Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ahad siang itu, seorang ayah keluar dari bioskop sambil menggandeng dua anaknya. Anak laki-lakinya, barangkali kelas tiga atau empat sekolah dasar, mengenakan kaus bergambar Spider-Man: Brand New Day dan menggendong tas sekolah dengan tokoh yang sama. Adiknya, perempuan, membawa botol minum bergambar manusia laba-laba pula.
Di sepanjang koridor pusat perbelanjaan tempat bioskop berada, keduanya bergantian mengangkat tangan ke depan, menirukan gerakan sang laba-laba Peter Parker menembakkan jaring ke udara. Sang ayah hanya tersenyum. Sesekali ia ikut menirukan gerakan itu, lalu mereka bertiga tertawa.
Pemandangan seperti itu bukan sesuatu yang istimewa. Hampir setiap kali film Spider-Man diputar, kita dapat menemukannya di banyak bioskop Indonesia. Yang menarik justru bukan tingkah anak-anak itu, melainkan kenyataan bahwa sang ayah kemungkinan besar pernah melakukan hal yang sama ketika seusia mereka.
Tiga puluh tahun lalu ia mungkin mengenakan kaus sablonan Spider-Man, membaca komiknya, atau menonton filmnya dengan judul berbeda-beda di bioskop kota kelahirannya. Hari ini, tanpa pernah merencanakannya, ia sedang mewariskan kegembiraan yang sama kepada anak-anaknya.
Di situlah saya mulai bertanya. Apa sebenarnya yang sedang diwariskan? Apakah hanya sebuah film? Ataukah sesuatu yang jauh lebih besar dari film itu sendiri?
Coba ikuti perjalanan dua anak tadi setelah mereka meninggalkan layar "Spider-Man: Brand New Day" yang sedang diputar di banyak gedung bioskop. Mungkin mereka mampir ke toko mainan dan berhenti di rak yang dipenuhi figur Spider-Man. Sesampainya di rumah, mereka membuka permainan Spider-Man di konsol atau telepon genggam.
Tengoklah, di rak buku tersimpan komik Spider-Man, mungkin juga buku cerita anak dengan tokoh yang sama. Besok pagi mereka berangkat ke sekolah membawa tas Spider-Man, tempat pensil Spider-Man, botol minum Spider-Man.
Bahkan, bekal makanan mereka dibawa dalam kotak bergambar Spider-Man. Ketika ulang tahun tiba, mereka meminta kue bertema Spider-Man. Menjelang tidur, mereka mengenakan piyama Spider-Man sambil memeluk boneka bahkan bantal Spider-Man.
Tidak ada yang aneh. Jutaan anak di berbagai belahan dunia menjalani hari-hari seperti itu. Yang aneh justru kita jarang berhenti untuk memperhatikan bahwa tokoh fiksi itu telah berpindah jauh dari halaman komik tempat ia dilahirkan.
Ia kini hadir di kamar anak-anak, di pusat perbelanjaan, di ruang keluarga, di sekolah, di layar televisi, di bioskop, di telepon genggam, bahkan di ruang kuliah dan laboratorium penelitian. Spider-Man tidak lagi hidup di dalam cerita. Ceritalah yang kini hidup di dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu saya mulai merasa bahwa menyebut Spider-Man hanya sebagai tokoh komik terasa tak lagi memadai. Ia memang lahir dari komik, sebagaimana pohon lahir dari sebutir biji. Namun kita tidak menyebut sebuah hutan hanya sebagai kumpulan biji. Ada sesuatu yang tumbuh, bercabang, berkembang, lalu membentuk ekosistem yang sama sekali baru.
Begitu pula yang terjadi pada Spider-Man. Yang kita saksikan hari ini bukan lagi perjalanan Peter Parker sebagai tokoh fiksi, melainkan tumbuhnya sebuah jejaring yang menghubungkan dunia penerbitan, perfilman, televisi, permainan video, pendidikan, penelitian, industri mainan, industri pakaian, taman hiburan, hingga jutaan keluarga seperti yang baru saja keluar dari bioskop.
Saya memilih menyebutnya "Jejaring Peradaban Laba-laba". Mengapa peradaban? Sebab sebuah peradaban tidak hanya terdiri atas cerita. Ia juga melahirkan bahasa bersama, simbol-simbol yang dikenali banyak orang, kegiatan ekonomi, komunitas, pengetahuan, bahkan cara baru menikmati hidup.
Kita mengenal peradaban Yunani melalui filsafat, teater, olahraga, dan mitologinya. Kita mengenal peradaban Islam melalui ilmu pengetahuan, arsitektur, sastra, dan tradisi intelektualnya.
Dalam skala yang tentu berbeda, Spider-Man memperlihatkan gejala yang serupa. Ia tidak lagi menjadi milik dua orang penciptanya. Ia telah menjadi ruang hidup bersama yang terus diperluas oleh jutaan orang di seluruh dunia.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

6 hours ago
3

















































