Deepfake dan Krisis Kepercayaan: Tantangan Kecerdasan Buatan di Era Digital

5 hours ago 5

Image Cantika Rahmah

Teknologi | 2026-07-15 02:13:14

Ilustrasi : Teknologi dan Artificial Intelligence/AI mengubah cara Masyarakat melihat dunia

Apa AI Itu Sebenarnya?

Artificial Intelligence/AI atau kecerdasan buatan merupakan tekologi yang dirancang pada komputer atau mesin agar mampu meniru cara berpikir, belajar, dan memecahkan masalah layaknya manusia . AI bekerja dengan menganalisis data dalam jumlah besar untuk mengenali pola, memprediksi hasil, dan membuat keputusan otomatis.

Secara umum, teknologi pendukung Kecerdasan Buatan (AI) adalah sebagian besarnya terdiri dari beberpa pilar yaitu :

1. Machine Learning (Pembelajaran Mesin) Komputer belajar dari data tanpa diprogram secara manual. butuh manusia untuk memilih fitur data secara manual. Seperti keyboard Sistem mempelajari kebiasaan kata-kata yang paling sering Anda ketik berdampingan secara berulang-ulang.

2. Deep Learning (Pembelajaran Mendalam) Menggunakan jaringan saraf tiruan berlapis untuk memproses data rumit. Seperti Pengenalan wajah (Face ID). DL mencari fitur tersebut secara otomatis.

3. Natural Language Processing / NLP (Pemrosesan Bahasa Alami) Membantu komputer memahami, menerjemahkan, dan menghasilkan bahasa manusia. Seperti ChatGPT dan Google Translate.

4. Expert Systems (Sistem Pakar) Meniru kemampuan pengambilan keputusan dari seorang pakar manusia. Seperti AI untuk mendiagnosis penyakit medis tertentu.

Artinya ai adalah sistem teknologi yang kemampuannya sengaja dirancang untuk memudahkan pekerjaan manusia melalui jaringan komputer atau mesin. Kemudahan yang dihasilkan adalah dari hasil metadata dalam skala besar.sehingga kemampuan analisa pada ai juga sangat besar mampu memberikan hasil yang diinginkan oleh manusia,kemampuan ai dalam menyerap kata-kata,suara,dan alur berfikir manusia hingga menciptkan hasil yang cukup detil. Karna itu ai banyak digunakan manusia sebagai asisiten virtual, dari sinilah muncul istilah deepfake dan krisis kepercayaan dalam kecerdasan buatan.

Apa Itu Deepfake ?

Deepfake adalah teknologi yang memanfaatkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), khususnya deep learning, untuk membuat atau memanipulasi video, gambar, maupun suara sehingga tampak dan terdengar seperti asli, padahal sebenarnya merupakan hasil rekayasa digital.

Lalu apa hubungannya dengan krisis kepercayaan?

Jika dilihat lagi dampak paling berbahaya dari deepfake bukan hanya fakta bahwa orang mempercayai kebohongan, melainkan orang mulai tidak percaya pada kenyataan apa pun. Atau kita simpulkan saja menjadi beberapa fakta terbaru akibat fenomena ai sekrang ini yaitu :

1. Erosi Kepercayaan Radikal (Infocalypse)

Pandangan ahli, Nina Schick, seorang pakar geopolitik dan penulis buku Deepfakes, menyebut fenomena ini sebagai "Infocalypse" (Kiamat Informasi). Ketika video, suara, dan gambar bisa dimanipulasi dengan sempurna, masyarakat akan sampai pada titik di mana mereka menolak percaya pada bukti visual yang nyata sekalipun.

2. The Liar's Dividend (Keuntungan bagi Pendusta)

Konsep ini dipopulerkan oleh profesor hukum Bobby Chesney dan Danielle Citron dalam penelitian mereka di Texas Law Review. The Liar's Dividend adalah situasi di mana seorang tokoh publik yang tertangkap basah melakukan kesalahan nyata (misalnya lewat rekaman asli) dapat dengan mudah mengelak dengan mengatakan, "Ah, video itu hanya deepfake buatan AI."

3. Ancaman terhadap Demokrasi dan Pemilu

Deepfake bukan lagi sekadar teori, melainkan senjata politik yang aktif digunakan untuk manipulasi psikologis pemilih (psychological warfare).

Lembaga riset seperti World Economic Forum (WEF) dalam Global Risks Report sering menempatkan misinformasi berbasis AI sebagai salah satu ancaman global jangka pendek terbesar. Contoh nyatanya sudah banyak terjadi di berbagai pemilu dunia, mulai dari rekaman suara palsu pejabat yang dirilis tepat sebelum hari pemungutan suara, hingga video manipulasi kandidat.

4. Pornografi Non-Konsensual (Dampak Sosial Terbesar) Penting untuk diingat bahwa korban deepfake bukan hanya politisi, tetapi mayoritas adalah perempuan.

Laporan dari perusahaan keamanan AI seperti Sensity dan Home Security Heroes secara konsisten menunjukkan bahwa lebih dari 90% video deepfake yang beredar di internet adalah pornografi non-konsensual yang menargetkan wajah perempuan (baik figur publik maupun masyarakat biasa).

Dari paparan diatas maka ada baiknya bagi kita cermat dalam menggunakan media yang sudah berbasis teknologi AI, karna disisi ia membantu pekerjaan manusia ia juga memiliki banyak dampak negatif apalagi ditangan oknum tak bertanggung jawab.

Kecerdasan buatan (AI) telah membawa banyak manfaat dalam berbagai aspek kehidupan. Namun, perkembangan teknologi seperti deepfake juga memunculkan tantangan berupa krisis kepercayaan karena semakin sulit membedakan informasi asli dan hasil rekayasa digital.

Oleh karena itu, pemanfaatan AI harus diimbangi dengan literasi digital, etika penggunaan teknologi, serta regulasi yang memadai. Masyarakat perlu lebih kritis dalam memverifikasi informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Dengan penggunaan yang bertanggung jawab, AI dapat menjadi inovasi yang bermanfaat tanpa mengikis kepercayaan sebagai fondasi utama kehidupan bermasyarakat.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research