Kendaraan melintas di jalan yang retak akibat gempa bumi di kawasan Dampek, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (18/8/2026). Manggarai Timur menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang terjadi pada 15 Agustus 2026, dengan sekitar 7.480 rumah dan lebih dari 40 tempat ibadah tercatat mengalami kerusakan.
REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Bibir Kawah Tiwu Ata Polo Gunung Kelimutu mengalami keretakan akibat gempa bumi magnitudo 7,7 di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (15/8/2026). Selain itu, bibir kawah Tiwu Koofai Nuwamurk mengalami longsoran kecil.
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria mengatakan telah melakukan pengamatan terhadap kondisi Gunung Kelimutu khususnya area kawah, untuk mengetahui kemungkinan adanya perubahan atau dampak pada morfologi kawah pascakejadian gempa. Hasilnya terdapat retakan dan longsoran kecil pada bibir kawah gunung.
"Hasil pengamatan lapangan dan survei menggunakan drone menunjukkan adanya retakan pada bibir Kawah I Tiwu Ata Polo Gunung Kelimutu serta longsoran kecil pada Kawah II Tiwu Koofai Nuwamuri," ucap dia melalui keterangan resmi, Senin (24/8/2026).
Ia mengatakan kondisi tersebut perlu menjadi perhatian sebab retakan pada bibir kawah berpotensi berkembang menjadi longsoran ke arah kawah. Apabila terjadi gempa susulan maupun hujan dengan intensitas tinggi.
"Pascakejadian gempa bumi, ditemukan retakan pada bibir Kawah I Tiwu Ata Polo Gunung Kelimutu. Retakan tersebut memiliki panjang sekitar 100 meter," kata dia.
Ia mengatakan posisi retakan berada pada jarak sekitar 6 meter dari bibir kawah. Kondisi retakan tersebut perlu mendapat perhatian karena terdapat potensi perkembangan retakan yang dapat memicu longsoran ke arah Kawah I. Terutama apabila terjadi gempa susulan atau hujan dengan intensitas tinggi pada musim penghujan.

2 hours ago
2











































