Selat Hormuz dan Konflik Regional yang Mengguncang Tatanan Global

7 hours ago 4

Oleh : Azis Subekti, Anggota DPR RI Komisi II, Fraksi Gerindra, Daerah Pemilihan Jawa Tengah VI

REPUBLIKA.CO.ID, Di peta dunia, Selat Hormuz tampak hampir seperti garis tipis yang mudah terlewat oleh mata yang tergesa. Ia hanyalah celah air yang memisahkan pantai Iran di utara dan Oman di selatan. Namun seperti banyak tempat lain dalam sejarah manusia, justru ruang-ruang yang sempit sering memikul beban yang terlalu besar bagi ukurannya.

Di jalur air itulah hampir seperlima minyak dunia bergerak setiap hari.

Kapal-kapal tanker raksasa berlayar perlahan dari pelabuhan-pelabuhan di Teluk Persia menuju pasar energi global. Mereka membawa bahan bakar bagi pabrik-pabrik di Asia, kendaraan di Eropa, dan sistem ekonomi modern yang tak lagi bisa hidup tanpa energi fosil dalam jumlah besar. Jalur ini begitu penting sehingga setiap ketegangan kecil di sana segera terasa di pasar energi dunia.

Namun Selat Hormuz tidak hanya membawa minyak. Ia membawa sejarah.

Sejak berabad-abad lalu kawasan ini telah menjadi persimpangan kekuatan besar. Kekaisaran Persia pernah memandang wilayah ini sebagai bagian dari ruang geopolitiknya. Pedagang dari berbagai peradaban melintasi jalur laut di sekitar Teluk Persia jauh sebelum negara-negara modern lahir. Dalam arti tertentu, kawasan ini telah lama menjadi tempat di mana perdagangan, kekuasaan, dan sejarah saling bertemu.

Hari ini, persimpangan itu kembali terasa semakin tegang.

Di utara berdiri Iran—sebuah negara yang tidak hanya melihat dirinya sebagai aktor politik modern, tetapi juga sebagai pewaris peradaban Persia yang panjang. Kesadaran sejarah semacam itu sering memberi sebuah bangsa perspektif waktu yang berbeda. Konflik tidak selalu dipandang sebagai peristiwa sesaat, melainkan sebagai bagian dari perjalanan panjang martabat nasional.

Di sisi lain, Amerika Serikat tetap hadir sebagai kekuatan militer utama yang menjaga stabilitas jalur pelayaran global. Armada lautnya telah lama berpatroli di kawasan Teluk untuk memastikan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka bagi perdagangan internasional.

Namun stabilitas seperti ini tidak pernah sepenuhnya sederhana.

Hubungan antara Iran dan Amerika Serikat telah lama diwarnai ketegangan sejak Revolusi Iran 1979. Sanksi ekonomi, konflik proksi di berbagai wilayah Timur Tengah, hingga serangkaian insiden militer membuat hubungan kedua negara berada dalam keadaan yang jarang benar-benar stabil.

Di tengah ketegangan itu, Israel juga melihat Iran sebagai ancaman strategis jangka panjang terhadap keamanannya. Bagi Israel, pengaruh Iran di kawasan—terutama melalui jaringan sekutu regionalnya—menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan dalam kalkulasi keamanan nasional.

Ketika ketiga aktor ini bergerak dalam ruang geopolitik yang sama, Selat Hormuz dengan sendirinya berubah menjadi salah satu titik paling sensitif dalam sistem internasional.

Namun yang membuat situasi ini semakin kompleks adalah kenyataan bahwa dunia yang mengelilinginya juga sedang berubah.

Selama beberapa dekade setelah berakhirnya Perang Dunia Kedua, stabilitas global sebagian besar bertumpu pada dominasi Amerika Serikat. Jalur perdagangan utama dunia, termasuk Selat Hormuz, berada dalam sistem keamanan yang pada akhirnya dijaga oleh kekuatan militer Amerika.

Tetapi dominasi semacam itu tidak pernah berlangsung selamanya dalam sejarah.

Dalam beberapa tahun terakhir, para analis mulai berbicara tentang kemungkinan bahwa dunia sedang memasuki fase transisi kekuatan global. Persaingan antara Amerika Serikat dan Tiongkok semakin terasa dalam bidang ekonomi, teknologi, dan geopolitik. Rusia juga kembali memainkan peran yang lebih aktif dalam berbagai konflik internasional.

Dalam situasi seperti ini, konflik regional sering memiliki arti yang lebih luas daripada yang terlihat di permukaan.

Ketegangan di sekitar Selat Hormuz bukan hanya tentang Iran dan Amerika Serikat. Ia juga berkaitan dengan bagaimana kekuatan-kekuatan besar membaca perubahan dalam tatanan dunia.

Selat ini menjadi semacam panggung kecil tempat berbagai kepentingan global bertemu.

Di satu sisi, ia adalah jalur energi yang vital bagi ekonomi dunia. Di sisi lain, ia adalah ruang geopolitik di mana rivalitas kekuatan besar dapat muncul dalam bentuk yang paling konkret.

Yang membuat situasi ini semakin menarik adalah kenyataan bahwa stabilitas di sekitar selat ini selama beberapa dekade terakhir sering dianggap sebagai sesuatu yang hampir otomatis. Dunia terbiasa dengan asumsi bahwa jalur minyak dari Teluk Persia akan selalu terbuka.

Namun sejarah jarang berjalan berdasarkan asumsi.

Jika ketegangan di kawasan ini meningkat, Selat Hormuz dapat berubah dari jalur perdagangan menjadi titik krisis global. Gangguan terhadap aliran energi dari kawasan Teluk dapat memicu guncangan ekonomi yang terasa jauh melampaui Timur Tengah.

Di sinilah kita mulai melihat bahwa selat sempit ini sebenarnya memikul arti yang jauh lebih besar daripada ukurannya di peta. Ia adalah titik di mana energi dunia, memori sejarah Persia, dan rivalitas geopolitik modern bertemu dalam satu ruang yang sama.

Dan mungkin justru di tempat seperti inilah kita dapat melihat bagaimana dunia sedang berubah.Karena kadang sejarah tidak bergerak melalui peristiwa besar yang langsung mengguncang dunia.

Sering kali ia bergerak perlahan—melalui jalur-jalur sempit seperti Selat Hormuz—tempat di mana kepentingan ekonomi, ambisi geopolitik, dan ingatan panjang bangsa-bangsa bertemu dan membentuk arah masa depan.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research