi naik menjadi 0,4%. Kenaikan PPI terutama didorong oleh sektor jasa yang melonjak 0,8%, antara lain karena margin jasa perdagangan naik 2,5%. Meski begitu, secara tahunan inflasi produsen melambat menjadi 2,9%.
Sebagian komponen dalam data PPI juga digunakan dalam perhitungan inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE), yang menjadi indikator inflasi favorit The Fed. Karena itu, data PPI yang lebih tinggi dari perkiraan membuat pasar semakin waspada bahwa tekanan inflasi belum benar-benar hilang. Sejumlah ekonom bahkan memperkirakan inflasi inti PCE Januari bisa mencapai 0,5%, meski data resminya baru akan dirilis pada 13 Maret mendatang.
Di sisi lain, emas juga mendapat dukungan dari meningkatnya ketidakpastian global. Amerika Serikat mulai memberlakukan tarif impor global sementara sebesar 10% pada Selasa lalu. Namun, pejabat Gedung Putih menyebut pemerintahan Presiden Donald Trump tengah mengupayakan kenaikan tarif tersebut menjadi 15%. Rencana ini menambah kekhawatiran pasar terhadap potensi tekanan baru pada perdagangan global dan inflasi.
Dalam pidato kenegaraannya, Trump juga menyebut hampir semua negara dan korporasi ingin mempertahankan kesepakatan tarif dan investasi yang sudah ada dengan Washington.
Situasi ini membuat minat terhadap aset safe haven tetap terjaga menjelang akhir pekan. Emas memang dikenal luas sebagai aset lindung nilai saat pasar diliputi ketidakpastian. Selain cenderung diuntungkan saat suku bunga rendah, emas juga kerap diburu investor sebagai pelindung nilai ketika tekanan inflasi masih tinggi.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google














































