Kanthi Malikhah, CNBC Indonesia
15 April 2026 19:50
Jakarta, CNBC Indonesia - Utang Amerika Serikat (AS) kini mencapai US$39 triliun. Namun, struktur kepemilikan utang Amerika Serikat mengungkap realitas yang sering disalahpahami.
Selama ini, banyak yang percaya bahwa China membiayai utang Amerika Serikat. Namun pada kenyataannya, Amerika lebih banyak berutang pada dirinya sendiri.
Mayoritas Utang AS dipegang Dalam Negeri
Dominasi kepemilikan domestik menjadi salah satu karakter utama dalam struktur utang Amerika Serikat (AS) saat ini.
Di tengah persepsi bahwa pembiayaan utang AS sangat bergantung pada investor asing, data justru menunjukkan bahwa sebagian besar surat utang pemerintah dipegang oleh pelaku keuangan dalam negeri.
Dominasi investor domestik dalam pembiayaan utang Amerika Serikat tetap kuat. Secara agregat, kelompok ini termasuk reksa dana, dana pensiun, perbankan, dan investor individu menguasai sekitar 45% dari total utang.
Di sisi lain, permintaan terbesar berasal dari institusi jangka panjang. Reksa dana dan dana pensiun menjadi pemegang terbesar dengan porsi 17%, mencerminkan peran obligasi pemerintah AS sebagai aset aman (safe haven) dalam portofolio investasi.
Selain itu, bank sentral AS, Federal Reserve, juga memegang sekitar 11% dari total utang, menjadikannya salah satu kreditur utama yang bahkan melampaui masing-masing negara asing terbesar.
Sementara itu, kepemilikan asing cenderung tersebar dan tidak terkonsentrasi, dengan Jepang sebagai pemegang terbesar hanya sekitar 3%, diikuti Inggris dan China masing-masing sekitar 2%.
Dampak Utang Tinggi AS
Amerika Serikat saat ini termasuk dalam kelompok negara dengan rasio utang terhadap PDB tertinggi di dunia, dengan pertumbuhan utang sekitar US$1 triliun setiap tiga bulan.
Seiring meningkatnya utang, porsi anggaran pemerintah yang dialokasikan untuk pembayaran bunga juga semakin besar, sehingga mengurangi ruang belanja untuk sektor prioritas seperti infrastruktur, pertahanan, dan program sosial.
Dalam jangka menengah, beban utang yang tinggi berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi. Kondisi ini dapat berdampak pada melambatnya kenaikan upah dan terbatasnya penciptaan lapangan kerja. Di saat yang sama, tekanan fiskal juga dapat mendorong kenaikan suku bunga, yang pada akhirnya meningkatkan biaya pinjaman bagi masyarakat, termasuk kredit perumahan, pinjaman kendaraan, hingga kartu kredit.
(mae/mae)
Addsource on Google
















































