Anak Muda Harus Jadi Investor Cerdas, Bukan FOMO Ikut Tren

11 hours ago 2

Romys Binekasri & Aisha Mayra,  CNBC Indonesia

22 May 2026 13:42

Yogyakarta, CNBC Indonesia - Generasi muda menjadi tumpuan ekonomi Indonesia ke depan. Literasi mereka di sektor keuangan pun perlu ditingkatkan demi ekonomi yang sehat dan terus berkembang.

Mengingat pentingnya literasi keuangan tersebut, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) bersama CNBC Indonesia menggelar Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 22-24 Mei 2026.

Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu menjelaskan dunia saat ini bergerak sangat cepat.

Di era ketika transaksi keuangan bisa dilakukan dalam hitungan detik, generasi muda Indonesia tumbuh menjadi kelompok paling aktif dalam ekonomi digital.

Mereka bukan lagi sekadar target pasar. Hari ini, anak muda mulai menjadi investor ritel, pengguna dompet digital, pendiri bisnis baru, hingga penggerak utama konsumsi nasional.

Dalam banyak sektor, arah pertumbuhan ekonomi Indonesia semakin dipengaruhi oleh cara generasi muda membelanjakan dan mengelola uang mereka.

"Uang bergerak lebih cepat daripada pengembangan manusia. AI mulai mengganti banyak model bisnis. Transaksi keuangan digital berlangsung dalam hitungan detik. Namun pada saat yang sama literasi masyarakat belum tumbuh secepat industrinya. Inilah paradok sektor keuangan hari ini," tutur Anggito saat membuka acara Jogjakarta Financial Festival di Jogja Expo Centre (JEC) pada hari ini, Jumat (21/5/2026).

Laporan e-Conomy SEA dari Google menunjukkan ekonomi digital Indonesia tumbuh dua digit di berbagai sektor, dan diperkirakan mencapai hampir US$100 miliar pada 2025.

Nilai digital ekonomi RIFoto: https://economysea.withgoogle.com/report

Di saat yang bersamaan, masih ada gap literasi dan inklusi keuangan antara desa dan kota.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat indeks literasi keuangan di perkotaan sebesar 69,71% sementara di perdesaan sekitar 59,25%.

Sementara itu, indeks inklusi keuangan komposit di perkotaan lebih tinggi sebesar 78,41% dibandingkan perdesaan yaitu sebesar 70,13%.


"Kita menyaksikan fenomena mengkhawatirkan. Anak muda mudah membuka investasi tapi belum mampu menyusun perencanaan keuangan. Masyarakat makin aktif transaksi digital tetapi rekening masih pasif. Pinjol tumbuh cepat dan judi digital menyusup melalui platform ekonomi. Kejahatan keuangan menjamur," imbuh Anggito.

Anggito menambahkan adalah tanggung jawab bersama untuk tidak membiarkan teknologi tumbuh lebih cepat dibandingkan etika literasi.

Optimisme Saja Tidak Cukup

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan Generasi Z menyumbang lebih dari seperempat populasi Indonesia dan tumbuh sebagai generasi paling digital yang pernah dimiliki Indonesia.

Menurut Anggito, meningkatnya minat investasi di kalangan anak muda sebenarnya merupakan sinyal positif.

Generasi muda Indonesia kini mulai berkembang menjadi investor ritel, entrepreneur baru, hingga bagian dari penggerak ekonomi digital nasional.

Mantan Wakil Menteri Keuangan tersebut menyampaikan banyaknya anak muda yang mulai berinvestasi di saham, obligasi hingga kripto perlu disambut positif.

Namun ia mengingatkan bahwa pertumbuhan tersebut tetap perlu diimbangi pemahaman finansial yang memadai.

"Ini sinyal positif tetapi optimisme tanpa literasi dapat berubah jadi spekulasi. Karena itu edukasi harus berjalan lebih cepat dari euforia pasar," jelas Anggito.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan total investor pasar modal yang terdiri dari saham, obligasi, dan reksa dana mencapai 20,3 juta, meningkat 36,67% dari tahun 2024.

Secara khusus, untuk investor saham dan surat berharga lainnya, terdapat peningkatan lebih dari 2,2 juta investor menjadi 8,59 juta investor saham.

Jika dilihat dalam enam tahun atau sejak pandemi, investor pasar modal sudah melesat 421%.

Dari sisi partisipasi investor, rata-rata investor yang aktif bertransaksi per 29 Desember 2025 mencapai lebih dari 901 ribu per bulan. Selain itu, jika dilihat dari tipe investor, porsi transaksi investor ritel masih mendominasi sebesar 49,9%.

"Edukasi keuangan tak boleh eksklusif tak boleh hanya dipahami regulator dan pelaku industri. Literasi harus hadir dalam bahasa yang sederhana populer kreatif dan dekat dengan kehidupan masyarakat. Kami percaya inklusi keungan tanpa kepedulian sosial akan melahirkan masyarakat yang cerdas secara ekonomi tapi kehilangan empati," ujar Anggito.

Pernyataan itu terasa relevan di tengah fenomena FOMO investasi yang semakin sering muncul di media sosial. Ketika akses terhadap produk finansial semakin mudah, kemampuan memahami risiko dan mengambil keputusan secara rasional justru menjadi semakin penting.

Suasana dalam Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, DIY, Jumat (22/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)Foto: Suasana dalam Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, DIY, Jumat (22/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

(mae/mae)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research