Target 8% Kian Berat, Asuransi Umum Masuk Fase New Normal Growth?

3 hours ago 2

Achmad Aris,  CNBC Indonesia

02 January 2026 11:50

Key Takeaway

  • AAUI pesimistis target pertumbuhan premi industri asuransi umum pada 2025 bisa dicapai
  • 3 lini bisnis utama pendapatan premi industri asuransi umum mengalami perlambatan

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri asuransi umum Tanah Air sepertinya akan masuk fase new normal growth setelah kinerja pertumbuhan premi sulit menembus angka double digit sejak 2 tahun terakhir.

Hingga 9 bulan pertama 2025, industri asuransi umum telah membukukan pertumbuhan pendapatan premi 6,3% secara tahunan mencapai Rp84,72 triliun. Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Budi Herawan sebelumnya optimistis pertumbuhan pendapatan premi asuransi umum bisa tembus angka 8%.

Dengan asumsi pertumbuhan tersebut, berarti pendapatan premi yang ditargetkan mencapai Rp121,89 triliun. Bila hingga kuartal III/2025 realisasi pendapatan premi telah mencapai Rp84,72 triliun, maka tersisa premi sebesar Rp37,17 triliun yang harus dikumpulkan oleh pelaku industri asuransi umum.

Namun demikian, belakangan Budi Herawan pesimistis target tersebut akan dicapai. Dia melihat perkembangan kinerja sejumlah lini bisnis utama asuransi umum tidak begitu baik sehingga akan berpengaruh pada performa pendapatan premi secara keseluruhan sepanjang 2025.

Dia menyoroti kinerja premi asuransi kredit dan suretyship yang melambat akibat implementasi POJK 20/2023 yang ketat sehingga membatasi jumlah pemain dan kapasitas pertanggungan. Di pihak lain, performa lini bisnis asuransi kendaraan bermotor juga terdampak perubahan paradigma dari kendaraan konvensional ke kendaraan listrik.

Ditambah lagi pada lini bisnis asuransi harta benda, sambung dia, sektor korporasi melakukan efisiensi anggaran yang ketat sehingga berdampak pada belanja produk asuransi harta benda.

"Rasanya kalau saya lihat mapping minggu lalu kayaknya akan lebih di bawah tahun 2024 tapi kita harus realistis ya karena memang banyak sekali indikator yang memang menjadi pertimbangan kenapa asuransi (umum) tidak terjadi pertumbuhan year on year-nya bisa sama dengan tahun lalu," jelasnya dalam acara Insurance Outlook 2026, Senin (22/12/2025).

Fase New Normal Growth

Merujuk data AAUI, pertumbuhan premi asuransi umum tercatat fluktuatif pascapandemi Covid-19. Kinerja premi sempat mengalami kontraksi minus 3,6% pada tahun 2020 akibat pandemi. Perlahan, performa pertumbuhan rebound menjadi 1,7% pada 2021 dengan nilai premi sebesar Rp78,14 triliun dibandingkan dengan 2020 sebesar Rp76,83 triliun.

Pada 2022 dan 2023, pendapatan premi asuransi umum berhasil membukukan pertumbuhan double digit masing-masing di angka 15,3%. Bahkan pada 2023 nilai pendapatan premi berhasil tembus angka Rp103,87 triliun.

Lonjakan pertumbuhan premi pada 2 tahun tersebut disokong oleh peningkatan premi dari lini bisnis asuransi kredit yang pada tahun 2023 tembus di angka Rp22,38 triliun.

Lalu pada 2024 kinerja pendapatan premi asuransi umum mulai melambat ke single digit di level 8,7%. Perlambatan pertumbuhan ini sejalan dengan penurunan sebesar 3,2% kinerja premi asuransi kredit menjadi Rp21,66 triliun.

Hingga September 2025, lini bisnis asuransi kredit baru membukukan pendapatan premi sebesar Rp13,54 triliun atau kurang Rp8,12 triliun untuk setidaknya menyamai kinerja tahun lalu. Sementara itu lini bisnis asuransi kendaraan membukukan premi sebesar Rp14,11 triliun per September 2025 atau kurang Rp6,03 triliun untuk menyamai kinerja 2024.

Lalu lini bisnis properti atau harta benda telah membukukan pendapatan premi sebesar Rp24,76 triliun per September 2025 atau kurang Rp5,6 triliun untuk menyamai kinerja 2024.

Dengan melihat performa pendapatan premi dari tiga lini bisnis utama asuransi umum per September 2025 tersebut rasanya pesimisme Bos AAUI cukup beralasan.

Implementasi POJK 20/2023 tentang asuransi kredit dan suretyship memang cukup berdampak signifikan terhadap perlambatan premi asuransi kredit, sedangkan tren penurunan penjualan kendaraan bermotor konvensional karena adanya peralihan ke kendaraan listrik juga berdampak signifikan terhadap performa lini asuransi kendaraan bermotor.

Sementara itu, dampak efisiensi perusahaan terhadap belanja asuransi properti juga sudah terekam dalam performa per September 2025.

Faktor lain yang tampaknya akan mengoreksi dan membentuk fase new normal growth dalam kinerja pendapatan premi industri asuransi umum di masa-masa mendatang adalah dampak implementasi IFRS 17 atau PSAK 117. Pasalnya, terdapat perubahan metode pencatatan pendapatan premi berdasarkan umur pertanggungannya. Berbeda dengan PSAK sebelumnya yang membukukan pendapatan premi di awal.

(ach/ach)

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research