REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) RI bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Harika Foundation meluncurkan pendekatan baru dalam memasyarakatkan haji di usia muda. Melalui kegiatan Sosialisasi Haji Muda dan Program Dai Sejuta Mimbar dengan tema "Generasi Muda sebagai Penerus Dakwah Berbasis Platform Digital", ketiga lembaga ini menempatkan Generasi Z sebagai produsen konten dakwah digital, bukan hanya sasaran edukasi.
Kegiatan yang digelar di Aula SMA IT Al Fityan Medan, Sumatera Utara, belum lama ini mempertemukan regulator keuangan haji, lembaga riset negara, pesantren, komunitas, akademisi, dan perbankan syariah. Sinergi tersebut dirancang saling melengkapi agar literasi haji muda berjalan berbasis data dan mudah diterima anak muda.
BPKH berperan sebagai penggerak literasi dan kesiapan finansial jemaah muda. Sementara BRIN dan akademisi menyumbang kajian kebijakan mengenai perilaku menabung, tata kelola dana haji, serta pola konsumsi informasi keagamaan generasi muda.
Harika Foundation menjadi pelaksana di lapangan melalui Gerakan Dai Sejuta Mimbar. Gerakan ini menerjemahkan hasil riset dan kebijakan menjadi bahasa, format, dan kanal yang akrab bagi anak muda.
Anggota Badan Pelaksana BPKH Harry Alexander mengatakan haji bukan hanya soal keberangkatan ke Tanah Suci. Menurutnya, membangun komitmen jangka panjang melalui perencanaan keuangan yang disiplin sejak dini akan memperbesar peluang generasi muda mewujudkan cita-cita berhaji.
Ia juga menegaskan bahwa dengan masa tunggu haji yang panjang di sejumlah daerah, keputusan mendaftar di usia muda memiliki nilai strategis. Peningkatan literasi pengelolaan keuangan haji menjadi fondasi agar kesiapan spiritual berjalan seiring dengan kesiapan finansial.
Kepala SMA IT Al Fityan Medan Ustadz Pilmon Ginting, http://S.Pd., mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan tersebut. Ia menilai peningkatan kesadaran generasi muda terhadap isu haji dan dakwah di era digital sangat relevan bagi sekolah Islam terpadu.
Titik terobosan program ini terletak pada Program Dai Sejuta Mimbar yang diperkenalkan tim Harika Foundation, Fatchul Wachid. Premisnya sederhana, mimbar dakwah kini tidak hanya di masjid tetapi juga berpindah ke layar genggam.
Melalui kompetisi Dai Sejuta Mimbar, peserta ditantang memproduksi konten dakwah yang kreatif, inspiratif, dan relevan dengan keseharian generasi muda. Selain berkompetisi, peserta juga mendapat pendampingan untuk berkembang sebagai kreator dakwah digital dan menjadi bagian jejaring dakwah yang lebih luas.
Sesi talkshow interaktif mempertegas tiga jalur menuju haji muda. Anggota Badan Pelaksana BPKH Indra Gunawan menekankan peran generasi muda dalam meneruskan risalah kenabian dan memengaruhi kebaikan melalui media sosial.
Deputi Bidang Penghimpunan BPKH Juni Supriyanto memaparkan komitmen BPKH memperluas edukasi haji hingga ke ruang-ruang anak muda. Sementara itu, Banu Muhammad menekankan pentingnya membangun kebiasaan menabung dan disiplin perencanaan keuangan sejak dini.
Irwanda Wisnu Wardhana mengajak peserta merefleksikan kehidupan di era digital dan memanfaatkan potensi ekonomi digital. Hal itu diperkuat Meidy Ferdiansyah yang menyampaikan bahwa membangun kekayaan harus memiliki tujuan, termasuk mendukung keberhasilan berhaji di usia muda.
Melalui sinergi pemerintah, lembaga riset, akademisi, pesantren, komunitas, dan sektor perbankan syariah, kolaborasi ini diharapkan melahirkan lebih banyak generasi muda Indonesia yang siap secara spiritual, finansial, dan kompetensi digital. Mereka diharapkan menjadi agen perubahan yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang moderat, inklusif, dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

2 hours ago
2

















































