Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
14 April 2026 16:55
Jakarta, CNBC Indonesia- Vietnam sedang mendorong sektor pangan ke level baru.
Pada 2025, ekspor pertanian, kehutanan, dan perikanan negara itu mencapai US$70,09 miliar atau sekitar Rp 1.198,54 triliun (US$1=Rp 17.100). Nilai ekspor naik 12% dibanding 2024 dan melewati target pemerintah sebesar US$65 miliar. Saat banyak negara Asia masih bertumpu pada industri manufaktur, Hanoi mulai menempatkan pangan sebagai mesin devisa utama.
Komposisinya lebar. Produk pertanian menyumbang US$37,25 miliar. Produk kehutanan US$18,5 miliar. Perikanan US$11,32 miliar. Sisanya datang dari peternakan US$628 juta, input produksi US$2,38 miliar, serta garam US$12,1 juta. Struktur seperti ini membuat Vietnam tidak bergantung pada satu komoditas atau satu musim panen.
Ada 10 kelompok barang ekspor bernilai lebih dari US$1 miliar. Tiga teratas sudah berada di kelas premium. Kayu dan produk turunannya mencapai US$11,6 miliar. Kopi US$8,6 miliar. Buah dan sayur juga US$8,6 miliar. Ini penting karena ketiganya berasal dari rantai pasok berbeda, pasar berbeda, dan pembeli berbeda. Saat satu sektor melemah, sektor lain masih bisa menopang.
Lonjakan tersebut tidak datang dari kebetulan. Pemerintah Vietnam beberapa tahun terakhir aktif membuka akses dagang, mengurus hambatan teknis, serta mempercepat sertifikasi area tanam dan fasilitas pengemasan. Ribuan kode produksi diterbitkan agar barang bisa lolos ke pasar besar. Dalam perdagangan pangan modern, urusan dokumen sering sama pentingnya dengan hasil panen.
Vietnam juga mengubah cara menjual. Fokus lama ada pada volume. Kini fokus bergeser ke nilai tambah. Kopi menjadi contoh paling jelas. Dulu ekspor didominasi biji mentah. Sekarang rantainya diperpanjang ke roasted coffee, kopi instan, specialty coffee, dan produk siap konsumsi. Margin bergerak naik ketika proses bertambah panjang.
Cerita serupa terlihat di lada. Sepanjang 2025, ekspor lada Vietnam mencetak rekor US$1,66 miliar. Volume ekspor turun tipis 1,2% menjadi 247.482 ton, tetapi nilai naik 26%. Harga jual rata-rata terdorong kuat. Lada hitam berada di US$6.607 per ton, naik 36,2%. Lada putih US$8.629 per ton, naik 33,6%.
Peta pasarnya juga luas. Amerika Serikat masih menjadi pembeli terbesar dengan 55.082 ton atau 22,3% dari total ekspor. Setelah itu Uni Emirat Arab 22.232 ton, China 19.923 ton, India 12.499 ton, dan Jerman 11.820 ton. Ketergantungan pada satu negara menjadi lebih kecil ketika pembeli tersebar.
Di sisi lain, Vietnam tetap realistis. Untuk menjaga pasokan industri, mereka juga mengimpor 42.688 ton lada senilai US$266,2 juta pada 2025. Mayoritas berasal dari Brasil, Kamboja, dan Indonesia. Artinya Vietnam bermain sebagai pusat pengolahan dan re-ekspor, bukan sekadar produsen bahan mentah.
Ambisi "world's kitchen" juga dipoles lewat jalur kuliner. Hanoi meraih reputasi kuat sebagai kota makanan. Ho Chi Minh City masuk radar wisata gastronomi global. Michelin Guide terus menambah cakupan di Vietnam. Dampaknya luas: restoran mengangkat nama negara, pariwisata membawa konsumen baru, lalu produk pangan ikut masuk ke rak ritel luar negeri.
Namun pekerjaan rumahnya masih besar. Banyak pelaku usaha mengeluhkan kualitas bahan baku yang belum seragam. Ukuran, tingkat kematangan, residu pestisida, hingga standar logistik masih perlu dibereskan. Pasar premium membeli konsistensi. Tanpa itu, harga tinggi sulit bertahan.
Arah Vietnam kini cukup terang. Negara ini ingin bergerak dari eksportir komoditas ke pemasok makanan bernilai tinggi. Jika strategi standardisasi, hilirisasi, dan promosi berjalan konsisten, label "dapur dunia" bukan slogan kosong. Itu bisa berubah menjadi mesin devisa baru Asia Tenggara.
Bagaimana dengan Indonesia?
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor pertanian, kehutanan, dan pertanian pada 2025 sebesar US$ 6,88 miliar atau sepersepuluh dari Vietnam. Komoditas ekspor terbesar adalah kopi yakni US$ 2,5 miliar.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)
















































