Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Efek Indonesia (BEI), pemerintah, hingga lembaga pembiayaan PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) berkomitmen terus melakukan reformasi dan menjaga kesinambungan ekonomi Indonesia.
Komitmen tersebut disampaikan dalam acara Jogja Financial Festival di Yogyakarta pada hari ini, Sabtu (23/5/2026).
1. Pemerintah Andalkan SBN Untuk Biayai APBN
Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Suminto, menjelaskan alasan pemerintah terus menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN) untuk membiayai APBN.
Menurut Suminto, APBN menjadi salah satu mesin utama pertumbuhan ekonomi nasional sehingga pemerintah perlu menjaga belanja negara tetap ekspansif agar pembangunan dan kesejahteraan masyarakat terus berjalan.
"APBN adalah instrumen penting pembangunan. APBN kita desain defisit itu adalah cara kita mengelola APBN dengan ekspansif. Pemerintah perlu belanja lebih besar supaya ekonomi bergerak lebih kuat," ujar Suminto dalam acara Jogja Financial Festival di Yogyakarta, Sabtu (23/5/2026).
Karena APBN dirancang defisit, pemerintah membutuhkan pembiayaan tambahan melalui utang.
Namun berbeda dengan era 1970-1990-an yang lebih banyak bergantung pada pinjaman luar negeri seperti World Bank dan Asian Development Bank, kini mayoritas pembiayaan utang pemerintah berasal dari pasar keuangan domestik lewat penerbitan SBN.
"Sekarang sekitar 85%-87% pembiayaan utang APBN berasal dari penerbitan SBN," kata Suminto.
Ia menjelaskan SBN memiliki berbagai jenis, mulai dari konvensional hingga syariah. Selain itu, terdapat seri wholesale untuk institusi besar seperti perbankan dan asuransi, serta seri ritel yang ditujukan untuk investor individu.
Pemerintah juga terus mendorong masyarakat berinvestasi di SBN ritel seperti Obligasi Ritel Indonesia, Sukuk Ritel, dan Sukuk Tabungan.
Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Kementerian Keuangan RI, Suminto saat menyampaikan pemaparan dalam Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, DIY, Sabtu (23/5/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Kementerian Keuangan RI, Suminto saat menyampaikan pemaparan dalam Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, DIY, Sabtu (23/5/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Menurut Suminto, SBN ritel cocok bagi investor pemula karena memiliki risiko rendah dan imbal hasil tetap.
"Kalau mulai investasi, sebaiknya dari instrumen yang sederhana dan risikonya rendah," ujarnya.
Ia menjelaskan masyarakat bisa memulai dari tabungan dan deposito, lalu naik ke obligasi pemerintah atau fixed income, sebelum masuk ke instrumen dengan risiko lebih tinggi seperti saham.
Selain memperluas pembiayaan negara, pemerintah juga ingin meningkatkan literasi keuangan masyarakat agar tidak mudah terjebak investasi bodong atau instrumen berisiko tinggi tanpa pemahaman yang cukup.
2. Bursa Saham Terus Berbenah
Bursa Efek Indonesia (BEI) optimistis pasar modal Indonesia masih memiliki prospek cerah pada 2026 di tengah tingginya minat investasi masyarakat, khususnya generasi muda.
PJS Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Jeffrey Hendrik, mengatakan jumlah investor pasar modal terus melonjak sejak pandemi Covid-19.
"Dua tahun Covid jumlah investor tumbuh dari 4-5 juta menjadi 10 juta. Sekarang sudah mencapai 27,4 juta investor. Dalam lima tahun bertambah lebih dari 17 juta atau naik dua kali lipat," ujar Jeffrey dalam Jogja Financial Festival 2026, Sabtu (23/5/2026).
Menurut Jeffrey, lonjakan jumlah investor menunjukkan masyarakat semakin memahami investasi pasar modal dan tetap optimistis terhadap ekonomi Indonesia.
Bahkan sejak Januari hingga 20 Mei 2026, jumlah investor baru sudah bertambah sekitar 7,4 juta investor.
"Artinya optimisme dan kepercayaan tetap ada di pasar modal Indonesia," katanya.
PJS Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Jeffrey Hendrik saat menyampaikan pemaparan dalam Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, DIY, Sabtu (23/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman) Foto: PJS Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Jeffrey Hendrik saat menyampaikan pemaparan dalam Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, DIY, Sabtu (23/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Jeffrey menjelaskan investasi saham memiliki karakteristik berbeda dibanding obligasi. Obligasi dikenal sebagai fixed income karena memberikan imbal hasil pasti, sementara saham menawarkan potensi capital gain sekaligus risiko kerugian.
"Kalau perusahaan untung dan membagikan dividen maka pemegang saham akan mendapat bagian. Tapi harga saham juga bisa naik dan turun," ujarnya.
Di sisi lain, BEI juga menanggapi kritik investor terkait kebijakan Full Call Auction (FCA), UMA, hingga suspensi saham yang belakangan ramai diperdebatkan pelaku pasar.
Menurut Jeffrey, pengawasan perdagangan merupakan bagian penting dari perlindungan investor agar transaksi berjalan teratur, wajar, dan efisien.
"Kalau kami menemukan indikasi manipulasi harga tentu kami tindak," katanya.
Ia mengungkapkan saat ini BEI tengah mereview kebijakan FCA dan papan pemantauan khusus bersama pelaku pasar dan regulator.
"Minggu lalu kami sudah FGD dengan pelaku pasar termasuk yang kritis. Setelah ini kami susun draft dan disampaikan ke OJK," ujarnya.
Selain itu, BEI juga terus mendorong literasi pasar modal melalui kerja sama dengan lebih dari 1.000 perguruan tinggi di Indonesia lewat pendirian galeri investasi dan sekolah pasar modal.
Jeffrey berharap semakin banyak masyarakat, terutama anak muda, memahami investasi secara benar dan terhindar dari praktik investasi bodong.
3. SMI Bangun Infrastruktur, Menjaga Risiko
PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) mengungkap strategi menjaga rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) tetap sangat rendah di tengah tingginya risiko pembiayaan proyek infrastruktur jangka panjang.
"Ini menggambarkan exposure kami dalam pembiayaan infrastruktur di Indonesia," katanya.
Hingga akhir 2025, sebanyak 492 proyek secara kumulatif yang tersebar di seluruh Indonesia dengan pembiayaan kumulatif sebesar Rp 274,96 triliun.
Pembiayan SMI Foto: SMI
Lembaga keuangan nonbank di bawah Kementerian Keuangan Republik Indonesia itu mencatat rasio NPL hanya sekitar 0,4%, jauh di bawah rata-rata industri pembiayaan.
Perwakilan PT Sarana Multi Infrastruktur mengatakan keberhasilan menjaga kualitas pembiayaan tersebut dilakukan melalui proses seleksi proyek yang ketat, mitigasi risiko, hingga monitoring proyek secara berkelanjutan.
"Alhamdulillah kami bisa menjaga NPL di bawah 1%, tepatnya sekitar 0,4%. Ini kinerja yang sangat kami banggakan," ujarnya dalam Jogja Financial Festival 2026.
Sebagai lembaga pembiayaan infrastruktur, PT SMI memiliki mandat untuk mempercepat pembangunan nasional melalui pembiayaan berbagai proyek strategis.
Pembiayaan yang diberikan mencakup badan usaha hingga pemerintah daerah, dengan tenor sangat panjang.
"Infrastruktur adalah pembiayaan jangka panjang. Ada pinjaman kami yang sampai 19 tahun door to door," katanya.
Direktur Utama PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero), Reynaldi Hermansjah saat menyampaikan pemaparan dalam Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, DIY, Sabtu (23/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman) Foto: Direktur Utama PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero), Reynaldi Hermansjah saat menyampaikan pemaparan dalam Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, DIY, Sabtu (23/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Karena itu, tantangan terbesar pembiayaan infrastruktur bukan hanya saat proyek berjalan, melainkan sejak tahap persiapan proyek atau project preparation.
Menurutnya, kualitas persiapan proyek menjadi faktor utama agar pembangunan dapat berjalan sesuai target dan proyeksi awal.
"Project preparation itu sangat penting supaya proyek berjalan sesuai rencana," ujarnya.
PT SMI sendiri telah terlibat dalam berbagai proyek besar nasional. Salah satunya pembiayaan Jalan Tol Jogja-Solo yang saat ini menjadi salah satu proyek strategis di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Selain itu, PT SMI juga membiayai pembangunan Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (UGM).
Menariknya, pembiayaan rumah sakit tersebut menjadi pembiayaan PTNBH pertama di Indonesia yang menggunakan skema syariah.
(mae/mae)
Addsource on Google














































