Teknologi kecerdasan buatan (AI) generatif seperti ChatGPT makin populer.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Telkom Indonesia membangun platform chatbot internal berbasis kecerdasan buatan (AI). Ini dilakukan sebagai langkah antisipatif terhadap maraknya penggunaan AI publik seperti ChatGPT, Gemini, dan aplikasi sejenis.
Executive General Manager Digital Product Telkom Indonesia Komang Budi Aryasa mengatakan, sebelum memiliki platform internal, banyak karyawan cenderung menggunakan chatbot publik karena kemudahan aksesnya.
"Memang pertama kali pada saat perusahaan belum memiliki platform seperti ChatGPT di internal, pegawai cenderung menggunakan ChatGPT karena mudah sekali," ujar Komang dalam silaturahmi Ramadan Telkom di Jakarta, Senin (2/3/2026).
Namun, menurut dia, kemudahan tersebut menyimpan risiko serius bagi perusahaan. Karyawan bisa saja tanpa sadar mengunggah dokumen internal ke platform AI publik.
"Pada saat kita mengunggah dokumen itu, maka dokumen tersebut tersimpan di server mereka. Bisa jadi diakses kompetitor atau pihak yang tidak bertanggung jawab, dan terjadilah kebocoran data," kata Komang.
Untuk mengantisipasi risiko tersebut, Komang menilai perusahaan perlu mengambil langkah tegas secara top-down. Manajemen harus mengeluarkan aturan resmi yang melarang penggunaan AI publik untuk kebutuhan pekerjaan.
"Perusahaan harus mengeluarkan enforcement atau aturan. Bila perlu ada sanksinya jika ketahuan mengunggah dokumen perusahaan ke aplikasi terbuka ini," ujarnya.
Ia menyebutkan sejumlah perusahaan bahkan telah memblokir akses ke aplikasi AI publik melalui jaringan intranet. Jika karyawan membutuhkan bantuan AI, mereka diarahkan menggunakan GPT internal yang telah dibangun perusahaan.
"Kalau ingin bantuan, gunakan GPT internal yang sudah kita bangun. Hasilnya juga sama," kata Komang.

1 hour ago
1











































