Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
15 April 2026 16:25
Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah dominasi dolar Amerika Serikat (AS) yang masih sangat kuat dalam perdagangan dan sistem keuangan global, Indonesia mulai menyiapkan bantalan agar tidak terlalu bergantung pada mata uang Negeri Paman Sam tersebut.
Upaya itu dilakukan lewat diversifikasi transaksi, mulai dari penggunaan mata uang lokal hingga kerja sama keuangan dengan bank sentral negara mitra. Salah satu buktinya adalah keberadaan Bilateral Currency Swap Arrangement atau perjanjian swap mata uang bilateral.
Chief Economist BCA David Sumual menilai skema ini penting karena bisa menjadi bantalan tambahan saat pasar keuangan bergejolak, tekanan dolar meningkat, atau likuiditas valas mengetat.
Swap Bilateral Jadi Bantalan Saat Dolar Menekan
Salah satu bukti paling konkret dari upaya Indonesia mengurangi ketergantungan pada dolar AS adalah keberadaan Bilateral Currency Swap Arrangement. Secara sederhana, ini adalah perjanjian kerja sama antara dua bank sentral untuk saling menyediakan likuiditas dalam mata uang masing-masing jika sewaktu-waktu dibutuhkan.
Skema ini penting karena dapat menjadi bantalan tambahan saat pasar keuangan bergejolak, tekanan terhadap dolar meningkat, atau likuiditas valas mengetat. Dengan kata lain, Indonesia tidak hanya mengandalkan cadangan devisa, tetapi juga memiliki jalur darurat tambahan lewat kerja sama dengan bank sentral negara mitra.
Chief Economist BCA David Sumual mengatakan Indonesia sudah memiliki perjanjian swap bilateral dengan China, Jepang, Australia, dan Korea Selatan, dengan total nilai sekitar US$90-100 miliar. Menurut dia, fasilitas ini bisa berfungsi sebagai secondary buffer atau bantalan kedua ketika pasar mengalami tekanan berat.
"Semacam asuransi atau secondary buffer. Kalau ada kondisi traumatik seperti 1998, sekarang kita sudah punya perjanjian seperti ini," kata David dalam acara Central Banking Forum 2026 CNBC Indonesia di Jakarta, Senin (13/4/2026).
Nilai bilateral currency swap Indonesia tercatat cukup besar. Dengan Malaysia, nilainya mencapai MYR 8 miliar atau sekitar Rp28 triliun. Dengan Singapura sebesar US$10 miliar atau sekitar Rp171 triliun. Sementara dengan Jepang, nilainya paling jumbo, yakni US$22,76 miliar atau sekitar Rp389 triliun.
Adapun kerja sama dengan Korea Selatan mencapai KRW 10,7 triliun atau sekitar Rp115 triliun. Sementara itu, kerja sama dengan China tercatat sebesar CNY 400 miliar atau setara US$55,79 miliar, berdasarkan bahan presentasi tersebut.
Keberadaan fasilitas ini penting karena memberi tambahan likuiditas saat pasar valas sedang bergejolak. Dengan begitu, ketika tekanan dolar meningkat atau pasar mengalami kekurangan likuiditas, Indonesia tidak hanya mengandalkan cadangan devisa utama, tetapi juga memiliki bantalan tambahan dari kerja sama antarbank sentral.
Bukan Cuma Swap, Transaksi Mata Uang Lokal Juga Didorong
Selain swap bilateral, tanda lain bahwa Indonesia mulai mengurangi ketergantungan pada dolar adalah perluasan transaksi mata uang lokal dan sistem pembayaran lintas negara.
Dalam bahan presentasi, Indonesia tercatat sudah mengimplementasikan QRIS Cross Border dengan Malaysia, Singapura, Thailand, Jepang, dan Korea Selatan. Sementara kerja sama dengan Filipina dan Brunei Darussalam masih dalam tahap perencanaan.
Untuk Local Currency Transaction (LCT), implementasi sudah berjalan dengan Malaysia, China, Thailand, Jepang, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab. Adapun dengan Singapura, Filipina, India, serta Vietnam masih berada dalam tahap perencanaan.
Arah kebijakan ini menunjukkan bahwa Indonesia mulai membangun ekosistem transaksi kawasan yang tidak sepenuhnya bergantung pada dolar AS. Semakin besar porsi perdagangan dan transaksi keuangan yang bisa dilakukan langsung dalam mata uang lokal, semakin kecil pula kebutuhan dolar untuk transaksi antara dua negara.
Foto: BCA
QRIS Cross Border & Local Currency Transaction
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google
















































