REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kemenangan dramatis Argentina atas Inggris pada semifinal Piala Dunia diwarnai kontroversi. Juara bertahan itu kini terancam menghadapi sanksi FIFA setelah dua pemainnya, Cristian Romero dan Giovani Lo Celso, membentangkan spanduk bertuliskan "Las Malvinas son Argentinas" saat merayakan kemenangan di lapangan.
Argentina memastikan tiket ke final setelah bangkit dari ketertinggalan dan menang 2-1 atas Inggris. Tim asuhan Lionel Scaloni sempat tertinggal akibat gol Anthony Gordon, tetapi mampu membalikkan keadaan lewat gol-gol Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez pada enam menit terakhir waktu normal.
Kemenangan tersebut mengantarkan La Albiceleste melaju ke final untuk menghadapi Spanyol. Namun, euforia seusai pertandingan justru memunculkan persoalan baru.
Dalam selebrasi di lapangan, Cristian Romero dan Giovani Lo Celso terlihat mengangkat spanduk bertuliskan "Las Malvinas son Argentinas" atau "Malvinas (Falkland) adalah milik Argentina." Lo Celso bahkan kemudian meletakkan spanduk tersebut di atas lapangan di hadapan para pendukung Argentina.
Aksi itu dinilai berpotensi melanggar regulasi FIFA yang melarang penggunaan simbol, slogan, maupun pesan politik di dalam stadion.
Sebelumnya, FIFA juga telah menunjukkan ketegasannya selama turnamen dengan melarang masuk sebuah bendera Inggris bergambar logo Barrow AFC yang memuat ilustrasi kapal selam karena dianggap mengandung muatan politik.
Kasus yang menimpa Argentina diperkirakan akan dilaporkan kepada FIFA untuk diproses lebih lanjut.
Aturan IFAB Law 4 secara tegas menyebutkan bahwa pesan atau gambar yang bersifat politik, agama, maupun pribadi tidak boleh ditampilkan di lapangan pertandingan. Seorang pemain yang menunjukkan pakaian, spanduk, atau benda lain yang memuat pesan tersebut dapat dikenai sanksi, begitu pula timnya.
Sebelum pertandingan berlangsung, pelatih Argentina Lionel Scaloni sebenarnya telah berusaha meredam tensi dengan menegaskan bahwa duel melawan Inggris tidak seharusnya dikaitkan dengan konflik Kepulauan Falkland.
"Ini pertandingan sepak bola. Saya tidak bisa mencampuradukkan keduanya demi menghormati apa yang terjadi bertahun-tahun lalu. Itu adalah masa yang sangat menyedihkan dalam sejarah kami, dan mencampuradukkan keduanya dengan pertandingan akan menjadi kegilaan," kata Scaloni.
Menurut Scaloni, rakyat Argentina tentu mengenang mereka yang gugur dalam perang Falkland 1982. Namun, ia menegaskan para pemain generasi sekarang tidak memiliki hubungan dengan konflik tersebut sehingga isu politik tidak seharusnya dibawa ke lapangan sepak bola.

3 days ago
13















































