Amalia Zahira, CNBC Indonesia
15 April 2026 14:10
Jakarta, CNBC Indonesia - Dana Moneter Internasional (IMF) merevisi pertumbuhan sejumlah negara dalam laporan terbarunya World Economic Outlook edisi April 2026. Ada lima negara di Timur Tengah yang diperkirakan kontraksi, bahkan hingga 8% pada tahun ini.
Dalam laporan World Economic Outlook 2026 edisi April Economy in The Shadow of War, IMF merevisi posisi negara-negara di Timur Tengah.
Berikut daftar negara-negara yang diramalkan paling "sengsara" pada tahun 2026.
Serangan terhadap ladang gas Ras Laffan di Qatar pada 18 Maret mengantarkan negara ini ke posisi teratas pada daftar tersebut dengan proyeksi kontraksi hingga 8.6%.
Selain itu, terhambatnya jalur perdagangan turut memperparah kondisi negara eksportir utama gas alam ini. Liquefied natural gas (LNG) atau gas alam, merupakan komoditas utama Qatar, sehingga gangguan pada sektor ini akan memberikan dampak yang sangat signifikan pada perekonomian Qatar.
Serupa dengan Qatar, negara-negara di wilayah Teluk yang turut menggantungkan kondisi ekonominya pada sektor energi juga dilaporkan akan mengalami kontraksi pada tahun ini.
Walau begitu, pertumbuhan ekonomi negara-negara tersebut diproyeksikan bisa pulih pada 2027.
Sebaliknya, apabila konflik berlangsung lebih lama atau tingkat kerusakan yang terjadi lebih besar dari perkiraan awal.
Selain negara pengekspor energi, negara pengimpor di Timur Tengah dan Afrika Utara juga terdampak kenaikan harga komoditas, sehingga pertumbuhan 2026 direvisi turun secara moderat.
Dampaknya berbeda antarnegara, tergantung pada ketergantungan impor energi dan kondisi ekonomi awal.
Pemulihan di Tengah Ketidakpastian Kawasan
Secara kawasan, Timur Tengah dan Asia Tengah diproyeksikan mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi dari 3,6 % pada 2025 menjadi 1,9 % pada 2026, sebelum kembali meningkat menjadi 4,6 % pada 2027.
Penurunan ini mencerminkan dampak langsung dari konflik yang mengganggu stabilitas ekonomi kawasan, terutama melalui penurunan produksi dan ekspor di negara-negara pengekspor komoditas, termasuk energi.
Besarnya tekanan tersebut sangat dipengaruhi oleh tingkat kerusakan infrastruktur energi dan transportasi, serta ketergantungan pada jalur strategis seperti Selat Hormuz dan ketersediaan rute ekspor alternatif. Namun demikian, prospek pemulihan tetap terbuka.
(mae/mae)
Addsource on Google
















































