REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) membuat ancaman keamanan siber semakin kompleks. Kemudahan teknologi AI dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas, tetapi pada saat yang sama membuka ruang bagi munculnya pola serangan siber yang semakin luas.
Risiko tersebut kini tidak hanya dihadapi perusahaan besar. Individu hingga pelaku usaha kecil juga semakin rentan menjadi sasaran serangan siber. Kondisi ini menunjukkan pentingnya penguatan literasi digital, tata kelola AI, serta kesadaran masyarakat terhadap keamanan di ruang digital.
Wakil Rektor Tata Kelola, Sumber Daya, dan Kemitraan Strategis Universitas Binawan, Farouk Abdullah Alwyni, MA., MBA., ACSI., CDIF., mengatakan keamanan siber tidak dapat hanya mengandalkan perkembangan teknologi.
“Keamanan digital tidak cukup hanya mengandalkan teknologi. Kita juga membutuhkan literasi digital, tata kelola yang baik, serta komitmen terhadap etika,” ujar Farouk dalam webinar internasional bertajuk “Cyber Security in the Age of AI: Protecting People, Businesses, and Trust” yang digelar Universitas Binawan, Rabu (15/7/2026).
Farouk mengatakan perkembangan AI memberikan peluang besar bagi inovasi dan peningkatan produktivitas. Namun, pemanfaatan teknologi tersebut juga menghadirkan risiko baru apabila tidak disertai pemahaman dan penggunaan yang bertanggung jawab.
Karena itu, menurut dia, peningkatan pemahaman masyarakat mengenai keamanan digital menjadi semakin penting seiring dengan semakin luasnya penggunaan AI dalam berbagai aktivitas.
Data IBM Cost of a Data Breach 2025 menunjukkan rata-rata kerugian akibat kebocoran data secara global mencapai 4,44 juta dolar AS. Laporan yang sama mencatat 97 persen organisasi yang mengalami insiden keamanan terkait AI belum memiliki pengendalian akses AI yang memadai.
Temuan tersebut memperlihatkan adanya kesenjangan antara cepatnya adopsi AI dan kesiapan sistem keamanan untuk mengantisipasi risikonya. Penguatan tata kelola dan kapasitas sumber daya manusia menjadi bagian penting untuk menutup kesenjangan tersebut.
Co-Founder & CEO Cykube, Sharjil Ahmed, mengatakan perubahan lanskap keamanan siber membuat kelompok yang berpotensi menjadi korban semakin luas.
“Ancaman siber kini tidak lagi terbatas pada perusahaan besar. Individu dan usaha kecil juga semakin menjadi sasaran,” kata Shahril.
Menurut dia, kesenjangan perlindungan siber tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan teknologi keamanan yang semakin canggih. Edukasi dan kolaborasi antarpemangku kepentingan diperlukan untuk meningkatkan ketahanan menghadapi ancaman digital.
“Menutup kesenjangan perlindungan siber membutuhkan kolaborasi dan edukasi yang berkelanjutan,” ujarnya.
Universitas Binawan menilai perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam memperkuat literasi keamanan digital. Peran tersebut tidak hanya melalui pengembangan riset dan inovasi, tetapi juga melalui penyiapan sumber daya manusia yang memahami risiko, etika, dan dampak penggunaan AI.
Melalui webinar tersebut, Universitas Binawan mendorong penguatan literasi digital bagi mahasiswa, akademisi, profesional, dan masyarakat. Upaya itu diharapkan membentuk sumber daya manusia yang adaptif terhadap perkembangan teknologi sekaligus memiliki kesadaran terhadap aspek keamanan, etika, dan tanggung jawab dalam pemanfaatan AI.

4 hours ago
3

















































