Jakarta, CNBC Indonesia - Kevin Warsh resmi dilantik Chairman bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) menggantikan Jerome Powell, pada Jumat (22/5/2026).
Warsh dilantik pada Jumat setelah proses nominasi yang kontroversial. Senat AS menyetujui pengangkatannya berdasarkan garis partai, baik untuk posisi gubernur maupun ketua The Fed. Hanya Senator Pennsylvania, John Fetterman, yang mendukung pencalonannya dari kubu Demokrat.
Pria berusia 56 tahun ini akan memimpin bank sentral AS di tengah sorotan terhadap independensi The Fed akibat tekanan politik terhadap lembaga yang selama ini dikenal nonpartisan tersebut.
Warsh akan menghadapi ujian berat dalam mengelola ekonomi dan inflasi di tengah ekspektasi Presiden AS, Donald Trump, terkait arah suku bunga.
Dikenal kritis terhadap kebijakan krisis The Fed pada masa lalu, Warsh berjanji mengurangi dominasi bank sentral di pasar keuangan dan mengendalikan inflasi sambil membuka peluang penurunan suku bunga. Penunjukannya mengakhiri proses seleksi yang kompetitif dan menandai babak baru bagi The Fed di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Presiden AS, Donald Trump, dalam sambutannya mengatakan ingin Warsh tetap independen.
"Saya ingin Kevin benar-benar independen dan melakukan pekerjaan dengan baik. Jangan melihat saya dan jangan melihat siapa pun. Jalankan tugas Anda sendiri," kata Trump, dikutip dari CNBC International.
Dalam sidang konfirmasi di Komite Perbankan Senat, Senator Demokrat Elizabeth Warren menuduh Warsh sebagai "boneka" Trump. Warsh membantah tuduhan tersebut dan menegaskan tetap independen dalam mengambil keputusan kebijakan moneter.
Saat Joe Biden masih menjabat presiden, Warsh sempat menolak pemangkasan suku bunga. Namun, sikapnya berubah setelah Trump kembali menjabat. Pada Desember 2025, Trump menyatakan hanya akan menunjuk pemimpin bank sentral yang mendukung penurunan suku bunga.
Meski demikian, Warsh tidak bisa menentukan kebijakan sendiri karena ia hanya satu dari 12 anggota pemungutan suara di Federal Reserve.
Rapat kebijakan pertama yang dipimpin Warsh dijadwalkan berlangsung pada 16-17 Juni mendatang.
Tekanan dari Gedung Putih untuk memangkas suku bunga muncul di tengah meningkatnya inflasi di AS.
Indeks harga konsumen AS naik 0,6% pada April setelah meningkat 0,9% pada Maret, menurut data terbaru Biro Statistik Tenaga Kerja AS. Secara tahunan, inflasi mencapai 3,8%, tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
Lonjakan terbesar berasal dari harga energi yang naik 17,9% dalam setahun terakhir.
Konsumen AS juga semakin terbebani harga bahan bakar. Menurut data AAA, harga rata-rata bensin mencapai US$4,56 per galon, naik dari US$2,98 per galon pada 28 Februari ketika AS dan Israel pertama kali menyerang Iran.
Setelah dilantik, Warsh mengatakan dirinya "tidak naif" terhadap tantangan ekonomi AS dan yakin inflasi bisa ditekan sambil menjaga pertumbuhan tetap kuat.
Namun, lonjakan harga dapat membuat The Fed sulit memangkas suku bunga. Analis JPMorgan Chase memperkirakan suku bunga kemungkinan tetap bertahan hingga pertengahan 2027 dan bahkan masih berpotensi naik.
Dalam risalah rapat April yang baru dirilis, The Fed menyebut inflasi berpotensi lebih persisten dari perkiraan akibat konflik Timur Tengah dan tekanan harga baru di sejumlah sektor.
Sementara itu, alat FedWatch milik CME Group menunjukkan peluang sebesar 97% bahwa suku bunga akan tetap tidak berubah pada rapat kebijakan berikutnya.
Ujian Terbesar Warsh Adalah Trump Tantangan terbesar Warsh bukan sekadar soal kemampuan teknis mengelola suku bunga, melainkan bagaimana dia menghadapi tekanan politik dari Presiden Donald Trump. Trump selama ini terus menekan The Fed agar menurunkan suku bunga. Padahal, inflasi AS sudah bertahan di atas target selama lima tahun terakhir. Kondisi ini membuat The Fed menghadapi salah satu krisis kredibilitas terbesar dalam 50 tahun terakhir. Warsh pernah menyampaikan pidato berjudul "An Ode to Independence", yang menekankan pentingnya independensi bank sentral. Dalam sidang konfirmasi, dia juga menegaskan pentingnya kredibilitas The Fed.
Karena itu, ujian sesungguhnya bagi Warsh adalah apakah dia mampu menahan tekanan dari Trump. Jika dia bisa menjaga independensi The Fed dan membawa bank sentral AS ke arah yang lebih stabil, Warsh bisa saja dikenang sebagai salah satu Ketua The Fed yang besar. Mengenal Lebih Dekat Kevin Warsh Warsh bukan figur asing bagi lingkaran kekuasaan Washington. Dia pernah menjabat sebagai Gubernur The Fed pada 2006-2011, termasuk saat krisis keuangan global 2008. Pada masa itu, Warsh dikenal sebagai salah satu penghubung utama antara Ketua The Fed saat itu, Ben Bernanke, dengan Wall Street. Rekam jejak tersebut membuat Warsh dipandang memahami cara kerja pasar keuangan, terutama ketika tekanan ekstrem muncul. Ia juga dikenal sebagai ekonom di Hoover Institution dan pengajar di Stanford Graduate School of Business. Hubungan Warsh dengan Trump juga bukan hal baru. Warsh sebenarnya sudah lama masuk radar untuk memimpin The Fed. Pada 2017, dia sempat menjadi runner-up untuk kursi Ketua The Fed sebelum Trump akhirnya memilih Jerome Powell. Belakangan, Trump beberapa kali menyebut dirinya mendapat nasihat yang buruk saat memilih Powell, terutama setelah The Fed menaikkan suku bunga pada 2018. Dari situ, nama Warsh tetap bertahan sebagai salah satu figur yang dinilai paling sejalan dengan keinginan Trump untuk membawa arah baru di bank sentral AS. Koneksi Warsh ke lingkaran elite bisnis AS juga kuat. Pada 2002, dia menikahi Jane Lauder, cucu dari keluarga besar Estée Lauder yang memiliki kekayaan bersih sekitar US$2,7 miliar. Dari jalur keluarga ini pula, Warsh terhubung dengan nama besar lain, yakni Ronald Lauder, ayah mertuanya yang juga miliarder. Ronald Lauder diketahui merupakan teman sekelas Donald Trump pada era 1960-an dan kemudian menjadi salah satu penyumbang dana kampanye presiden Trump pada 2016. Dampak ke Indonesia
Pelantikan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed berpotensi membawa dampak besar terhadap pasar keuangan Indonesia. Kebijakan suku bunga Amerika Serikat diperkirakan menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah, arus modal asing, hingga stabilitas pasar domestik.
Jika The Fed nantinya mempertahankan atau menaikkan suku bunga maka akan berdampak besar buat rupiah. Pasalnya, keputusan The Fed bisa memicu modal asing berpotensi keluar. Dana investor dapat berpindah ke aset AS yang dinilai lebih aman.
Kenaikan suku bunga The Fed juga akan membuat biaya utang makin mahal. Kenaikan bunga global meningkatkan biaya pinjaman sehingga pemerintah dan korporasi harus membayar bunga lebih tinggi.
IHSG diperkirakan lebih volatil jika The Fed tidak kunjung memangkas suku bunga di mana saham teknologi dan growth stock biasanya paling terdampak.
Jika The Fed kembali hawkish maka ada potensi Bank Indonesia untuk kembali menaikkan suku bunga sehingga akan menekan permintaan kredit di dalam negeri.
Meski demikian, terdapat peluang positif apabila Kevin Warsh mampu menurunkan inflasi AS dan menjaga stabilitas ekonomi Amerika Serikat. Kondisi tersebut dapat mengurangi tekanan terhadap pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
(mae/mae)
Addsource on Google














































