Bos Himbara: Tak Cuma Simpan Duit, Bank Jadi Mesin Teknologi Keuangan

13 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Transformasi digital menjadi kata kunci utama industri perbankan nasional dalam beberapa tahun terakhir.

Perubahan teknologi, perilaku nasabah, hingga perkembangan artificial intelligence (AI) membuat bank tak lagi sekadar menjadi lembaga penghimpun dan penyalur dana, tetapi juga bertransformasi menjadi perusahaan teknologi berbasis layanan keuangan.

Hal tersebut mengemuka dalam diskusi pemangku bisnis perbankan dalam acara Jogja Financial Festival (Finfest) 2026 di Yogyakarta pada hari ini, Sabtu (23/5/2026).

Dialog ini menghadirkan Hery Gunardi yang merupakan Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Nixon LP Napitupulu selaku Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, Anggoro Eko Cahyo yang merupakan Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk, Novita Widya Anggraini sebagai Direktur Keuangan & Strategi - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, dan Abu Santosa Sudradjat yang merupakan Direktur Treasury & International Banking - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.

1. Jaman Berubah, BRI Gencarkan Layanan Digital

Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia, Hery Gunardi, mengatakan fungsi dasar bank sejatinya adalah lembaga intermediari yang menghimpun dana masyarakat lalu menyalurkannya kembali ke sektor usaha.

"Nah dari aktivitas menyalurkan dana tadi, perbankan tentunya mendapatkan margin, kita namakan net interest margin. Di situlah bank hidup," ujar Hery dalam Business Talk The Bankers di Jogja Expo Center, Sabtu (23/5/2026).

Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Hery Gunardi saat menyampaikan pemaparan dalam Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, DIY, Sabtu (23/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Hery Gunardi saat menyampaikan pemaparan dalam Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, DIY, Sabtu (23/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman) Foto: Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Hery Gunardi saat menyampaikan pemaparan dalam Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, DIY, Sabtu (23/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Namun menurutnya, industri perbankan telah mengalami evolusi besar. Ia mengutip pandangan penulis perbankan dunia Brett King mengenai perkembangan bank dari era Bank 1.0 hingga Bank 4.0.

Pada era awal, layanan bank hanya sebatas cek dan giro. Kemudian berkembang ke ATM yang memungkinkan layanan 24 jam, lalu internet banking yang membuat transaksi bisa dilakukan tanpa datang ke cabang.

Kini industri masuk ke era fintech, digitalisasi, AI, dan Gen AI yang mengubah perilaku nasabah secara drastis.

"Digital ini memang sudah mengubah behavior nasabah, baik di Indonesia maupun global," katanya.

Menurut Hery, pandemi Covid-19 menjadi momentum percepatan digitalisasi terbesar di sektor keuangan. Ketika masyarakat tidak bisa datang ke cabang bank atau ATM, penggunaan mobile banking melonjak tajam.

Mengutip data Bank Indonesia, Hery menyebut selama pandemi terdapat tambahan sekitar 50-60 juta pengguna baru internet banking dan mobile banking.

Ia menilai bank saat ini tidak punya pilihan selain bertransformasi menjadi perusahaan teknologi.

"Bank is a technology company with bank license. Jadi sebenarnya bank itu perusahaan teknologi yang punya lisensi bank," ujarnya.

Transformasi tersebut, lanjut Hery, bukan hanya soal digitalisasi dan otomasi, tetapi juga integrasi AI serta open banking.

Konsep open banking membuat bank harus memiliki Application Programming Interface (API) yang memungkinkan konektivitas dengan bank lain maupun perusahaan fintech.

"Kalau tidak mengikuti tren ini, bank akan ditinggalkan customer," katanya.

BRI sendiri kini memiliki ekosistem digital besar melalui BRImo, QRIS, dan Agen BRILink. Hery menyebut transaksi BRImo mencapai Rp32 triliun per hari atau sekitar Rp7.500 triliun per tahun.

Selain itu, Agen BRILink kini mencapai sekitar 1,2 juta agen yang tersebar hingga pelosok desa di seluruh Indonesia.

2. BNI Jadikan Jarinan Global Sebagai Kekuatan Utama

Di sisi lain, Direktur Treasury & International Banking Bank Negara Indonesia, Abu Santosa Sudradjat, mengatakan digitalisasi dan jaringan global menjadi kekuatan utama BNI untuk membantu pelaku usaha Indonesia menembus pasar internasional.

BNI saat ini memiliki delapan financial center dan 10 cabang internasional yang berfungsi sebagai penghubung bisnis Indonesia dengan pasar dunia.

"Kami punya jaringan internasional besar. Bisnis utama kami menjadi gateway penghubung dunia internasional dan Indonesia, dan sebaliknya," ujar Abu.

Menurutnya, banyak UMKM Indonesia sebenarnya memiliki produk unggulan dan potensi besar masuk pasar global. Namun tantangan terbesar adalah akses dan konektivitas internasional.

Karena itu, BNI tidak hanya menyediakan pembiayaan, tetapi juga mendampingi pelaku usaha melalui layanan trade finance, business matching, hingga akses informasi pasar internasional.

BNI juga memiliki program BNI Xpora yang membantu UMKM meningkatkan kapasitas usaha agar siap bersaing di luar negeri.

"Kami bantu UMKM meningkatkan kapasitas usaha untuk masuk ke luar negeri dan memperkuat digitalisasi untuk memudahkan mengelola keuangan dan go global," katanya.

Selain itu, BNI juga memperluas layanan untuk diaspora Indonesia melalui diaspora saving dan diaspora loan.

Abu menyebut terdapat sekitar 8 juta diaspora Indonesia di seluruh dunia yang menjadi potensi besar bagi pengembangan bisnis internasional BNI.

Tak hanya itu, BNI juga aktif membawa investor asing masuk ke Indonesia melalui jaringan global yang dimiliki perseroan.

"Kami bisa memberikan end-to-end solution ke investor mulai engagement, onboarding, trade finance, dan menjadi strategic partner," pungkasnya.

Direktur Treasury & International Banking - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, Abu Santosa Sudradjat saat menyampaikan pemaparan dalam Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, DIY, Sabtu (23/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)Direktur Treasury & International Banking - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, Abu Santosa Sudradjat saat menyampaikan pemaparan dalam Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, DIY, Sabtu (23/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman) Foto: Direktur Treasury & International Banking - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, Abu Santosa Sudradjat saat menyampaikan pemaparan dalam Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, DIY, Sabtu (23/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

3. BTN Menggiatkan Digitalisasi dan KPR

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BTN) mengandalkan program kredit pemilikan rumah (KPR) subsidi dan digitalisasi untuk memperluas inklusi keuangan, khususnya bagi masyarakat unbanked atau yang belum tersentuh layanan perbankan.

Direktur Utama Bank Tabungan Negara, Nixon LP Napitupulu, mengatakan saat ini terdapat dua fokus utama BTN dalam memperluas akses layanan keuangan masyarakat.

"Pertama dari KPR tentu dibantu pemerintah. Pemerintah membuat program KPR subsidi yang dibatasi maksimum income karena memang menyasar masyarakat berpenghasilan rendah yang banyak unbanked," ujar Nixon.

Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, Nixon LP Napitupulu saat menyampaikan pemaparan dalam Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, DIY, Sabtu (23/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, Nixon LP Napitupulu saat menyampaikan pemaparan dalam Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, DIY, Sabtu (23/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman) Foto: Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, Nixon LP Napitupulu saat menyampaikan pemaparan dalam Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, DIY, Sabtu (23/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Menurut Nixon, pemerintah membagi kelompok masyarakat berdasarkan desil pendapatan. Untuk kelompok desil 3 hingga 8, intervensi dilakukan melalui program KPR subsidi.

Sementara itu, masyarakat pada desil 1 dan 2 yang paling rentan mendapatkan bantuan melalui program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS).

"Pemerintah kasih bantuan Rp20 juta sampai Rp25 juta per rumah tangga. Tahun ini ada sekitar 400 ribu penerima," katanya.

Nixon mengungkapkan sejak program berjalan, BTN telah menyalurkan KPR subsidi untuk sekitar 6 juta rumah.

Penyaluran KPR BTNPenyaluran KPR BTN Foto: BTN

Pemerintah juga tengah mengkaji tenor KPR hingga 40 tahun agar akses kepemilikan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah semakin mudah.

"Harapannya desil 1-2 juga bisa dapat akses," ujarnya.

Selain sektor pembiayaan rumah, BTN juga agresif melakukan transformasi digital untuk memperluas penetrasi layanan perbankan.

Menurut Nixon, penetrasi telepon seluler di Indonesia kini jauh lebih besar dibanding kepemilikan rekening bank. Karena itu, digitalisasi menjadi strategi penting memperluas inklusi keuangan.

"BTN usianya sudah lebih dari 70 tahun dengan sekitar 6 juta KPR. Tapi mobile banking belum sampai tiga tahun sudah mencapai 5 juta akun," katanya.

Ia menilai perkembangan mobile banking bahkan mampu melampaui penetrasi layanan KPR konvensional.

"Menurut saya jumlah KPR bisa di-take over user mobile," ujar Nixon.

Dengan layanan digital, masyarakat kini bisa membuka akses layanan perbankan langsung dari rumah tanpa harus datang ke kantor cabang.

"Penetration rate sekarang lebih mudah karena mobile bisa dibuka dari rumah," pungkasnya.

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research