Dialog Nabi Ibrahim dengan Penyembah Berhala

3 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Alquran menghadirkan kisah Nabi Ibrahim AS sebagai pelajaran bagi umat manusia, terutama mengenai pentingnya berdakwah dengan cara-cara yang rasional, konsisten pada kebenaran, dan beretika. Dalam surah Maryam ayat ke-41 hingga 48, Allah SWT berfirman tentang salah seorang rasul Ulul Azmi itu yang berdialog dengan sosok yang disebut sebagai ayah sang nabi. Para ulama ahli tafsir menyatakan, bapak Ibrahim itu bernama Azar. Ada pula yang menyebutnya sebagai Tarih.

Profesor dari International Islamic University Malaysia, Spahic Omer menjelaskan, kisah dialog Nabi Ibrahim dengan ayahnya disebutkan bukan hanya dalam surah Maryam, melainkan juga di beberapa tempat dalam Alquran. Misalnya, surah al-An’am ayat 74, surah at-Taubah ayat 114, dan surah al-Mumtahanah ayat keempat.

Menurut Spahic Omer, ketika berdialog dengan Azar, Nabi Ibrahim tidak langsung menggunakan pendekatan ancaman atau doktrin wahyu semata. Sosok berjulukan Khalilullah itu memakai logika dan akal sehat karena memahami kondisi ayahnya yang tidak beriman kepada Allah, Sang Pencipta seluruh alam.

“Nabi Ibrahim mengetahui bahwa tidak ada sesuatu pun yang lebih masuk akal dan lebih konsisten daripada kebenaran, sementara pada saat yang sama tidak ada sesuatu pun yang lebih tidak logis dan tidak konsisten daripada kebohongan,” ujar Spahic Omer dikutip dari About Islam pada Sabtu (16/5/2026).

Sejatinya, wahyu dan akal tidak pernah bertentangan. Keduanya justru saling melengkapi dalam membimbing manusia menuju kehidupan yang benar dan bermakna.

Ia menilai, Nabi Ibrahim berusaha membangunkan kesadaran ayahnya dengan pertanyaan sederhana namun mendasar: bagaimana mungkin manusia menyembah berhala yang tidak dapat mendengar, melihat, maupun memberikan manfaat?

Dalam dialog itu, Ibrahim juga tampil bukan hanya sebagai nabi, tetapi sebagai anak yang peduli kepada ayahnya. Ia mengajak sang ayah meninggalkan sikap mengikuti tradisi secara membabi buta dan menjauhi tipu daya yang menyesatkan.

“Ibrahim menginginkan ayahnya bebas dan dapat membuat pilihan yang bebas dan masuk akal,” ujarnya.

Namun, nasihat tersebut tidak diterima. Menurut Spahic Omer, ayah Nabi Ibrahim telah dibutakan oleh kesombongan paganisme dan penyembahan terhadap kekuatan materi. Akibatnya, ia terus menukar kebenaran dengan kebohongan, serta rasionalitas dengan emosi dan hawa nafsu.

Kondisi itu membuat kecerdasannya “lumpuh” sehingga tidak lagi mampu melihat kebenaran secara jernih.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research