REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Universitas Indonesia (UI) bersama mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Korea Selatan mengembangkan sistem pengelolaan sampah berbasis komunitas di Rusunawa KS Tubun, Jakarta Barat. Program tersebut bertujuan memperkuat budaya pemilahan sampah sekaligus mendorong pengelolaan sampah yang berkelanjutan di kawasan hunian vertikal.
Berdasarkan siaran pers yang diterima pada Jumat (26/6/2026), program yang diinisiasi Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Sosial (DPIS) UI itu melibatkan Korea-Indonesia Connection (KIC) FISIP UI, Ink & Talk Community, serta Karang Taruna Rusunawa KS Tubun. Kegiatan dipimpin dosen Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP UI, Getar Hati, yang juga menjabat Program Director Korea-Indonesia Connection FISIP UI.
Program tersebut disusun berdasarkan hasil penilaian awal yang menunjukkan pengelolaan sampah rumah tangga di Rusunawa KS Tubun masih didominasi pembuangan tanpa pemilahan, meski warga telah memiliki akses terhadap layanan pengangkutan sampah. Di sisi lain, tingginya partisipasi masyarakat dalam berbagai kegiatan bersama dinilai menjadi modal untuk membangun sistem pengelolaan sampah berbasis komunitas.
Melalui pendekatan partisipatif, tim pelaksana menggelar sejumlah kegiatan, mulai dari diskusi mengenai sistem pengelolaan sampah di Korea Selatan, pelatihan bahasa Inggris dan bahasa Korea dasar, pengembangan jejaring internasional, hingga penyusunan sistem pengelolaan sampah untuk hunian vertikal.
Pemuda yang tergabung dalam Karang Taruna mendapat pelatihan mengenai kepemimpinan, komunikasi lintas budaya, dan pengelolaan sampah berkelanjutan agar dapat menjadi penggerak perubahan di lingkungan tempat tinggal mereka.
Kolaborasi internasional melibatkan mahasiswa dari Busan University of Foreign Studies, Hankuk University of Foreign Studies, Chung-Ang University, dan Seoul National University. Mereka berbagi pengalaman mengenai sistem pemilahan sampah rumah tangga, pengelolaan lingkungan perkotaan, serta praktik keberlanjutan yang diterapkan di Korea Selatan.
Program juga diisi dengan pelatihan pengolahan sampah organik melalui budidaya larva Black Soldier Fly (BSF). Warga diajak memanfaatkan sampah organik menjadi sumber daya yang memiliki nilai guna sekaligus mengurangi volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir.
Setelah tahap implementasi, tim melakukan monitoring dan evaluasi untuk mengukur perubahan pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah. Hasil evaluasi diharapkan menjadi dasar penyempurnaan model pengelolaan sampah berbasis komunitas yang dapat diterapkan di hunian vertikal lain di Jakarta.
Tim pelaksana berharap kolaborasi antara masyarakat, perguruan tinggi, dan mitra internasional tersebut dapat memperkuat kerja sama Indonesia dan Korea Selatan dalam mengembangkan solusi lingkungan perkotaan sekaligus mendorong pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.

2 hours ago
1














































